Masih pada hari yang sama, tetapi waktu yang berbeda: Menjelang pukul tiga sore.
Matahari sedang, dan masih, panas-panasnya. Namun, seluruh murid baru tidak kepanasan, sebab mereka semua berada di dalam aula besar.
Gema suara dari mikrofon pengeras suara memantul di langit-langit aula yang tinggi. Seluruh murid kelas X duduk bersila rapi perkelompok. Wajah-wajah lelah selepas tampil di lapangan berganti menjadi wajah penuh harap, tegang, sekaligus antusias. Hal tersebut terjadi sebab sesi penutupan MPLS SMA Temaram 5 telah sampai pada puncaknya.
“Baiklah! Sebelum pelepasan atribut secara simbolis, saatnya kita umumkan penampil drama terbaik pilihan juri dan panitia!” seru Ketua OSIS dari atas panggung, dan langsung disambut tepuk tangan dari seluruh orang dalam ruangan tersebut.
Dini, yang berdiri di barisan panitia, melompat kecil. Dia menyenggol lengan Gina dengan heboh. “Pasti kelompok kita, Gin!”
“Dan Kelompok Terbaik MPLS tahun ini jatuh kepada ….” Ketua OSIS sengaja menahan beberapa detik ucapannya, membangun ketegangan. “Kelompok … LIMA!”
Tepuk tangan paling meriah terdengar. Dini berteriak paling kencang, memeluk Gina erat-erat, kemudian melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah anak-anak bimbingannya.
Di barisan Kelompok Lima, Saskia langsung menutup mulutnya tidak percaya, sebelum akhirnya melonjak kegirangan. Fajar tersenyum lega, sedang Ismi dan Ilal bertukar tos. Bulan, yang biasanya tenang, pun tidak dapat menyembunyikan senyum lebarnya.
“Tuh! Berkat akting gue nyubit lo, Gembul, kita menang!” celetuk Ismi penuh kemenangan.
“Dih, berkat gue juga, sih!” sahut Ilal, tidak mau kalah.
Di antara keriuhan tersebut, Abyan hanya mengerjap-ngerjap polos, kebingungan dengan reaksi heboh teman-temannya. Tama yang di sampingnya terkekeh, kemudian tangannya maju untuk mengacak pelan rambut rapi Abyan.
“Kita menang, Bayi,” ucap Tama pelan.
“Ini beneran, ya?” tanya Abyan polos, mata bulatnya berbinar.
Tama dan Bulan, yang melihatnya, tertawa kecil.
Setelah keriuhan pengumuman mereda, seluruh murid baru diminta berdiri untuk mengikuti proses pelepasan atribut MPLS sebagai simbol peresmian kelas X. Satu per satu papan nama dan topi mereka resmi dilepas kakak-kakak pembimbing mereka masing-masing. Helaan napas lega berembus, menandai berakhirnya masa orientasi dan resminya status mereka sebagai siswa SMA Temaram 5.
Saat acara resmi ditutup, ratusan murid membereskan tas dan memenuhi papan mading pengumuman di luar untuk melihat pembagian kelas mereka.
Ilal, yang sudah sempat mendapat info lebih dahulu dari Fajar dan Saskia, menyenggol Ismi. “Aduh, abis ini pembagian kelas fix, nih. Yah, kita pasti kepisah,” ujar Ilal dengan nada dibuat-buat sedih. “Gue gak bisa ngebayangin kalau harus pisah kelas sama lo semua, apalagi gak bisa nyubit pipinya si Gembul lagi.”
“Iya juga, ya,” sahut Ismi, langsung menangkap umpan bercanda Ilal. Remaja perempuan itu juga sudah tahu, bahkan mungkin semua orang di Kelompok Lima sudah tahu, hanya Abyan yang belum. “Sedih banget. Padahal baru aja kita juara drama … eh, sekarang malah harus pisah kelas.”