Hari ini hujan turun lagi, aku tak bisa mendengar suaramu diantara rintik air yang jatuh menerpa atap. Sore ini aku masih ingin kau temani, mata ini begitu berat, terbebani rutinitas sehari-hari, tapi rasanya enggan menutup. Biarkan sekali lagi aku membayangkanmu dalam rintik hujan yang labil, mengikuti suasana hatiku saat ini. Aku seperti merasakan tertidur di sampingmu dengan kamu yang mengelus lembut pipiku. Dalam satu ranjang dan bantal yang sama napas kita bertabrakkan. Sesekali aku memejamkan mata, mencoba mengusir semua keinginan yang terlanjur lewat dalam kepala.
Hari ini, kamu menceritakan harimu yang cukup melelahkan, aku mendengar suaramu yang bergetar, menahan tangis yang terus mengikat. Hujan sore ini benar-benar menyamarkan tetes air matamu. Sekali lagi, senyum kita bertemu hingga bibir kita tak lagi berjarak. Kita terdiam, merasakan kedekatan yang tercipta begitu sederhana, aku ingin memelukmu, menghangatkanmu melebihi selimut-selimut itu. Kedua tanganmu menyentuh leherku, menghangatkanku. Aku mengelus punggungmu, kita masih terdiam, tersenyum dalam bibir yang tak berjarak. Akhirnya kita tertidur, menikmati semua keinginan dalam mimpi.
Hujan turun lagi, kamu menarik selimut, memelukku dibaliknya. Erat, semakin erat, seperti seorang yang tak ingin kehilangan. Ujung bibirmu menyentuh lembut pipiku, aku menahan geli, kamu terus melakukannya, menggodaku. Selimut menutupi tubuh kita sepenuhnya.
Hujan, begitukah rindu diciptakan? Seperti dinding yang memisahkan dua tempat, begitu beratkah seorang perlu menanggungnya. Apakah dua manusia yang baru saja bertemu boleh saling merindu? Aku bertanya, suaramu menyamarkan suaranya. Bahkan kita berdua tak ingin menutup obrolan ini, menunggu siapa dulu yang akan mulai bicara—hanya menunggu.
Malam hampir tiba, maghrib mulai berkumandang, rintik hujan masih turun, aku mendengarnya terus menerpa atap. Aku tahu kamu belum mau berpisah. Aku tahu kamu tersenyum membaca ini. Aku tahu kamu ingin terus melihatku membalas semua ucapanmu. Baru kali ini aku melewati hari bersamamu, orang yang bahkan tak pernah aku kira bisa dalam satu meja. Aku tak pernah ragu atau risau, meski kita jauh, aku tetap merasa dekat. Bukankah begitu makna rasa diciptakan?
Hujan berhenti tepat pukul enam. Cuaca berubah cerah. Saat kita berpisah, aku ingin memintamu melanjutkan kisah kita yang tertunda beberapa waktu. Semoga yang telah lama memelihara hatimu kalah oleh aku yang baru masuk duniamu.
Setiap hati punya hak untuk tak dilukai, karena membuka hati yang terluka tak semudah bilang aku cinta mati. Banyak orang jadi sulit membuka hatinya untuk orang baru karena terlalu merasakan kesakitan yang tercipta tanpa permisi. Dia datang seenaknya, tanpa udara dan suara. Banyak yang akhirnya memilih menangis di balik punggung, berniat agar air matanya tak diketahui siapa-siapa. Kenangan memang selalu berhasil melambatkan ingatan, semuanya jadi terlihat slowmotion, kenangan yang gelap selalu dipaksa terlihat terang oleh masing-masing dari jiwa yang terluka. Bahkan aku telah lelah menggambarkan perasaanku lewat kata-kata. Kata-kata selalu gagal membuatmu sadar, bahwa kaulah obat dari semua masalahku.
-----