Tenggelam di Pelupuk Matamu

Ahmad Muamar Z.
Chapter #11

Bab 8

Matahari sudah bergerak melewati kepala ketika Diah akhirnya menutup sesi tebak-tebakan istilah makanan dengan sebait nasihat bijak tentang pentingnya menjaga kejujuran dan kerja sama. Ratusan siswa baru di lapangan mulai bergerak bubar, menciptakan gelombang warna-warni dari berbagai topi kerucut dan papan nama karton yang saling bergesekan.

Di bawah pohon rindang Kelompok Lima, Abyan langsung meluruskan kakinya yang pegal dengan napas lega. Tangannya reflek meraih tas, bersiap mengambil ponsel untuk mengecek pesan. Namun, gerakannya terhenti ketika Dini tiba-tiba melompat ke tengah lingkaran mereka sambil menepuk tangan dengan ritme yang heboh.

“Eits! Jangan pada beres-beres dulu, Adik-adik gemesku!” seru Dini dengan cengiran lebar. “Acara lapangan emang udah selesai, tapi penderitaan—, maksud gue, keseruan MPLS hari pertama belum selesai!”

Abyan mengerjap lambat, menatap Dini dengan ekspresi mudah herannya yang khas. “Belum pulang, ya, Kak?” tanya Abyan polos.

“Belum dong, Abyan sayang,” sahut Dini gemas.

Gina maju selangkah, berdiri di sebelah Dini dengan postur tegaknya yang berwibawa. Dia membawa selembar kertas memo OSIS di tangan kirinya. Atmosfer di lingkaran tersebut seketika kembali tertib begitu mata tajam Gina menyapu mereka satu per satu.

“Perhatikan semuanya,” ucap Gina tenang, tetapi tegas. “Sebelum kalian dibubarkan untuk pulang, ada tugas besar kelompok yang wajib disiapkan untuk hari Jumat nanti. Masing-masing kelompok wajib menampilkan drama pendek kreatif bertema bebas, durasi lima menit sebagai acara sebelum penutupan MPLS.”

“Lima menit doang, Kak? Kalau musikal, pake koreografi ala-ala boyband Korea boleh, gak?” celetuk Ilal asal bunyi, membuat Ismi di sebelahnya spontan menahan tawa geli.

Gina sama sekali tidak terpengaruh oleh celetukan Ilal. “Penampilan kalian akan dinilai langsung oleh tim penilai OSIS dan perwakilan guru. Poinnya sangat besar untuk menentukan kelompok terbaik di akhir MPLS.”

“Nah, bener banget kata Bu Ketua! Dini menimpali sambil berkacak pinggang. “Jadi, saran gue, mending kalian jangan langsung pulang. Manfaatin waktu sore ini buat diskusi bareng. Paham?”

“Paham, Kak,” jawab Fajar mewakili kelompok dengan senyuman sopan.

“Kak Dini sama Kak Gina ikut dramanya, ‘kan?” tanya Abyan sambil menyengir.

Dini mendesis. “Untung aja ini bayi gemesin. Kalo gak, udah gue getok.”

Lihat selengkapnya