”PRIT!” Abyan menirukan suara peluit, tangan kanannya lurus ke depan dengan telapak yang terbuka. Dia menahan gerakan seseorang.
“Apa?” Seorang di hadapannya, yang terhalang dengan tangan itu, bertanya dengan nada malas. Dominan suaranya bariton, persis seperti suara “pria matang” yang banyak dibicarakan perempuan-perempuan masa kini.
“Babang mau gym, bukan?”
Yang ditanya tidak menjawab. Hanya memasang wajah datar.
“Pulangnya beliin Adek—”
“Martabak manis, coklat keju, gak pakai kacang,” Babang memotong ucapan adiknya.
Abyan menyengir. Dia berjingkrak kecil dan memberikan dua jempol untuk abang keduanya. Ratapan Saghir.
Ini Selasa, pukul 16.30 WIB. Ratapan telah bersiap dengan tas khusus gym yang diselempangkan di salah satu bahu berototnya. Selain otot di bahu, tubuhnya juga memang berotot. Bukan tipe berotot yang sampai satu persen, tetapi cukup membuat kaus boxy kelihatan penuh. Hal tersebut disebabkan karena dia hanya gym setiap Selasa di pukul 17.00 sampai 18.30 dan Jumat di pukul 16.00 sampai 17.30.
“Mau apalagi?” tanya Ratapan dengan alis terangkat satu. Adiknya belum juga menyingkir dari ambang pintu utama rumah.
Bukannya minggir, Abyan malah memajukan wajahnya hingga jarak mereka tersisa lima senti saja. Hidungnya kembang-kempis, mengendus udara di sekitar abangnya dengan terang-terangan seperti seekor anak kucing. “Babang abis mandi, ya? Pakai parfum? Wangi banget. Padahal kalau nge-gym kan nanti keringetan lagi.”
Ratapan mendengus pelan. Dia menempelkan telapak tangannya ke dahi Abyan, mendorong pelan wajah adiknya agar menjauh dari jangkauan sensor penciumannya. “Biar gak bau. Minggir, Adek.”
Abyan akhirnya menyingkir. Begitu dia dilewati abangnya, dia berkata, “Gaya banget pake parfum, padahal barbel juga gak bisa cium bau Babang.”
Ratapan sempat melirik dari sudut matanya, menatap Abyan dengan wajah datar andalannya. "Berisik, Adek," ucapnya pendek. Hanya dua kata itu, sebelum dia memakai helm dan memacu motornya keluar dari gerbang rumah.
Sementara itu, Abyan yang mendengarnya hanya bisa jengkel. Pipinya mengembung, sedangkan kedua tangannya berada di masing-masing pinggang. “Nyebelin!”
Bunyi ketikan keyboard yang ritmis menjadi satu-satunya suara di ruangan itu setelah deru motor Ratapan menjauh.