Suara gegap gempita di lapangan SMA 5 Temaram mendadak surut ketika seorang wanita paruh baya melangkah menuju podium kecil di tengah lapangan. Langkah kakinya tenang, memancarkan kewibawaan yang membuat ratusan siswa baru merapatkan barisan kelompok masing-masing.
Di bawah pohon rindang Kelompok Lima, Abyan mendongak. Matanya berbinar heran melihat sosok itu. “Waw … siapa itu?”
“Bu Diah, guru yang paling tua di sini.” Gina menyahut, tetapi pandangannya tidak lepas dari guru bernama Diah itu.
“Selamat pagi, anak-anak sekalian,” suara wanita itu mengalun lewat pengeras suara. Lembut, tertata, tetapi entah bagaimana dapat terdengar jelas sampai ke sudut paling belakang lapangan tanpa perlu nada tinggi. “Perkenalkan, nama saya Diah Rodemah. Kalian bisa memanggil saya Bu Diah. Di sekolah ini, saya mengajar mata pelajaran negara kita: Bahasa Indonesia.”
“Pagi, Bu Diah!” Ratusan siswa baru, termasuk pembimbing-pembimbing kelompok, serempak menjawab.
Diah tersenyum keibuan, pandangannya menyapu para siswa di lapangan dengan lembut dan hangat. “Sekarang, kita akan menguji ketangkasan berpikir dan kerja sama kelompok kalian melalui permainan tebak istilah makanan MPLS. Namun, sebelum Ibu membacakan teka-tekin pertama,, ada dua aturan yang mesti kalian patuhi.”
Diah mengangkat jari telunjuknya. “Satu, seluruh alat komunikasi atau ponsel, wajib dinonaktifkan dan dimasukan ke dalam tas masing-masing. Kakak-kakak pembimbing mohon memastikan tidak ada gawai yang menyala.”
Mendengar hal tersebut, Abyan merogoh saku celananya. Dia menatap layar ponselnya dengan tatapan nelangsa.
Tama, disampingnya, melihat tatapan sahabatnya itu. “Kenapa, Bayi?” bisiknya.
Abyan mendengus. “Ih, jangan panggil Aby bayi di sini! Panggil Aby aja.”
“Iya, iya. Lagi kenapa?”
“Aby gak bisa buka Brainly kalau ponselnya dimasukin tas,” tutur Abyan. Pipinya mengembung sedikit.
“Dasar pemuja Brainly,” celetuk Ilal yang mendengar hal tersebut.
Abyan mendengus sebal. “Yang datengnya telat gak diajak, ya!”
Ilal baru saja hendak membalas ucapan Abyan, tetapi Gina lebih dulu menyela.
“Diperhatiin. Ponsel masukin tas. Ngobrolnya bisa nanti.”
Selaan tersebut membuat Ilal dan seluruh anak Kelompok Lima mengikut instruksi pembimbingnya.
Di tengah lapangan, di samping Diah, muncul seorang panitia OSIS yang membawa sebuah kotak kardus berisi puluhan replikasi bintang berwarna emas yang berkilauan diterpa matahari pagi.
“Dua,” lanjut Diah. “Kelompok yang mengetahui jawaban dari teka-teki, silakan perwakilannya mengangkat tangan dengan cepat. Setiap jawaban yang benar akan mendapatkan satu bintang emas ini dari kakak panitia. Di akhir acara MPLS, kelompok yang memiliki total bintang terbanyak, akan mendapatkan hadiah dari sekolah.”
Semua siswa baru bersorak dan bertepuk tangan. Utamanya Saskia yang kini matanya langsung menajam melihat kotak berisi bintang tersebut. Jiwa kompetitifnya keluar dan ambisinya seketika menyala besar. Dia langsung membuka buku sakunya yang dipenuhi teka-teki istilah makanan dan jawabannya.