Langkah kaki terdengar dari lantai dua. Suaranya berat dan teratur, menandakan pemilik kaki tidak sedang terburu-buru oleh jadwal apa pun. Ratapan turun dengan rambut yang agak acak-acakan (khas bangun tidur), tetapi tetap terlihat "niat" dengan kaus oversized polosnya. Sebagai mahasiswa yang libur kuliahnya masih tersisa puluhan hari, pukul sembilan pagi adalah waktu yang sangat wajar untuk memulai hari dengan semangkuk oatmeal.
Namun, langkahnya mendadak terhenti tepat di ambang pintu dapur.
Kedua alis Ratapan terangkat. Matanya yang biasanya menatap tajam kini membelalak heran. Di sudut dapur, tepat di depan tempat sampah stainless steel milik Bunda, adiknya sedang berjongkok. Adiknya itu tidak sedang membuang sampah, tidak juga sedang mencari sesuatu yang hilang. Abyan hanya ... diam. Berjongkok dengan kedua tangan menumpu dagu, menatap lubang tempat sampah itu dengan tatapan yang sangat dalam.
“Ngapain?” Suara berat Ratapan memecah keheningan dapur.
Abyan tidak terlonjak. Dia hanya menoleh pelan, sangat pelan, seolah lehernya butuh pelumas. "Tempat sampah yang jadi tempat buang Adek, mereknya sama kayak yang ini? Ukurannya sebesar apa?”
Ratapan menghela napas panjang, lalu berjalan melewati adiknya menuju lemari penyimpanan untuk mengambil oatmeal-nya. “Mana Babang tau.”
Gantian Abyan yang menghela napas panjang. Dia kembali menatap tempat sampah. “Adek dulu ditemuinnya gimana, ya? Kalau bayi lain dibedong pakai kain, jangan-jangan Adek dibedong pakai daun pisang?”
Ratapan menuang air panas ke mangkuknya. "Kalau daun pisang, harusnya Adek pas ditemuin baunya kayak lemper. Bukan bau sampah."
Abyan mendongak, matanya berbinar ngeri. "Masa? Berarti Adek bukan dibungkus pakai daun pisang?"
Ratapan mengedikkan bahu. "Mana Babang tau? Tanya Bunda.”
Abyan berdiri. Dia mengepuh pelan dari mulutnya. “Nyebelin. Kenapa Babang gak kuliah aja, sih, sekarang?”
Ratapan menyeringai tipis sambil mengaduk oatmeal-nya pelan, suara denting sendoknya seolah mengejek. "Masih ada puluhan hari lagi buat Babang libur, Dek. Puluhan hari buat mastiin Adek gak berubah jadi lemper beneran sebelum masuk SMA."
Belum sempat Abyan membalas, aroma tajam tongkol balado dan tempe orek mendahului langkah Juni yang masuk ke dapur sambil menenteng plastik warteg.
“Eh, lagi ngapain anak-anak Bunda?”
Abyan menunjuk Ratapan, sementara matanya mengarah pada Juni. “Babang nyebelin, Bunda.”