Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #66

Dosa yang Akhirnya Dikisahkan

Iselda sedikit mengangkat pandangan.


Namun, matanya sama sekali tidak menatap apa pun, seolah sedang melihat sesuatu yang terlampau jauh... terlalu lama.


Ingatannya melesat melintasi waktu, kembali pada dua puluh satu tahun yang lalu.


Saat itu, ia masih menimba ilmu di Wilayah Tengah.


Tahun kelima.


Tahun terakhir sebelum ia resmi dinyatakan lulus dari Balai Ilmu.


Malam itu, seperti biasa, kelompoknya mendapat giliran berjaga di Balairung Khazanah.


Sebagian besar murid telah kembali ke wisma masing-masing sejak lonceng malam dibunyikan. Lorong-lorong batu yang menghubungkan setiap balairung telah lengang. Cahaya obor bergoyang pelan, diterpa embusan angin gurun yang berembus dingin.


Malam itu seharusnya tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya.


Mereka hanya perlu berkeliling mengawasi kawasan Balairung Khazanah hingga fajar menyingsing. Setelah itu, mereka dapat beristirahat sejenak sebelum kembali mengikuti pelajaran seperti biasa.


Namun, malam itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.


Iselda dan empat rekan sekelompoknya tengah menyusuri kawasan di sekitar Balairung Khazanah, menjalankan giliran jaga yang menjadi tanggung jawab setiap murid tingkat akhir.


Hingga...


Sebuah dentuman keras memecah kesunyian.


Langkah mereka serentak terhenti.


Kelima pasang mata saling bertemu sesaat.


Tak satu pun memberi aba-aba.


Mereka langsung berlari menuju sumber suara.


Sesampainya di sana, gerbang Balairung Khazanah telah terjeblak terbuka.


Mereka membeku.


Gerbang itu telah dipasangi mantra berupa simbol-simbol sihir yang hanya dapat dibuka atas izin para penjaga.


Namun, kenyataan yang terpampang di hadapan mereka justru sebaliknya.


Pintu batu itu menganga lebar.


Asap tipis masih mengepul di udara. Simbol-simbol sihir yang terukir pada permukaannya berpendar redup, berkedip beberapa kali sebelum perlahan kehilangan cahaya dan lenyap sepenuhnya.


Tak seorang pun berbicara.


Mereka hanya saling bertukar pandang.


Namun, latihan selama bertahun-tahun membuat mereka tak membuang waktu.


Dalam satu gerakan, masing-masing segera mengambil posisi.


Dengan suara yang nyaris tak lebih keras daripada embusan napas, Iselda memberi perintah.


"Samir. Periksa apa yang terjadi."


Pemuda itu mengangguk singkat.


Sesaat kemudian, tubuhnya diselimuti cahaya putih yang tipis. Sinar itu merambat dari kaki hingga kepala, membuat sosoknya perlahan memudar, lalu lenyap begitu saja dari pandangan.


Empat orang yang tersisa tetap bertahan di tempat.


"Apa tidak sebaiknya kita membunyikan lonceng tanda bahaya?" tanya Kenanga pelan. Tatapannya terus menyapu keadaan sekitar.


Iselda menggeleng.


"Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lebih baik memastikan keadaannya terlebih dahulu. Bukankah itu memang tugas kita?"


Selesai berbicara, ia kembali mengamati Balairung Khazanah.


Matanya bergerak perlahan dari gerbang yang rusak, dinding-dinding batu, hingga ke puncak bangunan.


Beberapa saat kemudian...


Sesuatu menarik perhatiannya.


Sesosok bayangan melesat ringan di atas atap batu balairung.


Sosok itu melompati kubah-kubah kecil yang berjajar di sepanjang sisi bangunan, kemudian berpindah ke tepian atap berikutnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun.


"Apa kita hanya akan menunggu?" bisik Maelor. "Aku mulai mengkhawatirkan Samir. Sejak tadi dia belum memberikan kabar."


"Ssst..."


Iselda mengangkat satu tangan tanpa mengalihkan pandangan.


"Diam. Ada yang datang."


Keempat rekannya langsung memahami isyarat itu.


Dalam sekejap, senjata-senjata kecil telah berpindah ke tangan mereka.


Tak ada lagi suara.


Hanya desir angin malam yang menyapu pelataran batu.


Bayangan itu semakin dekat.


Ia meloncat turun dari atap, lalu berlari menembus lorong-lorong balairung dengan langkah yang begitu ringan hingga nyaris tak terdengar. Beberapa saat kemudian, sosoknya muncul di serambi yang membentang di depan Balairung Khazanah.


Di bawah cahaya bulan, wajahnya perlahan mulai terlihat jelas.


Ketegangan di wajah Iselda pun mencair.


Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar teman-temannya menurunkan kewaspadaan.


Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terembus pelan.


"Haruko..."


Nada suaranya terdengar lembut, meski masih menyimpan rasa ingin tahu.


"Apa yang kaulakukan di sini?"


Pemuda itu tampak sedikit terkejut.


Namun, sesaat kemudian, senyum canggung mengembang di wajahnya.


"Iselda?" ujarnya. "Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini. Jadi... malam ini kelompokmu yang mendapat giliran jaga?"


Nada bicaranya masih dipenuhi rasa sungkan.


Bagaimanapun juga, ia baru murid tingkat kedua, sedangkan mereka adalah murid-murid tingkat akhir.


"Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Iselda tenang. "Apa yang kaulakukan di sini?"


Haruko mengusap tengkuknya pelan.


"Aku tidak bisa tidur, jadi keluar mencari udara malam."


Pandangannya kemudian beralih ke gerbang Balairung Khazanah yang telah terbuka.


"Lalu aku mendengar suara ledakan."


Keningnya berkerut.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Kami juga baru saja tiba..."


Kalimat Iselda terputus.


Sebuah hawa dingin tiba-tiba merambat di sepanjang tengkuknya.


Nalurinya berteriak.


Ada sesuatu.


Iselda berputar secepat kilat.


Matanya langsung membelalak.


Di atas tembok Balairung Khazanah berdiri sesosok makhluk bertubuh tinggi besar.


Bentuknya menyerupai manusia.


Namun, sepasang sayap kelabu membentang lebar di punggungnya. Matanya yang merah dan cekung menatap mereka tanpa sedikit pun emosi.


Tak seorang pun menyadari sejak kapan makhluk itu berada di sana.


"Siluman..." desis keempat penjaga Balairung Khazanah itu hampir bersamaan.


Iselda dan teman-temannya segera mencabut senjata-senjata kecil dari balik jubah masing-masing.


Haruko mengikuti arah pandang mereka.


Lalu...


Ia menatap lurus ke arah sosok bersayap itu.


"Kenapa kau kembali?" tanyanya datar.


Tak ada lagi kegugupan.


Tak ada lagi senyum canggung.


Suaranya kini dingin. Sama sekali bukan suara pemuda yang beberapa saat lalu tampak kikuk di hadapan seniornya.


"Apa kalian sudah menemukannya?"


Siluman itu menggeleng pelan.


"Belum."


Tatapan merahnya bergeser kepada Iselda dan kelompoknya.


"Bantulah Ravola."


Sesaat kemudian, seringai tipis terukir di wajahnya.


"Biar aku yang mengurus anak-anak ini."


Suara siluman itu terdengar berat dan parau, seolah keluar dari tenggorokan makhluk yang memang tak pernah diciptakan untuk berbicara seperti manusia.


Iselda tersentak.


Rasa dingin menjalar di sepanjang punggungnya.


Jantungnya seolah terjatuh.


Perlahan...


Ia menoleh ke arah Haruko.


"Kau..." Suaranya tercekat. "Kau mengenal siluman itu?"


Haruko mengembuskan napas panjang, seolah menyesali apa yang hendak diucapkannya.


"Seandainya aku tahu malam ini giliran kelompokmu yang berjaga," ujarnya pelan. "Mungkin aku akan menunda pekerjaan ini barang sehari."


Iselda membeku.


Tatapannya terpaku pada pemuda di hadapannya.


Namun, yang memenuhi benaknya justru potongan-potongan kenangan selama dua tahun terakhir.


Haruko yang canggung.


Pemalu.


Sedikit ceroboh.


Ia teringat saat pertama kali membantu Haruko memunguti barang-barang yang berjatuhan dari pelukannya.


Teringat bagaimana mereka beberapa kali menyusuri lorong-lorong Balairung Khazanah, mencari naskah-naskah untuk bahan pelajaran, sementara ia dengan sabar menjelaskan bagian-bagian yang belum dipahami pemuda itu.


Teringat pula suatu sore ketika, dengan wajah memerah karena malu, Haruko memintanya menemaninya mencari sebuah arsip tua di Balairung Khazanah.


Iselda selalu menyukai semangat belajar pemuda itu.


Keluguannya.


Kecanggungannya.


Hal-hal sederhana yang membuatnya tampak begitu... manusia.


Namun kini...


Semua kenangan itu seolah runtuh dalam sekejap.


Dadanya mendadak terasa nyeri.


Haruko yang dikenalnya...


Seolah tak pernah benar-benar ada.


Jemarinya perlahan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.


"Katakan..." bisiknya lirih. "Katakan kau dipaksa melakukan semua ini."


Haruko hanya menggeleng pelan.


"Sayangnya..." ujarnya dengan senyum tipis. "Tak seorang pun memaksaku."


Ia menatap Iselda tanpa sedikit pun keraguan.


Pemuda itu melangkah setindak mendekati Iselda.


Tatapannya tak lagi dipenuhi kecanggungan seperti yang selama ini dikenalnya.


"Terima kasih..." ujarnya lirih. "Berkat kaulah akhirnya aku bisa berhenti berpura-pura menjadi orang lain."


Tubuh Iselda gemetar.


Bukan karena takut.


Melainkan amarah yang terus membuncah di dalam dadanya.


"Keparat!"


Teriakannya menggema, memecah kesunyian malam.


Rahangnya mengatup keras.


Urat-urat di lehernya menegang.


"Kenanga! Cepat bunyikan lonceng tanda bahaya!"


Tanpa mengalihkan pandangan dari Haruko, ia mengangkat tangan dan menunjuk Maelor serta Runa.


"Kalian berdua! Hadapi siluman menjijikkan itu."


Tatapannya kembali mengunci Haruko.


Amarah yang membara di matanya nyaris tak lagi dapat dibendung.


"Biar aku sendiri yang memberi pelajaran kepada pengkhianat ini!"

Lihat selengkapnya