Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #68

Berdiri di Hadapan Kebencian

Begitu keluar dari tenda, hawa dingin sisa hujan langsung menyambut mereka.


Langit merah muda masih dipenuhi awan kelabu yang menggantung rendah. Sesekali kilatan petir menyala jauh di balik gugusan bukit kapur, disusul gemuruh yang perlahan memudar bersama embusan angin malam.


Di hadapan mereka, puluhan tenda darurat berdiri tak beraturan di tanah lapang. Kain-kain penutupnya masih basah, sementara tetesan air terus menitik dari setiap sudut. Beberapa penduduk yang belum terlelap mengintip dari balik bukaan tenda, memperhatikan rombongan para Reeve yang satu per satu melangkah keluar. Sebagian lainnya masih sibuk membereskan barang-barang yang porak-poranda diterpa badai.


Reeve Kaeroth berjalan paling depan sambil membawa sebuah obor. Nyala apinya bergoyang pelan diterpa angin malam, memantulkan cahaya keemasan di sepanjang jalan berbatu yang masih basah. Di barisan paling belakang, Reeve Osric membawa obor lain sehingga rombongan tetap diterangi dari dua arah.


Jalan setapak itu tampak gelap dan mengilap oleh sisa hujan. Cahaya kedua obor memantul di permukaan batu kapur yang lembap, membuat setiap pijakan terlihat lebih jelas. Hampir tak ada genangan. Air telah meresap ke sela-sela tanah kapur yang kering, menyisakan udara yang lebih sejuk, berpadu dengan aroma batu basah dan wangi dedaunan zaitun yang terbawa angin.


Iselda menghentikan langkah.


Rombongan di belakangnya pun ikut berhenti.


Perempuan itu menoleh ke arah Kael, Senna, dan Ayra yang berjalan paling belakang.


"Marilah. Jangan berjalan selamban itu. Tunjukkan jalannya."


Nada suaranya tetap datar, tetapi kejengkelan yang tersimpan di baliknya begitu kentara.


Ketiganya saling berpandangan sejenak.


Kael mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia melangkah mendahului Ayra dan Senna, lalu berjalan mendekati Reeve Kaeroth untuk memandu rombongan menuju Tebing Kapur. Senna dan Ayra segera mengikuti di belakangnya, sementara rombongan kembali bergerak dalam keheningan.


Sepanjang perjalanan, Ayra tak mengucapkan sepatah kata pun. Udara dingin yang bercampur aroma tanah basah dan daun zaitun sama sekali tak mampu meredakan detak jantungnya yang terus bertalu.


Ia tahu benar betapa tinggi dan curamnya tebing itu. Setelah hujan, mendakinya tentu jauh lebih berbahaya. Bahkan pada hari biasa pun permukaan batu kapur tersebut nyaris mustahil dipanjat. Seingatnya, hampir tak ada tonjolan batu yang cukup aman untuk dijadikan pijakan.


Cepat atau lambat, Senna atau yang lain pasti akan memintanya membawa mereka langsung menuju gua yang berada jauh di atas, di dalam perut tebing.


Ayra mengembuskan napas panjang.


Seandainya keadaannya berbeda, tentu ia akan dengan senang hati mengantar mereka ke sana.


Namun bayangan kejadian siang tadi terus berputar di benaknya.


Bocah yang tanpa sengaja terkena putaran rantainya.


Ibunya yang disengat tawon saat berusaha mencarinya.


Lalu semua peristiwa yang menyusul sesudahnya.


Orang-orang yang menghilang karena ia tak mampu mengendalikan sihirnya.


Orang-orang yang mati karena gagal ia lindungi.


Ayra menggigit bibir bawahnya.


Meski Nyonya Xanthe telah berkali-kali berusaha menghiburnya, rasa bersalah itu tetap menyesakkan dadanya.


Perlahan ia mengangkat pandangan ke arah Kael dan Senna yang berjalan beberapa langkah di depannya.


Kini ia mengerti.


Betapa berat kehilangan yang selama ini mereka pikul.


Ia akhirnya memahami mengapa keduanya terus saling menyakiti.


Senna hidup dalam rasa bersalah karena lancang menarik Kael kembali dari ambang kematian.


Sementara Kael, yang tak memiliki tempat untuk melampiaskan ketidakberdayaannya, justru menumpahkan seluruh amarahnya kepada Senna, satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.


Lamunannya buyar ketika suara Kael memecah kesunyian.


"Di sinilah tempatnya."


Reeve Kaeroth mengangkat obornya setinggi mungkin. Cahaya keemasan itu menyapu dinding tebing kapur, tetapi hanya mampu menerangi bagian bawahnya. Mulut gua yang berada jauh di atas, menjorok ke dalam perut tebing, tetap nyaris tak terlihat di balik pekatnya malam.


Semua orang serempak mendongak.


Tanpa mereka sadari, beberapa orang menginjak sebuah simbol yang terukir samar di atas batu kapur. Begitu telapak kaki menyentuhnya, guratan itu memancarkan cahaya redup sesaat sebelum kembali lenyap, seolah tak pernah ada.


Jauh dari sana, seseorang langsung merasakan getaran halus yang menjalar hingga ke pusat kesadarannya.


Apa yang dilakukan makhluk fana di tempat itu?


Tanpa membuang waktu, sosok tersebut segera berlari menerobos semak-semak yang masih basah menuju tebing yang sama.


"Di mana gua itu?" tanya Iselda.


Kael mengangkat tangan, lalu menunjuk ke atas.


"Itu."


Beberapa orang mengikuti arah telunjuknya.


"Tidak begitu terlihat," gumam Zora.


"Kenapa aku tak pernah menyadari ada gua di sana?" ujar Reeve Kaldos pelan.


"Lihatlah. Letaknya begitu tinggi dan menjorok ke dalam. Siapa pun tak akan menduga ada gua di sana. Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita mencapainya? Aku sama sekali tidak melihat tonjolan batu yang cukup aman untuk dipanjat," sahut Reeve Kaeroth.


Sementara itu, sosok yang memasang simbol sihir tadi akhirnya tiba di kaki tebing. Dengan gerakan nyaris tanpa suara, ia merayap melewati semak-semak yang masih basah sebelum bersembunyi di balik tonjolan tanah yang dipenuhi tanaman liar.


Sepasang mata biru safir mengawasi rombongan itu tanpa berkedip.


"Jangan khawatir. Teman kami dapat membawa kita naik ke sana," ucap Senna.


Gadis yang biasanya begitu peka terhadap perubahan perasaan orang lain itu kali ini luput menyadari kegelisahan Ayra. Ia langsung menoleh ke arahnya.


Beberapa pasang mata pun mengikuti arah pandangnya.


Ayra mengembuskan napas pelan.


Meski telah menduga saat itu akan tiba, tubuhnya tetap menegang. Jemarinya tanpa sadar mengusap tengkuk yang terasa kaku sebelum akhirnya ia memberanikan diri bersuara.


"A-aku... agaknya sedang tidak fit."


Ia berusaha menggunakan bahasa yang lazim dipakai di dunia ini. Namun karena gugup dan belum benar-benar terbiasa, ucapannya terdengar kaku. Tanpa ia sadari, satu kata asing kembali terselip di antara kalimatnya.


Iselda, yang sejak awal memang menaruh curiga kepada Ayra, mendengus pelan.


"Sudah kuduga," ucapnya datar seraya mengalihkan pandangan kepada dua bersaudara Vaylan. "Kalian berdua benar-benar yakin gadis ini tidak tahu-menahu soal gua itu? Atau jangan-jangan justru dialah yang menggiring kalian kembali ke Wilayah Selatan?"


"Apa maksud Anda, Nyonya?" sahut Kael. Nada suaranya mulai mengeras. Baginya, Ayra bukan lagi orang asing. Gadis itu telah berkali-kali membuktikan ketulusannya hingga tak lagi menyisakan sedikit pun keraguan di dalam dirinya.


"Bukalah matamu, anak muda. Jika benar ia ingin membantu, mengapa sekarang ia justru menolak membawa kita ke atas sana?"


"Jangan menyimpulkan sesuatu terlalu mudah. Anda bahkan belum mengenalnya. Apakah Anda sudah mendengar penjelasannya?" balas Kael sambil menatap Iselda tajam.


Ayra hanya terpaku. Ia sama sekali tak menyangka suasana akan memanas secepat ini.


Lihat selengkapnya