Tentang Anna.

Zahid Paningrome
Chapter #1

Permainan Ganda

Separah apa kamu bisa mencintai seseorang? Apakah di dalam dirimu sudah sepenuhnya dikuasai oleh bayang-bayangnya? Kisah ini tentang Anna yang pergi tak berjejak hingga aku menunggu cukup lama untuk bisa melihatnya kembali dalam satu meja yang sama. Aku mencintai Anna, tapi bukan itu intinya. Sialnya, Aku masih menyimpan namanya di relung hatiku paling dalam. Sudah hampir tiga tahun wanita itu pergi tanpa pesan, aku tak pernah bisa berkomunikasi dengan dirinya, semua jalur yang bisa aku pakai ditutup dengan serampangan olehnya. Berkat Aku, dia menjadi manusia anti sosial. Aku sudah tak bisa lagi melihatya di dunia maya, tak bisa lagi membaca setiap tulisan di blognya. Aku benar-benar sudah menghancurkan semuanya, meruntuhkan tiang-tiang dan membuat sekat yang begitu tinggi hingga tak terlampaui olehku.

Tak ada kamus yang bisa benar-benar menjelaskan apa makna cinta sebenarnya. Aku hanya menemukan hal-hal abstrak darinya. Saat aku benar-benar membutuhkan cinta, dia justru menjauh—tak menyentuhku. Bahkan saat aku tak membutuhkannya sama sekali, cinta datang dengan liarnya, seperti bait-bait dalam puisi Pablo Neruda. Aku termakan oleh opini-opini orang mengenai cinta yang sempurna dan abadi. Aku merasa hilang diri, hancur tak berbentuk. Meski aku berusaha menggabungkan kepingan-kepingannya. Tetap saja, Anna tak lagi pernah kembali, hidup dalam pikirannya sendiri. Lupa bahwa ada seseorang yang menantinya disini.

Aku bahkan masih ingat tanggal pertama kali kita bertemu. Saat dia mengajakku minum kopi dan menikmati sore di salah satu kedai di kota ini. Wajahnya masih kuingat, caranya membenarkan letak duduk, caranya merapikan rambut, dan caranya menatapku. Aku terpesona pada apa yang dia lakukan, meski hanya mengelus lehernya dengan lembut. Aku ingat berapa lama kita menghabiskan waktu hari itu. Saat matahari sedang sangat teriknya hingga terbenam di ufuk barat. Aku bahkan tak pernah lupa setiap kata yang keluar dari bibirnya. Semua terasa neurotik bagiku. Tak ada yang bisa menggantikan itu.

Aku juga masih mengingat kapan terakhir kita bertemu, saat kebodohanku terlihat begitu jelas, membuatnya terluka dan terganggu. Pelan-pelan, dia mulai membangun dinding pemisah diantara kita. Aku tak pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Dia begitu sulit untuk dibaca, raut mukanya setenang air di lautan tanpa angin. Aku mengucapkan kata yang begitu berarti bagiku, namun mungkin tidak baginya. Hari itu dia tampak cantik dengan blus putih yang lengannya ditekuk. Senyumnya adalah hal terindah yang pernah aku dapat dari seorang wanita. Tak ada yang bisa benar-benar mendeskripsikan kecantikannya.

Wanita yang menguasai mimpiku, mengganggu tidur malamku, mengusik kehidupan pagiku. Anna memang tak sempurna, tapi dia adalah wanita yang melebihi kemampuan wanita lainnya. Ada dua jenis wanita di dunia ini, yang berambisi untuk bisa menaklukan dunia, dan yang berambisi untuk menaklukan ranjang tidur bersama pasangannya. Anna adalah tipe wanita pertama, cita-citanya untuk mengubah dunia menjadi lebih baik lagi adalah cita-cita paling mulia yang pernah kudengar. Mimpinya untuk menjadi pembeda di antara manusia lainnya adalah mimpi paling ambisius yang pernah kudengar. Jelas, hal itu semua sama dengaku. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari kesamaan diantara kita berdua. Rasanya seperti setengah dunia berpihak pada kami, setengahnya menunggu untuk direbut bersama.

Sudah hampir tiga tahun juga aku tak menghabiskan waktu berjam-jam duduk menunggu di kedai kopi tempat kita biasa bertemu. Aku ingin mengucapkan maaf atas apa yang telah kulakukan padanya. Dua manusia yang sama-sama mencintai namun tak bisa memiliki, rasanya seperti ada di titik terendah kehidupan, diinjak dan tak bisa melawan. Aku benar-benar rindu suaranya, saat dia tak malu memujiku atau saat dia tak bisa mengungkapkan perasaannya, karena dia harus menjaga perasaan orang lain. Aku tak pernah berharap rasaku terbalas. Aku hanya ingin dia mengetahui apa yang kurasa dan yang selama ini terpendam di dalam hati dan pikiran.

Namun, waktu yang kuhabiskan adalah waktu-waktu tangisku. Anna tak pernah sedetikpun tampak di kedai itu. Aku hanya melihat wajah-wajah yang penuh kepura-puraan hadir melintas, tak terpesona sama sekali bahkan pada pengunjung yang paling cantik sekalipun. Pada tiap-tiap kertas dan tinta yang habis di kedai itu, aku menuliskan setiap perjalanan hidupnya yang diceritakannya padaku. Menulisnya pelan-pelan, sembari menahan air mata supaya tak jatuh membasahi putihnya kertas. Aku berharap ditemani Anna saat menulis tentangnya. 

Lihat selengkapnya