Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #67

Perut Tebing Kapur



Iselda mengembuskan napas panjang.


Perlahan, pikirannya meninggalkan malam itu dan kembali pada tubuhnya yang kini duduk di dalam tenda di Wilayah Selatan.


Keheningan menyelimuti mereka.


Tak seorang pun berinisiatif membuka suara. Bahkan hujan di luar tenda seolah ikut menahan diri. Rintiknya mereda, menyisakan desir lembut yang nyaris tak terdengar.


Hingga akhirnya suara Iselda memecah lengang.


"Jadi... Anak Muda." Mata kanannya menatap Kael tajam. "Bagian mana dari ceritaku yang membuatmu menyimpulkan bahwa aku merasa bangga dengan luka ini?"


Ia mengangkat tangan, lalu menunjuk sisi wajahnya yang rusak dan menghitam.


Kael menggigit bibir.


Untuk pertama kalinya, kata-kata tajam yang biasa meluncur begitu saja darinya seakan lenyap. Ia berkedip beberapa kali, sementara beberapa pasang mata terang-terangan tertuju kepadanya.


Namun kecanggungan itu segera dipatahkan oleh suara Iselda.


"Sudahlah. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku tidak membutuhkan belas kasihan dari kalian."


Anehnya, kali ini suaranya terdengar sedikit lebih lunak.


Beberapa orang langsung mengembuskan napas lega. Sejak tadi mereka benar-benar khawatir percakapan itu akan berakhir dengan baku hantam.


"Kenapa kau tidak pernah menceritakan ini semua?" tanya Reeve Bernno. Nada suaranya dipenuhi keprihatinan terhadap nasib teman lamanya.


Sesaat kemudian, ia menambahkan, "...Tapi sekarang aku mengerti. Memang tidak mudah mengorek luka lama."


Iselda menggeleng pelan.


Reeve Bernno mengernyit. "Lalu?"


"Aku tidak secengeng itu sampai tak sanggup menceritakannya. Bukan itu masalahnya."


Iselda enggan mengakui bahwa setelah menceritakan semuanya, seolah ada beban yang sedikit terangkat dari pundaknya. Meski demikian, ia tahu pengakuan itu tidak mengubah apa pun.


"Aku telah disumpah untuk tidak menceritakan semua ini. Baik kepada teman-teman di Balai Ilmu, kepada orang-orang di desa, maupun kepada siapa pun."


Beberapa orang saling berpandangan.


"Jadi... apa menurutmu mereka sengaja merahasiakan semua ini karena takut kewibawaan Wilayah Tengah runtuh?" ucap Reeve Kaeroth pelan.


"Ya, kurasa juga begitu," jawab Iselda sambil mengangguk singkat.


"Aku masih tidak mengerti."


Kael kembali bersuara. Kali ini nada bicaranya jauh lebih hati-hati.


"Apa sebenarnya yang dicari Drevorn dan Ravola di sana? Maksudku... gulungan itu. Apa isi gulungan tersebut?"


Tatapan Iselda beralih kepadanya. Kael tampak sedikit kikuk di bawah sorot mata itu.


"Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu. Ada ribuan gulungan di Balairung Khazanah."


Iselda menggeleng pelan.


"Anehnya, para cendekia pun mengaku tidak mengetahui gulungan apa yang tiga makhluk biadab itu ambil dari sana. Atau... mungkin sengaja menutupinya."


"Apa kau tidak pernah mencoba mencari tahu?" tanya Reeve Osric.


Tatapannya menyipit penuh pertimbangan.


"Tidak mungkin gulungan itu tidak berarti apa-apa. Mereka bahkan rela menyelundupkan seseorang ke dalam Balai Ilmu selama bertahun-tahun."


Keheningan kembali turun.


Namun, berbeda dengan para pemimpin yang sibuk memikirkan gulungan misterius itu, perhatian Ayra justru tertuju pada nama-nama yang muncul dalam cerita Iselda.


Balairung Khazanah.


Samir.


Kenanga.


Haruko.


Gurun pasir.


Kubah.


Entah mengapa, semua nama itu terasa begitu akrab di telinganya. Seolah ia pernah mendengarnya di suatu tempat yang sangat jauh.


Kenanga...


Bukankah itu nama bunga di Indonesia?


Lalu Haruko.


Shuriken.


Ingatan-ingatan lama perlahan bermunculan, saling bertaut seperti kepingan-kepingan yang selama ini tercerai.


Apakah benar Wilayah Timur berisi orang-orang Asia?


Kalau begitu...


Apakah mungkin, jika ia pergi ke Wilayah Timur... ia bisa kembali ke dunianya?


Ayra menggeleng pelan.


Dadanya dipenuhi antusiasme sekaligus ketakutan.


Bagaimana jika semua ini hanyalah angan-angan?


Atau sekadar dugaan yang terlalu dipaksakan?


Lihat selengkapnya