Hari kedua MPLS, 50 kelompok MPLS dipecah secara merata ke dalam kelas X-1 sampai X-10. Setiap kelas berisi lima kelompok, dan Kelompok Lima kedapatan di kelas X-1, tempat mereka duduk kemarin untuk berdiskusi drama kreatif.
Di dalam ruang kelas, tidak ada yang dapat mengusir ketegangan yang melanda ruangan itu, sekalipun semilir angin pagi dan cahaya matahari yang menembus jendela. Ruangan itu terasa sunyi, menyisakan deru halus kipas angin gantung di tiap isi dinding yang berputar konstan. Berbeda dengan kelas lain yang terdengar tawa dan bisik-bisik antarmurid baru, kelas X-1 langsung terkondisikan tertib sejak menit pertama. Hal tersebut disebabkan sosok wanita paruh baya yang kini berdiri tenang di balik meja guru: Bu Diah.
Diah mengenakan PDH atau Pakaian Dinas Harian, yaitu seragam berwarna khaki. Seluruh yang dia kenakan rapi sekali, mulai dari kerudung, papan nama, sampai sepatu pantofel hitamnya.
“Anak-anak sekalian, materi kita hari ini adalah tentang bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari,” ucap Diah. Suaranya yang tenang bergema rapi di antara barisan meja kayu. “Setiap hari kita berbicara, mendengar, dan membaca. Namun, apakah bahasa tersebut sudah kita manfaatkan dengan baik? Bukan hanya sebagai alat untuk menyampaikan maksud, tetapi juga cerminan dari budi pekerti dan bagaimana cara kita menghargai orang lain di sekitar kita.”
Di barisan bangku depan, Saskia duduk dengan postur paling tegap. Buku saku kecilnya yang kemarin penuh coretan teka-teki makanan kini sudah berganti dengan buku tulis bersampul rapi, lengkap dengan pulpen gel hitam yang sudah bertengger manis di jemarinya. Mode ambis Saskia telah aktif sepenuhnya sejak Diah melangkah masuk kelas. Baginya, barisan depan adalah harga mati untuk mencuri impresi pertama yang sempurna dari guru senior di sekolah ini.
Kontras dengan Saskia, di barisan bangku ketiga, Abyan dan Tama duduk berdampingan. Sisa udara pagi yang sejuk ditambah putaran kipas angin perlahan-lahan membuat kelopak mata Abyan terasa berat. Kepalanya agak miring, matanya mengerjap lambat menatap barisan kursi di depannya, yang diduduki Ismi dan Bulan, dengan pandangan kosong.
“Ibu akan menuliskan satu kalimat di papan tulis.” Diah mengambil spidol hitam, berbalik menghadap papan tulis, kemudian menulis sebuah kalimat dengan tulisan yang teramat rapi: Murid harus meneladani hal yang baik dari guru.
Diah berbalik, menatap para siswa lewat kacamatanya. “Ibu membuat satu contoh kalimat. Kalimat ini bukan sekadar contoh tata bahasa, melainkan sebuah pengingat untuk kalian. Di lingkungan yang baru ini, kalian resmi menjadi siswa SMA 5 temaram. Oleh karena itu, sebagai siswa SMA 5 Temaram, kalian harus bisa meneladani kebaikan yang dilakukan bapak dan ibu guru di sekolah.”
Saskia sibuk mencatat tiap ucapan Diah. Namun, di barisan bangku ketiga, kantuk yang sempat menggelayuti pelupuk mata Abyan seketika menguap tanpa sisa. Dahinya mengkerut dalam, menciptakan lipatan kecil di antara kedua alisnya. Matanya yang bulat kini menatap lurus ke arah kalimat di papan tuli dengan binar heran luar biasa.