Sungguh hari yang membahagiakan buatku, sesekali melihat Anna yang salah tingkah, sesekali sama-sama merasa canggung. Berulang kali rambutnya menutup kening setiap Anna tertunduk menahan tawa, lalu menyingkapnya ke belakang. Anna membawa tas merah bergambar club favoritnya—Manchester United. Anna membuka tas itu sekali lagi, mengeluarkan satu buku catatan hitam, membukanya perlahan—persis seperti seorang anak yang hendak menulis di buku tulis.
“Serius? MU?” tanyaku meledek.
“Iyadong, kenapa emang?” jawab Anna, bangga.
“Klub idaman wasit-wasit,” aku tertawa.
“Biarin, yang penting juara liga 19 kali,” Anna menjulurkan lidahnya.
“Eh, ngomong-ngomong, kamu ngajak aku ketemuan kenapa, An?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Nah! Aku nunggu kamu tanya itu daritadi... Aku pengen ngajak kamu kolaborasi,” raut muka Anna berubah serius.
“Kolaborasi?”
“Kolaborasi nulis,” Anna menatapku, tegas.
Seketika ada kelegaan dalam diriku, ini dunia yang bisa membuatku jadi diri sendiri. Sekaligus menjadi kesempatan bagiku untuk mengirimkan pesan soal perasaanku pada Anna. Aku sering membaca setiap tulisan Anna di blognya, kebanyakan memang tentang curhatan khas para wanita. Tapi Anna mencurahkan sesuatu yang berbeda, tentang hidup, mimpi, pandangan tiap tokoh favoritnya, hanya sesekali menulis sebuah fiksi, menciptakan tokoh yang sempurna—bagian paling mudah dalam proses menulis.
“Kamu bisa, kan?” tanya Anna, lembut.
“Aku justru kaget kalo kamu juga nulis.”
“Loh, aku nulis salah-satunya karena kamu... Kamu nggak pernah baca blogku?”
“Hmm... Belum,” kataku menggeleng pelan.
“Coba deh baca. Aku pengen tahu komentarmu,” Anna menyerahkan ponselnya padaku. Sebuah blogpost terbuka, aku melihat Anna sebelum membacanya.
“Aku baca ya,” kataku—Anna tersenyum.
Aku sudah pernah membaca blogpost yang ditunjukkan Anna padaku, aku hanya berpura-pura membacanya, menggerakkan ibu jariku pada layar ponselnya—sesekali tersenyum, Anna masih fokus menatapku. Tulisan ini adalah tulisan terindah di blognya. Tentang seorang anak yang menunggu ayahnya pulang. Sesekali aku melirik Anna, dia masih terus menatapku—tersenyum setiap aku menatapnya. Beberapa menit setelahnya, aku mengembalikan ponsel Anna—menarik napas lalu membuangnya perlahan.
“Gimana?” Anna tersenyum antusias.
“Bagus,” senyumku, melipat kedua tangan di atas meja.
“Gitu doang?”
“Hmm...” gumamku, menatap langit-langit Starbucks.
“Ayolah, masa cuma kata itu yang keluar dari Mister Pram!” Anna memohon.
“Aku suka nggak tahan kalo baca cerita tentang hubungan antara anak dan orang tua. Kerasa berat aja buat aku, menguras emosi... Tapi aku mau tanya,”
“Tanya apa?”
“Itu pengalaman pribadimu, kan?” Anna terdiam, aku menatapnya.
“Ah enggak. Cuma iseng-iseng aja nulis. Kamu sok tahu nih,” Anna mengelak.
“Ah! Kamu nggak pinter bohong, An. Kamu berhadapan sama orang yang juga sering nulis, loh. Jadi percuma kamu bohong, tetep aja ketahuan... Tulisanmu itu kerasa nyata banget, kelihatan dibuat dari hati. Lagian ayahmu tentara juga, kan? Persis yang ada di ceritamu itu.”
“Kok kamu tahu kalo ayahku tentara?” Anna mengelak.
“Tapi bener, kan?” tanyaku, menekan Anna.
“Jawab pertanyaanku dulu. Kamu kok tahu kalo ayahku tentara?”
“Tapi bener, kan... An?” tanyaku, menekan Anna sekali lagi.
“Iya-iya bener. Kamu bener,” Anna tersipu, malu.
“Satu kosong!” kataku gembira.
“Maksudnya?”
“Iya aku satu, kamu kosong. Aku menang kamu kalah,” aku menjulurkan lidah, meledek Anna.
“Ah... Oke, mulai main-main, nih,” kata Anna, antusias.
“Jadi... Mau ngajak aku nulis apa?”
Anna mulai menulis di halaman kosong buku catatannya, tak menjawab pertanyaanku. Pena hitamnya perlahan mulai memunculkan sebuah kalimat di atas kertas. Aku melihatnya seksama, lalu melihat ponsel Anna yang bergetar, layarnya menyala—sebuah pesan dari seseorang.
“Kamu sering stalking aku, yaa?” tanya Anna, menutup bukunya.
“Ha?” sontak aku terkaget menatap Anna.
“Kenapa, sih? Kayak habis lihat setan aja.”
“Ah enggak... Itu kayaknya ada whatsapp,” kataku, menunjuk ponsel Anna.
Anna melihat ponselnya, membuka kunci—menatap layar ponselnya. Anna hanya membacanya, tak membalas pesan itu, lalu menguncinya dan kembali menatapku.
“Dari siapa?”
“Bukan siapa-siapa,” Anna menggeleng.
“Jadi gimana?” tanyaku—Anna membuka lagi buku hitamnya.
“Jadi gini, aku pengen bikin serial di blog, kayak Arthurmu itu. Jadi bakal ada beberapa episode. Nah aku merasa nggak begitu jago nulis fiksi panjang, kayak kamu. Jadi aku pengen belajar sama kamu,” Anna membuat garis-garis random di atas kertas kosong.
“Hmm... gitu. Udah kepikiran genrenya? Kalo Arthur kan action, tentang seorang anak presiden yang mencari tahu penyebab kematian ayahnya. Nah kalo kamu pengen bikin kayak gimana?”
“Nah itu... Aku masih bingung, kira-kira apa yaa?”
Kami sama-sama terdiam, aku memikirkan semua kesukaan Anna yang kutahu. Sesekali kami saling tatap. Aku ingat satu tulisan Anna yang menunjukkan kecintaannya pada negeri Belanda dan kesukaannya pada bunga-bunga tulip disana.
“Aku kepikiran florist,” kataku, menatap Anna.
“Florist?” Anna tersenyum membalas.
“Gimana?”
“Bagus, tuh. Aku suka,” Anna tampak antusias.
“Oke,” kataku mengambil buku kecil di kantong kemeja flanel.
“Oh bawa buku juga. Padahal aku udah ngerasa aneh, loh. Penulis tapi kok nggak bawa buku... Ternyata.”
“Bawa dong,” kataku, mengambil pena hitam di saku celana.
“Emang nggak salah, bawa pena juga ternyata.”
“Udah aku catet, nih. Kamu juga, yaa,” kataku, setelah mencatat.
Aku juga sempat mengira sebelumnya, bahwa Anna akan mengajakku untuk membuat satu cerita. Karena beberapa hari sebelumnya aku menulis caption di instagramku untuk mengajak siapa saja yang mau menulis bersama. Itu menjadi alasanku untuk membawa buku catatan kecil yang memang biasa kugunakan untuk mencatat ide-ide sebelum menulis, dan pena hitam yang baru saja dibeli sebelum sampai Starbucks.
“Oke, tokohnya seorang florist... Kira-kira dia cewek yang kayak gimana? Namanya, tampilannya, stylenya, idealismenya, datang dari keluarga yang kayak gimana... Yang paling penting, dia sedang mengejar apa. Itu penting buat syarat drama tiga babak.”
“Bentar, pelan-pelan dulu. Kalo namanya nanti dulu aja gimana? Aku pengen si tokoh ini feminis, kuat, independen. Pokoknya setara deh sama laki-laki, bahkan mungkin jauh di atasnya.”
“Aku nggak setuju!” tegas tolakku.
“Kenapa?” tanya Anna, mengernyitkan dahi.
“Percaya deh, bikin tokoh cewek feminis itu nggak akan menarik, kalopun menarik nggak semenarik tokoh-tokoh yang bukan feminis.”
“Kok gitu?”
“Bakal cepet buntu. Kita nggak bisa cerita soal kisah cintanya, asmaranya sama laki-laki, pandangannya tentang hidup, cinta, bahkan jodoh. Bakal ngebosenin deh, yakin aku.”
“Iya juga yaa,” kedua tangan Anna memegang pinggang, matanya menatap langit-langit Starbucks.
Anna mencoba menyamakan tokoh dengan dirinya sendiri. Aku paham betul bahwa Anna seorang yang independen bahkan Anna secara tidak langsung memberitahuku bahwa dia seorang feminis. Aku tak keberatan jika tokoh ini disamakan oleh Anna. Tapi untuk yang satu ini, aku jelas menolak. Banyak perempuan mengatasnamakan dirinya feminis tapi lupa atau bahkan tak paham bahwa gerakan feminisme lahir dari buah pemikiran seorang patriarki. Banyak pemahaman keliru yang berkembang seputar feminisme. Salah satu kekeliruan paling kuno soal feminisme adalah, bahwa seorang feminis pasti membenci laki-laki, padahal feminisme bukanlah ideologi kebencian.
“Kira-kira umurnya kisaran berapa? Dua puluh? Dua lima?”
“Dua lima keatas aja gimana? Umur-umur pas buat nikah.”
“Oke, ambil aja dua enam, yaa,” kataku, mencatat.
“Setuju,” Anna ikut mencatat.
“Kamu sambil pikirin namanya yaa, An,” pintaku, Anna mengangguk pelan.
“Aku suka bunga tulip, aku pengen kalo tokohku hidup di Belanda, negara penghasil tulip terbesar di dunia. Dia kuliah di luar negeri, setelah lulus punya satu toko bunga sendiri yang udah terkenal banget di sana. Punya sahabat yang ngerti dia banget, dia stylish. Pokoknya dia perfect banget-lah untuk seorang cewe,” Anna menjelaskan dengan semangat, aku fokus mencatat.
“Aku setuju... Yang penting bukan feminis,” senyumku, menatap Anna.
Sore hampir tiba, sudah lebih dari tiga jam kami duduk di meja yang sama. Capucinoku belum melewati setengah cup, aku melihat Anna tampak menikmati minumannya yang sudah melewati setengah cup. Starbucks mulai ramai, dipenuhi anak-anak muda yang datang beramai-ramai. Di belakangku sekumpulan orang membicarakan temannya sendiri, tentang aib keluarga yang seharusnya tak jadi santapan umum. Sialnya, mereka membicarakan hal itu saat temannya tak ada, mereka tertawa tanpa dosa. Aku sempat berpikir bahwa pilihanku untuk menyendiri adalah pilihan yang tepat. Lebih baik hidup sebagai penyendiri tapi banyak orang membicarakanku, daripada hidup berkelompok dan membicarakan hidup seorang penyendiri.
“Udah kepikiran namanya, An?”
“Hmm... Aku kok selintas kepikiran Ranum, yaa?” kata Anna memainkan penanya.
“Ranum? Maksudmu mateng? Buah yang mateng itu?” tanyaku memastikan.
“Bukan... Bukan, bukan.”
“Terus?”
“Yang aku maksud Ranum dari bahasa Skandinavia.”
“Artinya?” tanyaku penasaran.
“Rumah.”
“Oh... Menarik tuh, bagus... Tapi kenapa pilih nama itu?” kataku mengangguk pelan.
Setelah mencatat nama itu, aku melihat Anna terdiam, dia memejamkan matanya berulang kali. Aku menahan diriku untuk bertanya, terus menatapnya yang terlihat mengalami masa trans. Sesekali Anna mengedipkan matanya dengan cepat, seperti seorang pria yang menahan air matanya keluar. Lalu Anna menatapku, menarik napas, membuangnya—pelan.
“Aku pengen tokohku menghangatkan seperti rumah. Jadi seseorang yang selalu dicari karena karakternya—wataknya. Seorang yang optimis melihat dunia, seorang yang melihat lingkungannya sebagai rumah yang harus dijaga. Seorang yang paham betul konsep mencintai sesama manusia. Intinya dia manifestasi rumah dalam wujud manusia... Paham nggak?”
“Paham-paham,” kataku mengangguk cepat. Kata-kata Anna membuat perasaanku seperti diselimuti—seperti kehangatan yang muncul tiba-tiba, menyejukkan dan mendamaikan.
“Udah aku catet, nih,” kata Anna menunjukkan bukunya.
“Oke... Aku bacain lagi yaa. Namanya Ranum, seorang florist, umur dua enam, seorang yang optimis, rumah bagi setiap orang yang mengenalnya... Apalagi?” Aku menangkap mata Anna yang menatapku saat membaca buku catatan, Anna langsung mengelak lalu fokus pada bukunya.
“Dia suka nulis,” kata Anna.
“Oke...”
“Ayahnya tentara, ibunya petani tulip.”
“Wait,” kataku menaruh pena di atas buku.
“Kenapa?” tanya Anna.
“Ini kamu mau nyamain Ranum sama kamu?”
“Yaa, enggak. Cuma selintas kepikiran itu... Lagian ibuku bukan petani tulip.”
“Tapi ayahmu tentara,” kataku, menggaruk kepala.
Anna tersenyum, aku mengiyakan apa katanya. Semakin dekat sifat tokoh itu pada penciptanya, semakin mudah juga untuk membangun cerita. Meskipun Anna terus saja menjadikan Ranum sebagai tokoh yang sempurna. Bagiku menciptakan tokoh yang sempurna adalah pekerjaan mudah, tak ada tantangannya. Harus ada sesuatu hal yang membuat pembaca peduli pada tokoh Ranum. Yang membuat pembacanya merasa empati dan kasihan.
“Ayah Ranum mati waktu ibunya melahirkan Ranum. Ibunya mengidap Alzheimer yang bikin dia lupa kalo punya Anak,” kataku menyudutkan Anna.