Sementara itu, di mulut gua, Ayra dan Kael masih hanyut dalam perasaan yang begitu indah, begitu dalam, dan begitu membahagiakan.
Tak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan.
Mereka hanya duduk dalam diam. Kedua tangan Ayra masih berada dalam genggaman Kael, seolah tak satu pun dari mereka ingin menjadi orang pertama yang melepaskannya.
Tatapan mereka pun tak lagi dipenuhi rasa canggung.
Kini keduanya saling memandang dengan leluasa.
Saling tersenyum.
Kael menatap wajah gadis itu lekat-lekat, seolah ingin mengingat setiap guratan yang terukir di sana.
Ayra hanya mampu tersipu.
Semakin lama, wajah lelaki itu perlahan semakin mendekat.
Jantung Ayra kembali berdebar tak karuan.
Ia buru-buru berdeham kecil, lalu perlahan menarik kedua tangannya dari genggaman Kael.
"Kenapa?" bisik Kael.
Suaranya terdengar begitu lembut, nyaris seperti helaan napas kecewa yang sulit disembunyikan.
"Eh... Senna kok belum balik, ya?" Ayra buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Kayaknya udah dari tadi deh dia pergi."
Mendengar nama adiknya disebut, raut wajah Kael seketika berubah. Ia tersentak, lalu mengangkat pandangan ke langit.
Entah sejak kapan, awan-awan kelabu mulai berkumpul, menutupi langit merah muda Wilayah Selatan.
"Sepertinya hujan akan turun lagi," ucapnya pelan.
"Lah, padahal katanya lagi musim panas, ya?"
Ayra mengembuskan napas lega dalam hati. Bukan karena tak menikmati kedekatan itu, melainkan karena ia sendiri belum siap jika hubungan mereka berkembang terlalu cepat, terlebih hingga melibatkan sentuhan yang lebih dari itu.
"Ya udah, yuk kita cari. Takutnya dia malah nyasar lagi."
Ayra terkekeh kecil, membayangkan Senna yang entah bagaimana bisa tersesat hanya untuk kembali ke gua.
"Mari."
Kael menggeser tubuhnya sedikit, memberi isyarat agar Ayra berjalan lebih dahulu.
"Apaan sih, Kael. Aku di belakang aja."
"Kenapa?"
"Eh... aku lupa mata airnya di mana." Ayra nyengir kecil. "Hehe."
Sudut bibir Kael terangkat tipis.
"Baiklah. Tetap berjalan di belakangku. Aku justru khawatir kau yang akan tersesat nanti."
"Dih, sombong."
Ayra mencibir sambil memukul pelan punggung lelaki itu.
Tepat pada saat itulah...
DUAAR!!
Suara dentuman keras menggelegar, memecah kehangatan yang baru saja tumbuh di antara mereka.
Keduanya saling berpandangan sesaat. Senyum yang tadi menghiasi wajah mereka seketika lenyap, berganti raut tegang. Tanpa perlu sepatah kata atau aba-aba, mereka langsung berlari menuju arah asal dentuman itu.
*****
Sesaat sebelum dentuman itu mengguncang perbukitan kapur...
Senna berdiri dengan tubuh yang sedikit bergetar. Namun tatapan matanya tetap tajam, keras kepala, seolah tubuhnya tengah mengkhianati keberanian yang ia pertahankan.
"Di mana dua temanmu yang lain?"
Senna memilih bungkam.
Namun tanpa sadar, matanya melirik sekilas ke arah mulut gua.
Senyum tipis terukir di bibir elf itu.
"Begitu rupanya."
Jantung Senna mencelos.
Ia tidak mengatakan apa pun, tetapi satu lirikan kecil ternyata sudah cukup untuk membocorkan keberadaan Kael dan Ayra.
"Apa maumu!" balas Senna. Suaranya bergetar, keluar dari sela-sela giginya yang mengatup rapat.
Elf itu tak langsung menjawab.
Ia hanya menoleh ke arah sosok yang berdiri di sisi kirinya.
"Kau... bantulah gadis ini agar teman-temannya datang."
Senna mengenali makhluk itu dalam sekejap.
Peri zaitun.
Makhluk yang beberapa hari lalu bertarung melawannya bersama Kael.
Di belakang Ravola berdiri seekor belalang sembah raksasa yang menjulang tinggi, sementara di sisi kanannya tampak seorang peri berambut merah. Bunga-bunga aneh terpilin di kepalanya, seolah benar-benar tumbuh dari sana.
Grevillea... batin Senna.
Peri itu tampak jauh lebih lembut dibandingkan peri zaitun. Namun Senna tak sempat menilai lebih jauh.
Peri zaitun itu telah melangkah maju.
Telapak tangannya terbuka menghadap ke atas.
Satu...
Dua...
Tiga...
Butiran-butiran zaitun berpendar hijau kecokelatan perlahan muncul di atas telapak tangannya.
Senna tahu persis.
Biji-biji kecil itu menyimpan daya hancur yang mematikan.
Ketika telunjuk peri itu perlahan mengarah kepadanya...
Senna langsung melompat menghindar.
*****
Kael dan Ayra berlari secepat mungkin menuju arah dentuman itu berasal.
Dari kejauhan, beberapa siluet mulai terlihat berdiri di tengah hamparan batu kapur.
Tatapan Kael langsung tertuju pada Senna.
Adiknya masih berdiri tegak. Dadanya naik turun, napasnya terdengar memburu, tetapi tak sedikit pun ia mundur dari hadapan keempat sosok itu.
"Mereka itu siapa, Kael?" seru Ayra yang berlari tak jauh di sampingnya.
"Itu Ravola... dan anak buahnya."
Semakin dekat, dahi Kael sedikit berkerut.
Ada satu sosok yang tak dikenalnya berdiri di sisi Ravola.
Namun ia tak sempat memikirkannya lebih jauh.
Begitu tiba di hadapan Senna, Kael segera menyerahkan tongkat yang sedari tadi dibawanya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya... aku baik."
"Bagaimana Ravola bisa menemukanmu?"
"Entahlah. Tiba-tiba saja mereka muncul dari ruang kosong," jawab Senna pelan.
Sementara kakak beradik itu berbicara, perhatian Ayra justru terpaku pada empat sosok yang berdiri beberapa langkah di hadapan mereka.
Jadi... ini elf?
Tatapannya mengamati sosok Ravola dari ujung kaki hingga kepala.
Rambut panjang berwarna putih dengan semburat kebiruan.
Mata biru safir.
Serta pakaian yang terbuat dari anyaman serat tumbuhan dan kulit binatang.
Bener juga... mirip banget sama elf di film-film yang pernah aku tonton.
Pandangan Ayra kemudian bergeser ke dua peri yang berdiri di sisi kanan dan kiri Ravola.
Seketika ia teringat pada peri hutan Fey yang pernah ditemuinya di Hutan Velmore.
Berarti peri memang punya bentuk fisik yang hampir sama. Bedanya... hiasan di kepala mereka, ya?
"Hai, anak muda. Bagaimana kabarmu?"
Elf itu tersenyum tipis sambil memberi isyarat kepada peri zaitun agar mundur.
"Aku tidak tahu kenapa," bisik Senna tanpa mengalihkan tatapan dari Ravola. "Tapi... agaknya Ravola sengaja memancing kalian untuk kemari."
"Apa maksudmu?" tanya Kael pelan.
"Sudah kubilang, aku juga tidak tahu pasti. Tapi... sepertinya memang itulah yang terjadi."
Kael terdiam.
Sesaat kemudian, ia melangkah setapak ke depan.
"Apa yang kau cari di sini, Ravola? Apa kau sengaja menguntit perjalanan kami?"
Ia sengaja melempar pertanyaan itu, berharap dapat memancing sesuatu dari lawannya.
Namun Ravola hanya tersenyum.
Senyum yang membuat Kael semakin waspada.
Barulah ia menyadari, sejak tadi sudut mata elf itu tak pernah benar-benar lepas dari Ayra.
Rasa dingin perlahan menjalar di sepanjang punggungnya.
"Aku tidak lupa, anak muda." Senyum Ravola semakin tipis. "Kau masih berutang jawaban kepadaku."
Kael mendengus pelan.
"Ternyata jawabannya tidak sesulit yang kaukatakan." Tatapannya mengeras. "Omong kosong kalau aku harus kembali ke puluhan abad sebelum ini. Aku bahkan menemukan jawaban itu tanpa perlu bersusah payah."
"Begitukah?"
"Apapun tujuanmu datang ke sini..." suara Kael berubah dingin, "...aku tidak peduli. Pergilah."
Ravola terkekeh lirih.
"Bukankah tujuan hidupmu adalah memburu Drevorn dan diriku?"
Ia berhenti sejenak, seolah sengaja memberi waktu agar setiap kata-katanya meresap.
"Atau... tujuan hidupmu telah berubah?"
Tatapan biru safirnya menajam.
"Ataukah pada akhirnya kau menyadari bahwa kau hanyalah manusia yang lemah?" ucapnya tenang. "Bahkan anak buahku saja tak mampu kau kalahkan. Lalu... bagaimana mungkin kau berpikir dapat mengejarku?"
Rahang Kael mengeras.
Giginya bergertakan menahan amarah.
Namun Ravola sama sekali tak terusik.
Perlahan, ia mengalihkan pandangannya dari Kael.
Tatapannya jatuh kepada Ayra.
Seolah gadis itu jauh lebih menarik daripada Kael maupun Senna.
"Siapa namamu, manusia?"
Ayra terkejut. Ia tak menyangka elf itu justru mengajukan pertanyaan kepadanya.
Suara makhluk itu terdengar asing, namun entah mengapa begitu menarik di telinganya. Dalam. Nyaris terdengar tua. Anehnya, suara itu justru terasa begitu merdu.
Sebelum Ayra sempat menjawab, Kael lebih dulu melangkah dan berdiri tepat di hadapan gadis itu, seolah hendak melindunginya dari ancaman apa pun.
Melihat itu, raut wajah Ravola yang semula tenang berubah tipis.
Seolah Kael baru saja merebut sesuatu yang menjadi miliknya.
"Kau pikir bisa melindungi gadis itu?" ucap Ravola tenang. "Jika aku menginginkannya, aku bisa dengan mudah menyingkirkanmu dari hadapannya."
"Kalau begitu, kenapa tidak kaulakukan?" tantang Kael.
Kedua peri di sisi Ravola serempak melangkah maju.
Sementara itu, belalang sembah yang sejak tadi hanya terdiam dengan kedua mata besarnya kini mengeluarkan geraman pelan dari mulutnya yang lebar.
Namun Ravola mengangkat sebelah tangannya.
"Tenanglah." Senyumnya kembali mengembang tipis. "Jangan ganggu permainanku."
Suaranya tetap halus.
Tetap merdu.
Namun setiap katanya terasa setajam belati yang mengiris perlahan.
Mendengar itu, Kael langsung waspada. Jemarinya terangkat, siap mengeluarkan sihirnya kapan saja.
Di sampingnya, Senna menggenggam erat tongkatnya. Tongkat itu ia lintangkan di depan dada, tubuhnya sedikit merendah, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Sementara itu, Ayra yang berdiri di belakang mereka hanya termangu.
Ia tak mengerti mengapa elf itu seolah memiliki ketertarikan khusus kepadanya.
Padahal...
Baru kali inilah mereka saling berhadapan.
Namun Ayra tak bisa terus berdiam diri.
Ia segera melangkah maju, berdiri di sisi Kael dan Senna.
Jika benar elf itulah yang menghancurkan Desa Olyntas, berarti ia bukan lawan sembarangan.
Belum lagi ketiga anak buahnya.
Dua peri...
Dan seekor binatang sakti.
Meskipun Ayra masih diliputi keraguan untuk menggunakan sihirnya akibat kejadian di Desa Olyntas beberapa waktu lalu, ia tak sanggup hanya berpangku tangan saat dua orang yang begitu berarti baginya mempertaruhkan hidup dan mati mereka.
"Aya, tetaplah di belakang kami," seru Kael.
Namun Ayra buru-buru menggeleng.
"Nggak, Kael. Aku bakal ikut berkelahi bareng kalian."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapian. Kamu pikir aku bakal diam aja ngelihat kalian berdua ngadepin monster kayak gitu?"
Mendengar jawaban itu, Senna tersenyum tipis.
Bagaimanapun juga, kehadiran Ayra selalu membawa perubahan bagi kelompok kecil mereka.
Mungkin mereka memang tidak akan menang.
Namun Senna tidak gentar.
Terlebih kini...
Saat mereka tak lagi dibutakan oleh amarah.
Saat mereka mulai menata diri.
Menata hati.
Dan mulai melihat kenyataan apa adanya.
Justru pada saat itulah Ravola datang menghampiri mereka.
Entah mengapa, kenyataan itu membuat Senna semakin geram.
Di sisi lain, Ravola hanya tersenyum.
Senyum yang dipenuhi keyakinan.
Senyum yang meremehkan.
Senyum yang dengan jelas menunjukkan bahwa ketiga manusia di hadapannya bukanlah sesuatu yang perlu ia khawatirkan.
Dengan keanggunan seorang makhluk purba, elf itu melangkah maju.
Salah satu tangannya terangkat, lalu melambai pelan, seolah mempersilakan ketiganya menyerang lebih dulu.
Ketiga remaja itu saling berpandangan.
Kaellah yang bergerak lebih dahulu.
Dari telapak tangannya yang berpendar biru keperakan, dua seberkas cahaya melesat lurus mengarah ke tubuh Ravola.
Namun, bak seorang penari, elf itu hanya meliukkan tubuhnya.
Serangan tersebut melintas begitu saja di sisinya.
Dua peri dan belalang sembah yang berdiri di belakang Ravola segera berpencar menghindar.
DUARRR! DUARRR!
Dua ledakan keras mengguncang perbukitan kapur ketika sihir Kael menghantam bebatuan di belakang mereka. Pecahan batu beterbangan ke segala arah, disusul kepulan debu putih yang membumbung ke udara.
Tanpa membuang waktu, Kael, Senna, dan Ayra segera berlari mendekat.
Serangan demi serangan pun menyusul, mengarah tanpa henti ke tubuh Ravola.
Elf itu hanya tersenyum.
Gerakan tubuhnya tetap lincah. Terlihat santai, bahkan nyaris asal-asalan.
Namun justru dari setiap ayunan tangan, putaran tubuh, dan langkah kakinya terpancar hawa yang cukup membuat ketiganya terus waspada.
Debu kapur beterbangan.
Bebatuan-bebatuan kecil dan semak-semak rendah terserabut dari tempatnya akibat pijakan mereka yang silih berganti.
Di tengah tarian pertarungan itu, Ravola tiba-tiba menangkap tongkat Senna.
Dengan satu tarikan, tubuh gadis itu terseret mendekat.
Postur Ravola yang lebih tinggi dan ramping membuat gerakannya terasa begitu leluasa.
Dalam sekejap...
Sebuah tendangan telak menghantam tubuh Senna.
BUGH!
Tubuh Senna melayang menghantam bebatuan kapur.
Namun gadis itu tak kalah sigap. Di tengah tubuhnya yang masih terlempar, ia buru-buru menyelimuti dirinya dengan pendaran hijau. Cahaya sihir itu membungkus tubuhnya sesaat sebelum punggungnya membentur batu.
Brakk!
Benturan itu tetap terasa keras.
Meski sihir pelindungnya berhasil meredam sebagian besar dampaknya, tendangan Ravola masih sanggup membuat perut Senna seolah dihantam palu godam.
Ia meringis sambil menahan napas.
Kael yang melihat adiknya terpukul seketika menggertakkan gigi.
Dengan geram, ia menerjang Ravola.
Ayra yang berada di sisinya ikut bergerak tanpa ragu.
Keduanya menyerang hampir bersamaan.
Namun Ravola bereaksi jauh lebih cepat.
Dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, elf itu menangkap pergelangan tangan Kael dan Ayra sekaligus.
Sekali hentak, kedua tangan itu ditarik ke bawah.
Di saat yang sama, kedua kakinya terayun cepat.
BUGH! BUGH!
Kael dan Ayra terpental ke belakang, lalu terjerembab di atas hamparan tanah kapur.
"Berniat beristirahat sejenak?" tanya elf itu.
Bahkan setelah bertukar serangan berkali-kali, napasnya tetap tenang. Tak seorang pun dari mereka mendengar helaan napas berat, apalagi melihat tanda-tanda kelelahan di wajahnya.
Kael, Senna, dan Ayra berdiri bersisian. Masing-masing menahan bagian tubuh yang masih berdenyut akibat benturan dengan batu kapur.
"Mari kita bicara sebentar." Ravola tersenyum tipis. "Apa kesimpulan yang kau dapat dari pertanyaan yang kuberikan beberapa waktu lalu?"
"Persetan! Aku tidak sudi menjawabnya!" bentak Kael.
"Jawaban yang menarik." Senyum Ravola tak memudar. "Mari kita lihat... seberapa kuat kalian."
Seketika tubuh elf itu melesat.
Begitu cepat.
Tanpa keraguan.
Gerakannya mengalir begitu saja, seolah tubuhnya bergerak mengikuti naluri, bukan dikendalikan oleh teknik yang rumit.
Kael sontak mengayunkan kedua telapak tangannya bergantian.
Pendar biru keperakan meluncur bertubi-tubi.
DUARR! DUARR! DUARR!
Ledakan demi ledakan mengguncang hamparan batu kapur.
Namun Ravola selalu berhasil menghindarinya.
Liukan tubuhnya nyaris tanpa jeda, seolah setiap serangan telah lebih dahulu diketahui ke mana arahnya.
Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka lenyap.
Ravola telah berada begitu dekat.
Spontan Kael, Senna, dan Ayra mundur beberapa langkah.
Namun elf itu kembali menerjang, seolah melontarkan seluruh tubuhnya ke arah mereka.
Ayra yang berdiri di tengah segera menggenggam tangan Kael dan Senna.
Pendar merah muda beriak sesaat.
Dalam sekejap, tubuh ketiganya menghilang dari tempat semula, lalu kembali muncul beberapa langkah di belakang Ravola.
Kael yang melihat kesempatan itu tak menyia-nyiakannya.