Tentang Anna.

Zahid Paningrome
Chapter #2

Sabtu Bersama Anna

“An, aku udah di depan nih. Kamu dimana?” 

“Masuk aja, aku di depan bar,” balas Anna.

Aku tidak yakin untuk masuk, ini pertama kalinya aku mampir—aku memang sengaja tak pernah mau berkunjung ke tempat ini. Aku memberanikan diri meruntuhkan nilai idealku demi bertemu Anna. Dari pintu kaca gerai itu, aku bisa melihat Anna melambaikan tangan ke arahku, aku tersenyum membalas lalu menghampirinya.

“Hey,” kataku tanpa bersalaman.

“Hey, macet nggak?” senyum Anna

“Ah enggak, lalu lintas biasa.”

“Hmm...” Anna mengangguk pelan.

“Cuma memang lagi panas-panasnya,” kataku menambahi.

Lalu Aku terdiam, melihat Anna yang sibuk merogoh tasnya. Kecanggungan menguasai tubuhku, tapi tampak tak menguasai tubuh Anna. Mataku menyapu seluruh ruangan itu, beberapa barista tengah sibuk meracik kopi dan memanggil nama-nama. Mataku tertuju pada seorang barista wanita yang hampir seluruh tubuhnya tertutup oleh bar. Wanita itu tersenyum ke arahku, aku membalasanya, name tagnya masih bisa kulihat. Nama yang sangat singkat—Ari.

“Eh, pindah situ yuk,” Anna menunjuk satu meja panjang yang terletak tepat di samping bar. Meja kayu itu mengkilap, ada enam kursi tinggi yang saling berhadapan. Aku dan Anna duduk di ujung, berdekatan dengan bar. Di depanku Anna duduk dengan nyaman sembari memakan muffin blueberi yang baru dia ambil sebelum duduk. Di belakang Anna, ada lukisan besar bergambar biji-biji kopi dan para petani yang sedang panen. Lukisan itu terlihat surealis.

“Tahu nggak, Aku baru pertama kali kesini.”

“Ohiya?” tanya Anna setelah selesai mengunyah.

“Aku pernah baca, kalo Starbucks mendonasikan sebagian keuntungannya untuk kepentingan Israel. Terlepas dari benar atau nggak, tapi aku percaya berita itu.”

“Kamu kemakan propaganda media.”

“Aku baca artikel ini bukan di media mainstream, loh.”

“Mau media mainstream atau bukan, media tetap mencuci otakmu. Itu tuh kayak fasisme bentuk baru,” kata Anna menatapku.

“Oke oke,” aku tersenyum, terpesona jawaban Anna.

“Kamu nggak pesen?”

“Emang harus pesen yaa? Nggak nunggu pelayannya kesini gitu?”

“Kamu kira ini warung apa,” kata Anna, meledek.

Aku sekali lagi tersenyum, bangkit berdiri menuju bar untuk memesan. Seorang barista meneriakkan nama Anna. Aku melihat satu minuman berwarna hijau seperti es krim bertuliskan nama Anna. Di depan bar Aku sibuk melihat daftar menu yang ditulis pada papan tulis hitam di bagian atas.

“Mau pesan apa kak?” tanya seorang barista.

“Sudah pernah kesini sebelumnya?” barista itu bertanya sekali lagi.

“Hot capucino, satu,” kataku sebelum semakin dibuat malu.

“Grande atau venti?”

“Maksudnya?” tanyaku.

“Ukuranya, kak,” barista itu tersenyum.

“Oh, grande,” kataku mengangguk.

“Oke. Satu hot capucino, Grande. Atas nama siapa?”

“Pram,” sontak aku menjawab, Anna mengernyitkan dahi melihatku.

“35.000,” Aku memberi uang pas, lalu kembali duduk.

Anna tersenyum, menggeleng pelan seperti hendak tertawa. Aku mengangkat kedua alis—membalasnya. Anna menatapku, ada kata-kata yang siap keluar dari bibirnya.

“Serius? Pram?” 

“Pramoedya,” jawabku girang.

“Oh come on,” Anna tertawa.

“Loh emangnya kenapa? Apa pentingnya seorang barista tahu namaku?”

“Oke oke,” Anna menggeleng pelan—giginya masih terlihat.

Aku dan Anna terdiam, aku mencoba memalingkan wajah—melihat pesananku yang sedang dibuat, sesekali mencuri pandang saat Anna sibuk dengan ponselnya. Sesekali juga Anna menangkapku saat mencuri pandang, seketika aku langsung memalingkan muka—menganggap tak terjadi apa-apa.

Starbucks mulai dipadati pengunjung Sabtu siang itu, dipenuhi keluarga yang menghabiskan akhir pekan bersama dan beberapa remaja SMP yang hendak menonton film terbaru. Beberapa menit menunggu, nama Pram keluar dari bibir seorang barista. Ari, satu-satunya wanita yang memakai celemek hijau khas Starbucks. Mendengar nama itu Aku langsung mengambilnya sembari melihat Anna yang tertawa, menutup bibirnya.

“Kamu tahu nggak, Starbucks itu coffee shop paling kasihan di kota ini, bahkan mungkin di Indonesia,” kataku menahan panas di lidah setelah menyeruput hot capucino.

“Kok gitu?” tanya Anna penasaran.

“Nggak ada yang pesen kopinya.”

“Aaah...” kata Anna, mengelus dagunya pelan.

“Lihat, kamu pesen apa? Es krim kan? Tuh lihat anak-anak itu. Es krim juga,” kataku menunjuk beberapa anak SMP yang duduk tak jauh dari kami.

“Eh, ini bukan es krim,” Anna mengelak.

“Kopi nggak?” tanyaku menantang.

“Emang kamu pesen apa?” tanya Anna, mengelak sekali lagi.

“Hot capucino, dong.”

“Alah, itu karena kamu bingung kan mau pesen apa. Yang kamu tahu cuma itu,” Anna menebak.

“Bener,” kataku tertawa.

“Dasar Mister Pram!” Anna melotot menatapku.

Untuk orang yang baru pertama kali bertatap muka langsung, ada sesuatu yang terasa kurang. Ada rasa ingin menanyakan banyak hal secara langsung, tapi Aku tahu, Anna menahannya. Menungguku untuk bertanya lebih dulu. Aku belum mengeluarkan ponsel, kebiasaan lamaku untuk tak mengeluarkannya saat bertemu seseorang. Hanya untuk keadaan genting saja. Karena tujuan orang bertemu salah satunya untuk mengobrolkan banyak hal, bukan asik dengan dunianya sendiri. Sialnya, sudah beberapa menit aku melihat Anna sibuk dengan ponselnya.

“Kamu kenapa pake Iphone?” tanyaku, mencoba mencairkan suasana.

“Ha?” kata Anna, selepas menatap layar ponsel.

“Kenapa pake Iphone?”

Lihat selengkapnya