Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #70

Perpisahan Dengan Para Reeve

Suasana pagi itu terasa cukup ramai. Di luar tenda, orang-orang sibuk membereskan barang-barang mereka. Sesekali terdengar percakapan ringan yang diselingi tawa kecil. Bukan karena mereka telah melupakan apa yang terjadi kemarin, melainkan karena hidup memang harus terus berjalan.


Meski semalaman tak benar-benar terlelap, Ayra masih berdiam diri di dalam tenda. Ia hanya mendengarkan hiruk pikuk yang terjadi di luar tanpa sedikit pun berniat keluar.


Perasaan bersalah masih memenuhi dadanya.


Belum lagi kejadian semalam, saat akhirnya ia mengungkapkan asal-usul dirinya di hadapan para Reeve.


Sebenarnya itu bukan pengalaman baru. Dahulu, ketika berada di Wilayah Barat, ia juga beberapa kali harus menjelaskan dari mana dirinya berasal. Namun kali ini terasa berbeda. Orang-orang yang mendengarkan bukanlah penduduk biasa, melainkan para Reeve. Para pemimpin desa yang memiliki pengetahuan luas sekaligus rasa ingin tahu yang jauh lebih besar daripada kebanyakan orang.


Ayra memejamkan mata sejenak.


Meski sempat diliputi rasa takut, ia harus mengakui bahwa mengungkapkan semua yang selama ini dipendam terasa begitu melegakan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar meluapkan isi hatinya tanpa menyembunyikan apa pun. Bahkan Iselda, perempuan yang sejak awal paling membencinya, akhirnya tak lagi mampu membalas dengan kata-kata.


Ayra bukan orang yang senang memelihara kebencian, apalagi mencari musuh.


Hidup cuma sekali... capek banget kalau isinya ribut sama orang terus.


Entah mengapa, pikiran itu selalu membawanya kepada sosok sang ayah.


Lelaki itu memang tak pernah mengajarinya banyak hal. Bahkan, sejujurnya, hampir tak pernah memberikan teladan yang layak diikuti. Namun dari kehidupannya, Ayra belajar satu hal yang tak pernah ingin ia ulangi. Terlilit utang, dikejar-kejar orang, lalu terus hidup di tengah masalah yang seolah tak pernah selesai.


Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri.


Ia tidak ingin menjalani hidup seperti itu.


Meski begitu, jauh di sudut hatinya yang paling tersembunyi, masih ada satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar hilang.


...Di mana ya Bapak sekarang?


Sudah hampir lima tahun sejak terakhir kali mereka bertemu.


Yang tertinggal hanyalah masalah demi masalah. Utang yang terus berdatangan hingga membuat ibunya hidup dalam tekanan. Hubungannya dengan sang ibu pun tak pernah benar-benar dekat. Perempuan itu hampir selalu bekerja. Bahkan ketika mereka masih tinggal di rumah kontrakan, kepulangannya tak pernah diiringi pertanyaan sederhana tentang bagaimana harinya atau obrolan hangat seperti yang sering ia lihat dari ibu dan anak lainnya.


Ayra mengusap wajahnya perlahan, lalu menggeleng kecil seolah hendak mengusir semua bayangan yang kembali memenuhi kepalanya.


Tepat saat itulah kain penutup tenda tersibak.


Wajah Senna muncul dari baliknya dengan seulas senyum tipis.


"Hei, mau sampai kapan kau bermalas-malasan? Bergegaslah. Apa kau tidak ingin mengantar kepergian para Reeve? Kael juga sejak tadi sudah ribut menyuruhku segera berkemas. Setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan."


Ayra menatap Senna beberapa saat.


Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyum kecil.


Bagaimanapun juga, melanjutkan perjalanan jauh lebih baik daripada terus tinggal di tempat yang menyisakan begitu banyak kenangan buruk.


Ayra mencebik pelan.


"Ya udah, yuk."


Ia bangkit, merapikan pakaiannya sekadarnya, lalu melangkah keluar dari tenda.


Pandangannya langsung menyapu tanah lapang yang kini tampak jauh lebih lengang. Tenda-tenda yang semalam memenuhi tempat itu hampir seluruhnya telah dibongkar. Hanya beberapa yang masih berdiri, termasuk tenda yang mereka tempati.


"Hei, Nona-Nona. Apa kalian sudah makan pagi?"


Suara Zora membuat Ayra dan Senna menoleh bersamaan.


Gadis itu melambaikan tangan ke arah mereka. Wajahnya tampak jauh lebih ceria dibandingkan kedua kakak lelakinya yang sama-sama pendiam.


"Ibu memintaku mengajak kalian sarapan terlebih dahulu. Para Reeve juga sudah menunggu."


Senna menganggukkan kepala.


"Terima kasih, Nona Muda. Apakah Anda melihat kakak kami?"


"Tadi kulihat dia ada di sana."


Zora mengangkat tangan, menunjuk ke arah sekelompok lelaki yang sedang sibuk bekerja di dapur darurat.


"Kalau begitu, kami akan menyusul kakak kami terlebih dahulu. Tolong sampaikan kepada Nyonya Xanthe bahwa kami akan makan bersama kakak kami saja."


"Tentu."


Zora kembali mengangguk.


"Kalau begitu, permisi."


Setelah berpamitan, gadis itu berbalik dan menghampiri rombongan para Reeve yang telah berkumpul menikmati sarapan.


Diam-diam Ayra mengembuskan napas lega.


Sejujurnya, ia masih terlalu canggung jika harus duduk berlama-lama bersama para Reeve, terlebih setelah semua yang terjadi semalam.


"Duh... kamu emang peka, ya."


Ayra menyenggol pelan lengan Senna.


"Ajarin dong biar aku bisa sepeka kamu."


Senna terkekeh pelan.


"Hal semacam itu tidak bisa diajarkan. Kau harus merasakannya sendiri."


"Oalah... iya, Bu Guru. Si paling peka."


Senna hanya menggeleng sambil tersenyum.


Keduanya pun berjalan berdampingan menghampiri Kael.


*****


Usai menyelesaikan makan pagi, mereka segera membereskan barang-barang untuk melanjutkan perjalanan.


Tak lama kemudian, ketiganya menghampiri para Reeve untuk berpamitan.


Sesampainya di tenda utama, para pemimpin desa itu rupanya telah bersiap kembali ke desa masing-masing.


Reeve Brenno dan Iselda berdiri berdekatan bersama para pengiring mereka. Keduanya tampak siap berangkat lebih dahulu.


Sementara itu, Reeve Osric masih terlihat santai, seolah belum berniat meninggalkan perkemahan. Para pengiringnya pun masih duduk bersama beberapa penduduk, menikmati hangatnya pagi sambil mengobrol ringan.


Ketika Reeve Brenno dan Reeve Iselda berjalan melewati Ayra, Kael, dan Senna, langkah Iselda tiba-tiba terhenti.


Perempuan itu menoleh.


Mata kanannya yang masih berfungsi menatap Ayra lekat-lekat.


Tatapan itu tak lagi setajam semalam. Masih dingin, tetapi ada sesuatu yang perlahan melunak di balik sorot matanya. Meski begitu, Ayra tetap merasa canggung dipandangi sedemikian rupa hingga tanpa sadar ia menggaruk pelan tengkuknya.


"Berhati-hatilah," ucap Iselda datar. "Aku tidak tahu apa yang menunggumu di depan. Kenyataan bahwa kau berasal dari dunia yang berbeda... menurutku itu bukan sekadar sebuah kebetulan."


Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Kael dan Senna.


"Jagalah teman kalian baik-baik."


Tanpa menunggu jawaban, Iselda kembali melangkah meninggalkan mereka.


Reeve Brenno yang berjalan di sampingnya ikut berhenti sejenak. Ia menganggukkan kepala kepada ketiga anak muda itu, lalu menepuk pelan bahu Kael.


"Ada baiknya kalian mengingat nasihat Iselda," ujarnya tenang. "Aku tahu perempuan itu memang kasar. Namun percayalah... yang sebenarnya ia lawan selama ini bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri."


Setelah mengucapkan itu, Brenno kembali menyusul Iselda. Tak lama kemudian, rombongan mereka pun meninggalkan perkemahan.


Ketiga anak muda itu masih memandangi kepergian mereka ketika Reeve Kaeroth menghampiri.


"Kalian hendak melanjutkan perjalanan?" tanyanya.


"Ya, Reeve," jawab Kael singkat.


Kaeroth mengembuskan napas pelan.


Jawaban itu sudah ia duga sejak awal. Ia tahu Kael tak akan menghentikan langkahnya sebelum menemukan Ravola.


Diam-diam, lelaki tua itu justru mengagumi kegigihan kedua bersaudara Vaylan tersebut. Mereka tahu betul siapa yang sedang mereka kejar. Ravola bukan lawan yang dapat dihadapi hanya dengan keberanian. Di belakang elf itu masih berdiri Drevorn, bangsa manusia Tanzaku, dan entah berapa banyak pengikut yang siap mengorbankan nyawa demi tujuan mereka.


Meski demikian, tak sekali pun Kael maupun Senna memperlihatkan niat untuk menyerah.


Kaeroth kembali mengembuskan napas panjang.


Sulit membayangkan bagaimana kedua remaja itu menjalani hidup selama empat tahun terakhir.


Orang tua mereka tewas.


Desa tempat mereka dibesarkan musnah.

Lihat selengkapnya