“Halo. Aku butuh cepat. Poin 50,” gumam Abyan, jempolnya bergerak lincah di atas layar ponsel yang retak sedikit di pojok kanan bawah. “Gimana cara tahu kalau kita anak pungut atau bukan? Tolong, ya, Kak. Besok mau dikumpulin.”
Kalimat terakhir itu bohong. Tidak ada tugas sekolah yang menanyakan status anak pungut. Namun, bagi Abyan, memberikan kesan “tugas mendesak” adalah strategi ampuh agar pertanyaannya segera dijawab oleh para moderator atau ambis-ambis Brainly di luar sana.
Sementara itu, di luar kamar si anak bungsu, Juni kembali melanjutkan novelnya. Tangannya bergerak lincah, begitu juga dengan isi kepalanya yang membentuk kesatuan alur untuk novel barunya. Matanya bukan hanya mengawasi tiap kata yang ditik, tetapi juga berperan sebagai editor dadakan apabila ada ketidakbakuan kata, ketidakefektifan kalimat, dan lainnya.
“Kenapa Nenek masih berduka? Bukankah Kakek sudah meninggal 20 tahun lalu?” monolog Juni. Tangannya dengan cepat menyalin ucapan tersebut menjadi tulisan. “Nenek tersenyum tipis, matanya masih penuh kedukaan meski dia sadar kehilangannya sudah jauh di masa lalu. Nenek berkata, ‘Karena Kakek masih meninggal.’”
Di tengah keheningan Juni menulis kalimat sedih itu, tiba-tiba terdengar kekesalan dan frustrasi Abyan dari lantai dua. Anak itu mengomel sendiri karena jawaban di Brainly tidak kunjung muncul.
Juni diam sejenak, berpikir apakah dia perlu mendatangi kamar anaknya atau melanjutkan novel saja. “Ah, nanggung udah mau ending bab.”
“Sampai kapan Nenek akan berduka? Kakek, kan, akan terus meninggal.” Juni bermonolog lagi. “Selama yang aku inginkan, Nak. Selama yang kubisa. Kalau perlu, sampai aku juga meninggal.”
“KENAPA GAK ADA YANG JAWAB, SIH?!”
Di lantai dua, di dalam kamar, Abyan membanting ponselnya ke atas bantal dengan gemas. Lingkaran loading di layar Brainly sedang menertawakan nasibnya, padahal dia sudah rela mengorbankan 50 poin (tabungan hasil menjawab soal-soal sederhana di aplikasi tersebut).
Sambil menunggu, Abyan kembali menatap layar televisi yang menampilkan animasi Upin dan Ipin. Di layar, kedua bocah itu sedang tertawa riang sambil makan ayam goreng buatan Kak Ros. Abyan mendengus. Hidup sebagai anak kembar yang jelas silsilahnya memang terlihat sangat mudah, tidak seperti dirinya yang harus terombang-ambing antara teori tempat sampah dan bedongan dari daun pisang.
Ketika mulai menikmati tontonannya, Abyan dikejutkan dengan pintu kamarnya yang dibuka oleh Ratapan. “Kenapa teriak?” tanya Ratapan dengan wajah datar.
Abyan melihat abangnya dari kepala sampai kaki. “Harusnya Adek yang tanya. Kenapa Babang gak pake baju?”
Ratapan mengedikkan bahu santai, lalu bersandar di kusen pintu sambil menyugar rambutnya. “Habis mandi.”
“Bilang aja mau pamer otot dan sixpack. Sombong,” tutur Abyan.
Mata tajamnya melirik ke arah ponsel Abyan yang tergeletak di atas bantal, masih menampilkan layar putih aplikasi Brainly. “Adek teriak-teriak kayak orang kesurupan. Kedengeran sampe kamar sebelah. Kenapa? Upin Ipin-nya mati?”