Tenggelam di Pelupuk Matamu

Ahmad Muamar Z.
Chapter #4

Bab 2

Seorang sedang memasak di dapur. Gerakannya efisien, penuh ketepatan, dan penuh kerapian. Dilihat ke seluruh bagian, dapur itu bersih dari kotoran-kotoran, bahkan dari kulit bawang yang biasanya diabaikan beberapa orang. Sebagai sous chef di hotel ternama, memasak untuk sekeluarga di rumah sudah menjadi bagian yang sederhana. Setidaknya lebih sederhana dan lebih tenang karena dia dapat melakukan eksperimen-eksperimen yang tidak dapat dilakukan di tempat kerjanya. 

Ghazi Dasanta merupakan anak sulung. Usianya 25 tahun, berbeda lima tahun dengan Ratapan, sepuluh tahun dengan Abyan. Setiap memasak di rumah, dia bukan menjadi chef profesional, melainkan seorang anak dan abang yang menjadikan dapur sebagai bahasa cintanya, meramu setiap bumbu dengan porsi kasih sayang yang jauh lebih banyak daripada teknik hotel bintang lima.

“Abang,” panggil Juni sambil menenteng laptop. 

Ghazi menengok, memberikan senyum lebar yang membuat matanya sedikit menyipit. Sejenak dia menghentikan kegiatannya yang sedang menggoreng telur barendo.

“Ya, Bunda?”

“Kalau butuh bantuan bilang, ya. Bunda nulis di sofa.”

Ghazi mengangguk. “Aman, Bunda. Makasih, ya.”

Juni melenggang menuju sofa, tempat nyamannya menulis sejak buku novel pertamanya.

Belum sempat Juni mendaratkan tubuhnya di sofa, sebuah bayangan muncul di ambang pintu dapur. Itu Abyan. Dia berjalan dengan langkah yang diseret, seolah beban hidupnya sebagai anak yang ditemukan di tempat sampah sudah mencapai puncaknya. Namun, hidungnya tidak bisa menipu. Dia mengendus udara berkali-kali, mengikuti jejak aroma gurih dari wajan Ghazi yang minyaknya meletup-letup kecil.

“Abang masak apa?” Abyan bertanya, tetapi dia juga melongok langsung ke dekat kompor.

“Telur barendo sama sop ayam jahe.” Ghazi bersandar di dinding dapur dan menyugar rambutnya.

Abyan mengamati sekitar sebab yang di atas kompor hanya ada wajan. “Mana ayamnya?”

“Udah Abang taro di meja makan, Adek.”

Abyan berbalik, mendekat pada Ghazi yang masih bersandar, kemudian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Adek mau peluk.”

Ghazi mengernyit, tetapi dengan cepat dia membalas pelukan adiknya. “Lagi kenapa, Adek?”

Lihat selengkapnya