Tenggelam di Pelupuk Matamu

Ahmad Muamar Z.
Chapter #7

Bab 5

Abyan berada di anak tangga terakhir sebelum kakinya menapak di lantai satu. Dia bersembunyi di balik dinding yang menjadi pembatas ruang tamu (tempat Juni biasanya mengetik) dengan tangga. Kepalanya menyembul sedikit, memastikan bundanya masih fokus berkutat dengan laptop. Abyan menyengir ketika dirinya merasa aman, kemudian dia segera masuk ke kamar orang tuanya yang tepat di sebelah tangga.

Begitu daun pintu tertutup tanpa suara, aroma pengharum ruangan tercium, membuat detak jantung Abyan terasa jauh lebih berdebar. Dia sengaja tidak mengunci pintu karena suara kunci kamar berpotensi mengalihkan atensi bundanya dari laptop. Matanya kini berkelana. Di kanan ada lemari besar tempat penyimpanan pakaian dan lain-lain, di kiri ada meja rias dengan segala yang dibutuhkan Juni, dan—

“Pasti di situ!” Abyan berbisik pelan kepada dirinya. Tatapannya tidak lepas dari laci-laci kecil di bawah kasur (yang sekaligus menopang kasur tersebut). Kemudian, dia segera menghampiri.

Ada masing-masing empat laci di sisi kanan dan kiri kasur. Namun, kali ini Abyan fokus mencari di kanan lebih dulu. Dia menarik laci pertama perlahan-lahan, berusaha menyinkronkan suara gesekan kayu dengan bunyi samar taktaktak dari keyboard laptop bundanya di luar sana.

Laci pertama terbuka. Isinya kacau. Kabel-kabel charger Nokia zaman batu, bahkan ponsel yang sudah berjamur, ada di sana. Abyan mendengus sebal. “Ayah kenapa hobi banget simpan sampah, sih? Ini kalau dimaling, malingnya yang kasihan. Rugi waktu.”

Laci kedua dibuka. Isinya tumpukan kaos kaki kantor ayahnya yang sudah melar, beberapa sabuk kulit yang kulitnya sudah terkelupas, dan dasi-dasi yang warnanya pudar. Abyan merogoh sampai dasar, berharap ada dokumen atau apalah itu yang lebih berguna, tetapi nihil.

Laci ketiga dibuka. Isinya dokumen! Namun, jenis dokumen yang membosankan. Buku manual kulkas, kompor, dan manual-manual peralatan lainnya. Ada juga kartu garansi mesin cuci yang padahal sudah lewat masanya dan struk-struk servis mobil. Abyan memutar malas bola matanya.

Laci keempat dibuka. Isinya—

“Udah, ah! Ganti ke sisi kiri aja!” tutur Abyan kesal dengan nada yang rendah. Dia begitu karena laci keempat isinya hanya uang-uang lama yang tidak laku jika digunakan dan batu-batu akik.

Abyan sudah beralih posisi.

Laci pertama di sisi kiri dibuka. Koleksi mukena dan hijab Bunda. Abyan segera menutup kembali.

Laci kedua dibuka. Apotek pribadi keluarga ini. “Kenapa Bunda gak sekalian jualan obat aja biar tambah penghasilan selain nulis, ya?”

Laci ketiga dibuka. Foto-foto lama Juni dan Nadif semasa—

“Ih, Bunda sama Ayah masih jamet banget.”

Lihat selengkapnya