Tenggelam di Pelupuk Matamu

Ahmad Muamar Z.
Chapter #9

Bab 6B

Keheningan kecil yang sempat tercipta setelah perkenalan singkat Saskia tidak bertahan lama. Dari arah mading koridor, suara tawa cempreng yang melengking khas remaja perempuan terdengar mendekat, memotong fokus Saskia yang baru saja hendak menulis kembali.

"Aduh, Lan! Buruan, itu Kelompok Lima udah pada ngumpul di bawah pohon! Lu, mah, jalannya kayak putri keraton, lama banget!"

Seorang siswi berambut pendek bergelombang muncul sambil menarik paksa pergelangan tangan sahabatnya. Siswi yang memiliki papan nama Ismi Renata Histo itu langsung menjatuhkan diri ke rumput lapangan, tepat di sebelah Saskia. Napasnya agak memburu, tetapi energinya sama sekali tidak berkurang. Sementara itu, sahabatnya yang ditarik (Bulan Mirdad Safitri) hanya mendengus pelan. Dia merapikan roknya dengan anggun dan tenang sebelum ikut duduk bersila.

“Hai, semuanya! Gue Ismi, dan ini Bulan!” Ismi mengambil kendali pembicaraan dengan vokal lantang, tangannya menepuk Bulan dengan heboh. “Kita berdua dari SMP yang sama. Salam kenal!”

"Salam kenal," sahut Fajar dengan senyum mengayomi andalannya.

“Gue Tama.”

Mata Ismi yang lincah langsung beredar memutari lingkaran, sampai akhirnya pandangannya terkunci pada dua objek di depannya: papan nama biru menyala milik Abyan dan wajahnya. Sifatnya yang blak-blakan langsung keluar tanpa filter.

“Eh, nama kamu Abyan, ya? Kamu lucu banget, deh, kayak adek kelas SMP aku dulu.” Ismi berubah perilaku.

“Kenapa lo seolah-olah kayak lagi ngomong sama bocah gitu, ya?” tanya Bulan keheranan. Dia menengok, memperhatikan bagaimana wajah polos Abyan langsung berubah menjadi agak bingung karena diserbu energi Ismi yang meledak-ledak. Sebuah senyum kecil yang sangat tipis terukir di bibir Bulan saat melihat tingkah polos itu.

“Aby udah gede, kok,” protes Abyan. Dia mencoba memberatkan suaranya agar terdengar seperti bariton milik Ratapan, meski yang keluar malah suara cempreng yang dipaksakan. “Aby udah jadi anak SMA Temaram Lima.”

Ismi malah terkekeh geli melihat kepolosan Abyan yang berusaha terlihat sangar. “Tuh, kan, Lan! Cara ngomongnya aja masih gemesin begini. Mirip banget sama bocah kalau lagi minta jajan.” 

Abyan hanya bisa menghela napas pasrah, menengok ke arah Tama dengan tatapan nelangsa seolah meminta bantuan agar reputasinya di hari pertama sekolah tidak hancur menjadi sebutan bocah. Tama, yang paham arti tatapan itu, hanya tersenyum tipis dan menepuk-nepuk bahu Abyan dengan gerakan menenangkan.

Fajar ikut menimpali untuk menengahi suasana kaku. “Udah, Ismi, jangan digodain terus. Nanti Abyan malah gak betah di kelompok kita.”

“Iya, ih, Ismi sok asik banget baru dateng,” gerutu Saskia tanpa mengalihkan pandangan dari buku saku kecilnya.

“Daripada lu, sombong banget dari tadi ngeliatin buku mulu,” jawab Ismi.

Saskia menghela napas. “Aku Saskia, bisa dipanggil Kia. Aku liat buku terus karena lagi catet nama jajanan dan istilah tebakannya.”

Lihat selengkapnya