Tenggelam di Pelupuk Matamu

Ahmad Muamar Z.
Chapter #13

Bab 10

Bunyi bel panjang menggema dari pengeras suara di atas pintu kelas X-1. Ketegangan yang tersisa seketika terputus begitu saja. Sesi materi formal pertama di hari kedua MPLS resmi berakhir. Begitu Diah melangkah keluar pintu, atmosfer kelas yang tadinya setertib ruang sidang langsung meledak oleh riuh helaan napas lega dari puluhan siswa.

KREK!

Kursi di barisan paling depan berdenyit nyaring. Saskia langsung berdiri dari posisinya, membalikkan badan dengan cepat, kemudian melangkah lebar-lebar menuju meja di barisan ketiga dengan wajah merah padam karena menahan gemas sejak tadi. Kedua tangannya berkacak pinggang begitu tiba di meja depan Abyan dan Tama.

“ABYAN!” seru Saskia tertahan, matanya melotot menatap anak laki-laki di hadapannya. “Lo bener-bener, ya! Jantung gue hampir copot tahu, gak, pas lo angkat tangan tadi! Berani-beraninya nyela argumen Bu Diah pake bawa KBBI segala!”

Abyan yang baru saja bersiap merogoh bagian dalam tasnya langsung mendongak. Dia mengerjap polos dengan bibir yang sedikit mengerucut karena kaget diserbu begitu saja oleh Saskia.

“Ih, Saskia kenapa marah-marah? Kan Aby cuma nanya karena heran sama tulisan di papan tulis,” bela Abyan dengan nada suara yang lambat dan tanpa dosa. Tangannya kembali mengaduk isi tas. “Ada yang bilang kalau kita gak tahu sesuatu, kita harus tanya.”

Saskia berdecak, sesaat dia mengibaskan rambutnya, kemudian kembali berkacak pinggang. “Ada yang bilang, ada yang bilang, siapa coba yang bilang?”

“Bunda Aby,” jawab Abyan polos.

Jawaban singkat tersebut langsung menyumbat rentetan omelan yang sudah mengantre di ujung lidah Saskia. Dia tertegun sesaat, matanya mengerjap melihat binar tanpa dosa di mata bulat Abyan. Rasa bersalah mendadak mencubit ulu hatinya karena tersadar baru saja mempertanyakan nasihat seorang ibu kepada anaknya. Namun, gengsi dan sisa rasa kesal membuatnya hanya dapat mendengus sebal.

“Ya … ya, kan, nanyanya gak harus di tengah-tengah Bu Diah ngomong, Abyan,” guma Saskia, memalingkan wajahnya sedikit ke arah Ilal untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya.

Ilal, yang baru saja melintas di dekat meja mereka, berhenti. Alih-alih menyahut, dia malah membekap mulutnya sendiri, bahunya naik-turun heboh karena menertawakan wajah salah tingkah Saskia tanpa mengeluarkan suara. Matanya yang menyipit jelas sekali sedang mengejek kepanikan setelah mendengar kata bunda.

Ismi memutar tubuhnya ke belakang. Di detik yang sama, tawanya pecah dan menepuk meja kayu beberapa kali.

“Aduh, Kia! Percuma lo ngomelin bayi gembul satu ini.” ujar Ismi di sela tawanya, menunjuk pipi Abyan yang semakin maju karena sedang merengut pasrah. “Liat, tuh, mukanya. Makin melar kayak donat dipompa. Dasar Abyan gembul!”

Lihat selengkapnya