Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #69

Sepasang Mata Biru Safir

Sesaat, Ayra dan Iselda saling berpandang.


Meski Ayra berusaha berdiri tegak di hadapan Reeve perempuan itu, rasa takut tetap membelenggu dirinya. Bukan takut kepada perempuan itu. Bukan pula takut jika para Reeve lain menyerangnya. Ketakutan itu jauh lebih sederhana, jauh lebih pribadi. Ketakutan yang telah ia bawa sejak kecil.


Berbulan-bulan menjalani petualangan di dunia asing ini, Ayra hampir tidak pernah lagi merasakan perasaan tersebut. Namun kejadian siang tadi seolah menyeretnya kembali menjadi dirinya yang dulu. Diri yang telah lama ia kubur rapat-rapat. Ingatan tentang Bella, tentang siapa dirinya di dunia asal, tentang bagaimana orang-orang memandangnya, tentang sikap ibu dan ayahnya. Semuanya datang bersamaan, menariknya kembali ke masa yang selama ini berusaha ia tinggalkan.


Air matanya kembali jatuh.


Di belakang Ayra, Kael dan Senna yang sejak tadi bersiaga hanya saling bertukar pandang. Tak satu pun dari mereka melangkah maju. Keduanya memilih menghormati keinginan Ayra untuk menghadapi Reeve perempuan itu dengan caranya sendiri. Padahal, jika ditanya persoalan apa yang sebenarnya sedang terjadi, baik Kael, Senna, maupun para Reeve lainnya sama sekali tidak mengetahuinya. Sebab sesungguhnya, akar dari semua ini hanyalah satu—kebencian Iselda terhadap orang-orang Wilayah Timur, tanpa terkecuali.


Ayra memejamkan mata, lalu menarik napas sedalam mungkin.


Iselda yang memiliki penglihatan jauh lebih peka justru dibuat bingung oleh sikap itu. Ia sama sekali tidak melihat seseorang yang sedang bersiap menyerang. Yang berdiri di hadapannya hanyalah seorang gadis yang tampak tenggelam dalam kenangan.


...Atau mungkin memang itulah kesan yang ingin gadis itu perlihatkan sebelum menyerang, pikir Iselda, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Dan tiba-tiba...


"Aaaaagggghhhhhh!!!"


Jeritan Ayra memecah udara.


Semua orang tersentak. Bukan karena kerasnya suara itu, melainkan karena tak seorang pun menyangka itulah yang akan dilakukan Ayra.


Sesaat kemudian, Ayra justru tertawa.


Tawa yang pahit.


Tawa yang sepenuhnya ditujukan untuk menertawakan dirinya sendiri.


"Aku nggak tahu kenapa Anda begitu membenci aku. Aku nyadar sejak pertama kali Anda masuk ke tenda itu." Napas Ayra memburu. Dadanya naik turun, seolah seluruh beban yang selama ini ia tahan akhirnya pecah dalam satu waktu. "Aku tuh capek! Aku habis bikin orang mati. Apa Anda nggak bisa berempati dikit?"


Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tetapi air mata itu terus mengalir.


"Kenapa!" jeritnya lagi. "Emangnya salah kalau aku mirip orang Wilayah Timur?"


Nada bicaranya terdengar kacau. Ragu. Seperti seseorang yang baru tiba di tempat asing dan dipaksa memahami aturan-aturan yang bahkan belum sempat ia pelajari.


"Aku bahkan bingung emangnya di dunia ini ada berapa wilayah, sih? Aku nggak ngerti apa itu Wilayah Barat, Wilayah Selatan, kalau mereka nggak ngasih tahu aku."


Ayra berbalik dan menunjuk Kael serta Senna.


Begitu pandangannya bertemu dengan keduanya, dadanya seketika terasa sedikit lebih ringan. Mereka berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tidak ikut campur. Tidak menyela. Hanya memastikan bahwa tak seorang pun akan menyakitinya.


Air mata Ayra kembali mengalir.


Dua orang yang paling ia percaya di dunia itu.


Dua orang yang selalu ada, baik saat ia tertawa maupun ketika terluka.


Dua orang yang terus berjalan bersamanya.


Ayra terisak pelan, lalu kembali menatap Iselda.


"Nyonya... apa salahku sebenarnya? Kita baru aja ketemu, tapi Anda udah ketus dan kasar gitu sama aku."

Lihat selengkapnya