Satu pekan telah berlalu sejak mereka meninggalkan Olyntas.
Selama perjalanan itu, setidaknya empat desa telah mereka lewati.
Tak satu pun masih berpenghuni.
Rumah-rumah batu berdiri kosong. Sebagiannya hangus terbakar, sebagian lain runtuh menyisakan puing-puing. Lumbung-lumbung dibiarkan terbuka, sementara ladang-ladang yang semestinya dipenuhi para petani kini terbengkalai tanpa seorang pun yang mengurusnya.
Menjelang siang, mereka berhenti di depan sebuah gua kecil di kaki perbukitan kapur. Di sekelilingnya hanya tumbuh semak-semak pendek yang jarang, membiarkan hamparan tanah putih berbatu tampak jelas di sela-selanya.
Matahari Wilayah Selatan mulai terasa menyengat. Panasnya memantul dari permukaan batu kapur hingga membuat udara di sekitarnya seolah bergetar.
Ketiganya pun memilih berteduh di mulut gua sambil beristirahat sejenak.
Tak seorang pun berniat melangkah lebih jauh ke dalam.
Pengalaman beberapa hari sebelumnya masih terlalu membekas. Gua di perut tebing telah membawa mereka berpindah dari Wilayah Barat menuju Wilayah Selatan.
Sejak saat itu, sebuah gua tak lagi sekadar tampak sebagai tempat berteduh.
"Panas banget ya di sini. Beda banget sama Wilayah Barat."
Ayra mengipasi tubuhnya menggunakan jaket yang sedari tadi disampirkan di bahunya.
Di sisinya, Senna mengangguk pelan sebelum menjawab,
"Kau benar. Selamat datang di Wilayah Selatan."
Nada suaranya sengaja dibuat riang, meniru cara Ayra biasanya berbicara setiap kali menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Ayra langsung memanyunkan bibir.
"Heh..."
Ia mendengus pelan, jelas merasa sedang diolok-olok.
Sementara itu, Kael yang duduk agak jauh dari keduanya perlahan menoleh.
Tatapannya jatuh pada wajah Ayra.
Entah mengapa, pandangan itu bertahan beberapa saat lebih lama daripada yang seharusnya.
Tanpa disadari, ingatannya kembali pada malam ketika dirinya dan Iselda saling berhadapan.
Malam ketika Ayra mengungkapkan asal-usulnya di hadapan para Reeve.
"...Kenapa... kenapa, Kael?"
"Karena... karena kau seperti adikku sendiri."
"...Adik... ya."
Percakapan singkat itu kembali terngiang di benaknya.
Kael sendiri tak benar-benar memahami apa yang terjadi saat itu. Namun ia merasa, tepat setelah mengatakan bahwa Ayra telah dianggapnya seperti adik sendiri, raut wajah gadis itu berubah.
Kecewa.
Tetapi...
Kecewa karena apa?
Yang lebih aneh lagi, ia justru ikut kecewa pada dirinya sendiri karena memberikan jawaban itu.
Lalu...
Seharusnya aku menjawab apa?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Sejak malam itu, mereka memang tak pernah lagi menyinggung percakapan tersebut. Namun semakin lama Kael merasa ada sesuatu yang belum selesai.
Ada penjelasan yang seharusnya ia sampaikan.
Bahwa...
Ayra lebih dari sekadar seorang adik baginya.
Pikirannya kemudian melayang pada perdebatan sengit bersama para Reeve di depan mulut gua, tepat di perut tebing.
Saat itu amarah menguasai segalanya. Keinginan memburu Ravola membuatnya menepis setiap nasihat dan kekhawatiran yang mereka sampaikan.
Namun setelah kembali ke tenda malam itu, kemarahan tersebut perlahan mereda.
Yang justru terus memenuhi pikirannya hanyalah percakapan singkat itu.
"...Kenapa... kenapa, Kael?"
"Karena... karena kau seperti adikku sendiri."
"...Adik... ya."
Kael mengembuskan napas pelan.
Ia tak mengerti mengapa tiga kalimat sederhana itu mampu mengusik pikirannya sedemikian rupa.
Selama empat tahun terakhir, balas dendam telah menjadi alasan ia terus melangkah. Tujuan itu tak pernah sekali pun goyah.
Namun beberapa hari terakhir membuatnya melihat sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Bayangan desa demi desa yang mereka lewati kembali memenuhi benaknya.
Rumah-rumah kosong.
Ladang-ladang yang ditinggalkan.
Jejak kehidupan yang seolah terputus begitu saja.
Semua itu menjadi bukti bahwa peringatan para Reeve bukanlah ketakutan yang dibesar-besarkan.
Ravola benar-benar telah meninggalkan luka di mana-mana.
Kael menundukkan pandangan.
Nasihat para Reeve malam itu kembali terngiang di benaknya, bercampur dengan bayangan wajah Ayra yang tampak kecewa setelah mendengar jawabannya.
Perlahan, tanpa benar-benar ia sadari, cara pandangnya dalam menempuh balas dendam mulai berubah.
Selama ini ia hanya memikirkan bagaimana menemukan Ravola secepat mungkin.
Kini ia mulai memahami bahwa mencapai tujuan itu menuntut lebih dari sekadar keberanian dan amarah.
Ada saatnya seseorang harus menahan langkah, membaca keadaan, lalu memilih waktu yang tepat untuk kembali bergerak.
Di sisi lain, Senna yang menyadari tatapan kakaknya begitu lama tertuju pada Ayra akhirnya memilih memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk berbicara lebih leluasa.
Tentu saja ia mendengar percakapan mereka malam itu.
Namun karena situasinya begitu genting, dan ia sama sekali tak ingin mencampuri urusan keduanya, Senna memilih diam seolah-olah tidak mengetahui apa pun.
Mungkin... sekarang waktu yang tepat.
"Sepertinya air minum kita sudah habis. Aku akan mencari air sebentar. Mungkin kalau beruntung kita juga bisa menemukan buah atau semacamnya."
Senna bangkit berdiri. Jemarinya menepuk-nepuk jubah, mengibaskan debu yang menempel.
"Eh, ikutan dong," pinta Ayra spontan.
Senna menoleh sambil tersenyum kecil.
"Kau di sini saja. Aku hanya sebentar."
Tanpa menunggu jawaban, ia kembali melangkah hingga sosoknya perlahan menghilang di balik bebatuan kapur.
Kini hanya Ayra dan Kael yang tersisa di mulut gua.
Keheningan turun begitu saja.