Tenggelam di Pelupuk Matamu

Ahmad Muamar Z.
Chapter #14

Bab 11

“Bulan, nanti kalau Ilal galak, jangan takut, ya.”

Bulan, yang sedang merapikan jilbabnya, menengok dan mengangguk tipis. Dia menatap Abyan sesaat, kemudian memalingkan wajah sambil tersenyum samar.

Abyan kembali menghadap lurus ke depan setelah memberi wejangan singkat itu, membiarkan tubuhnya ditarik maju oleh Tama yang sejak satu menit lalu sibuk bertarung dengan selembar kain di leher Abyan.

“Jangan gerak dulu, By, dasinya melintir,” gumam Tama pelan. Tangannya dengan telaten merapikan seragam sahabatnya itu.

Penampilan Abyan hari ini benar-benar mendefinisikan murid teladan yang super rapi. Mulai dari seragam, rambut, dan sebagainya. Berbanding terbalik sekali dengan Tama yang kancing bajunya sengaja dibuka, rambut urakan, dan dasi yang niat tidak niat dipasang.

“Ih … Tama, jangan rapi-rapi. Aby mau juga kayak Tama, keliatan kayak anak nakal,” tutur Abyan. Bibirnya mengerucut.

“Heh, Gembul! Kita kan ngikutin skenario, bukan seenak lo,” sahut Ismi yang duduk tidak jauh dari mereka. Kakinya terlihat terus bergerak sejak tadi.

“Ismi gak perlu panik, gak apa-apa, kok! Semuanya pasti lancar!”

Belum sempat Ismi membalas celetukan itu, nama Kelompok Lima sudah digaungkan lantang melalui pengeras suara.

***

Abyan dan Bulan melangkah berdampingan di tengah lapangan sebagai murid baru yang tersesat. Di belakang mereka, Tama berjalan santai dengan gaya melangkah yang sedikit tengil sesuai perannya.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, dua “preman sekolah” yang diperankan Ilal dan Ismi menghadang jalan mereka dengan gaya sok jagoan. Ilal bersedekap dada sambil memegang kertas yang dimaksudkan sebagai rokok, sedang Ismi berdiri miring dengan kedua tangan di pinggang.

Sesuai naskah, Ismi seharusnya mengintimidasi kedua murid baru tersebut untuk menyerahkan uang saku. Namun, begitu melihat wajah polos Abyan yang berdiri pasrah di samping Bulan, jiwa usilnya mendadak melakukan improvisasi.

“Lo!” Ismi menunjuk Bulan. “Dan lo, Gembul! Sini tas lo berdua!” seru Ismi berimprovisasi dengan nada galak yang dibuat-buat. 

Lihat selengkapnya