Rumah kami terbuka luas kali ini.
Tangan anak-anak, Ratapan dan Ghazi, dan aku melambai-lambai.
Senyum kami merekah, kecuali anak tengahku.
Dia memang agak … bagaimana, ya? “Dingin”? Tapi percayalah, hatinya lebih hangat daripada siapapun.
“Dadah, Bunda, Abang, Babang!” Suara Abyan memekik. Pagi ini hari pertamanya menjadi siswa SMA, dan dia akan menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama seminggu ke depan.
“Dadah, Sayang!/Dadah Adek!/Hati-hati, Bocil.” Ketiga orang yang berada di teras itu membalas. Namun, terkhusus Ratapan, lambaian tangannya hanya sekali, kemudian kembali masuk ke saku celananya.
Tidak terasa, anak bungsu kami, aku dan suamiku (Nadif), sudah masuk dunia SMA.
Dunia paling indah, setidaknya untuk kami berdua, karena di sanalah kami bertemu pertama kali.
Ah, andai waktu bisa diulang.
“Bunda! Dadah lagi ke Adek, dong! Mobilnya, kan, belum jalan!” Abyan, yang kepalanya menyembul di kaca pintu mobil yang terbuka, protes. Pipinya mengembung. Namun, begitu kepalanya masuk kembali ke dalam mobil, barulah terlihat betapa kontrasnya wajah polos itu dengan balutan atribut “ajaib” yang kini melingkar di tubuhnya sebagai syarat siswa baru di SMA Temaram 5.
Di samping Abyan, ayahnya (Nadif), tidak henti-hentinya menahan gemas melihat anak bungsunya itu memakai topi kerucut dan papan nama kardus di dada. Topinya bermotif polkadot merah dan putih, sementara papan namanya biru menyala. Dibalut pakaian putih abu, membuatnya—
“Anak Ayah lucu banget, sih.” Nadif buka suara. Tangannya menggamit pipi kanan Abyan yang masih mengembung.
Abyan menengok, menghela napas kasar. “Stop, Ayah. Ayah udah bilang Adek lucu lima kali.”
Nadif mengerutkan dahi. “Eh, emang iya?”
“Di mobil sekali. Di teras sekali. Di tangga sekali. Di meja makan sekali. Terakhir, pas Adek tadi pagi-pagi banget mau pup juga,” terang Abyan. Satu per satu jari di tangan kanannya mengacung setiap perkataannya.
Nadif terkekeh.
Mobil mulai melaju, meninggalkan ketiga orang yang masih berada di teras, yang dua melambai secara fisik; satu melambai secara batin. Pengharum mobil turut menyebar ketika pendingin udara dinyalakan, memberikan rasa nyaman di pagi yang terang benderang ini.
Sepanjang perjalanan, keheningan takut untuk datang karena anak bungsu itu terus saja bertanya dan bertanya pada ayahnya perihal dunia SMA. Dia ingin sekali tahu lebih banyak sebelum sampai di sekolahnya.
“Kan biar Adek bisa menjaga ekspetasi, Ayah,” kata Abyan.