Sisi lain kota kita menyisakan luka yang meradang. Apa yang dirindukan mentari pada pagi? Atau yang dirindukan Senja pada malam? Lalu, apa yang dirindukan awan pada langit? Hanya satu, sebuah pertemuan. Aku ingin bertemu lagi dengan Anna. Enam jam hari itu adalah jam-jam terindah dalam sejarah hidupku. Rasanya seperti hidup dan menyelami setiap inci pikirannya. Bahkan setelah pertemuan itu, sudah banyak hal yang ingin aku tulis di blog. Sesuatu tentang Anna. Semua tentang dirinya. Caranya berbicara, menatap, tertawa dan tersenyum. Aku kecanduan akan dirinya.
Pernahkah kamu bertemu seseorang yang membuatmu membayangkan untuk bisa hidup bersamanya? Aku pernah, dan itu Anna. Aku menggambarkannya disetiap tulisanku, Anna menuliskanku disetiap lukisannya. Anna melengkapi sela-sela jariku, mengisi setiap relung & guratan takdir perjalananku. Setelah hari itu aku menjadi takut akan waktu yang melesat cepat ketika kita bersama. Sebelum aku menyesal, aku ingin mulai jujur pada Anna tentang perasaanku di pertemuan kami selanjutnya. Aku tahu penyesalan adalah hak sang waktu, jika aku tak mulai jujur, mungkin seterusnya aku mulai membenci diriku dan akan terasa menyakitkan.
Satu hari setelah pertemuan itu, aku melihat tulisan Anna yang diunggah di blognya. Aku membacanya habis berulang-ulang. Aku merasakan ada sesuatu dalam tulisan Anna yang terinspirasi dari tulisan yang kuberikan sore itu. Anna menuliskan kecintaannya pada seorang yang bisa menulis. Baginya para penulis adalah orang-orang yang pikirannya bebas namun tetap punya stuktur yang jelas. Anna menuliskannya dengan bahasa-bahasa khas para wanita yang lembut dan menyentuh. Aku merasa bahwa Anna sedang mengirimkan pesan untukku, semacam bermain kode. Sayangnya, aku sedang tak ingin membalasnya lewat tulisan. Aku ingin mengajaknya bertemu sekali lagi. Karena wanita tak mungkin mengajak pria untuk kedua kalinya. Mereka selalu menunggu, maka aku berniat memulainya lebih dulu. Sehari setelah pertemuan itu, aku mengirimkan Anna pesan melalui WA.
“An, kapan bisa ketemu lagi? Aku udah dapet tokoh cowoknya, nih.” (19.09)
“Minggu depan kemungkinan aku bisa. Tapi aku bawa temen, ya.” (19.11)
“Siapa?” (19.12)
“Ya adalah pokoknya,” (19.15)
“Jangan bilang cowok itu?” (19.16)
“Bukan! Lihat aja besok. Jangan sok tahu, deh.” (19.17)
“Okedeh, ketemu dimana?” (19.17)
“Starbucks aja.” (19.18)
“Okedeh.” (19.18)
Pernahkah kamu merasa hilang dan kekurangan ketika sebuah percakapan sebenarnya tak ingin diakhiri begitu cepat. Rasanya seperti ada yang menghalangimu, seperti ada rasa gengsi yang membentang bagai tembok tinggi. Ketakutan tak dibalas saat memulai dulu. Di lain sisi, terus terpikir karena tak berani memulai. Aku tak pernah ingin mengakhiri percakapan bersama Anna, rasanya tak pernah ada kata lain selain dia. Pikiran yang diadu tapi hati selalu merindu. Aku menunggu beberapa saat, melihat ruang obrolan. Anna tak membalas. Ada sedikit rasa kecewa, rasanya seperti ditekan di bagian dada. Beberapa menit yang membuatku mati suri. Anna terlalu narkotik untukku.
Perasaan memang sepatutnya dipelihara, ketika tak ada orang lain yang mau dan mampu, terpaksa diri sendiri yang melakukannya. Tak ada yang benar-benar bisa memelihara perasaanku kecuali Anna. Bahkan ketika dia tak memintanya lebih dulu. Aku menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan. Tak ada yang mengerti jalan selanjutnya, episode selanjutnya. Yang ada hanya kejutan yang bisa membuatku bahagia atau kecewa. Aku suka dengan perasaan ini, campur aduk—tak pasti. Perasaan jadi lebih sensitif, mudah tersentuh bahkan hanya dengan tatapan sekelebat atau satu pesan dari Anna.
Aku merasakan ada di puncak kegilaan. Seperti merasakan kaki yang menyentuh bibir pantai, air-air laut menyentuh ujung kaki perlahan. Menyentuhnya bergantian, pelan namun pasti. Persis seperti itu perasaan ketika bersama Anna. Dia selalu bisa menyentuh perasaanku pada waktu yang tepat, tak tergesa-gesa. Meski aku tak pernah tahu, apakah aku berhasil menyentuh inti jantungnya. Aku merasa menjadi manusia beruntung meski hanya mampu menatapnya dalam kebisingan, menikmati senyumnya dalam raut muka ceria, atau melihat tawanya dalam kegembiraan tak terduga.
Beberapa menit menunggu, merasakan ketidak-pastian yang menyekat terlalu lama. Aku jatuh bahkan pada pesan pertama Anna. Tiba-tiba ponselku berdering, Anna menelponku, debar jantung berubah jadi badai di lautan. Aku tak bisa mengendalikan perasaanku detik ini juga.
“Hallo, An?” kataku sedikit terbata.
“Eh, kalo bisa bawa buku-buku bacaanmu, yaa. Aku mau pinjem lagi.”
“Buku? Novel atau apa?”
“Hmm… Novel aja deh, aku pengen tahu kamu bacanya apa.”
“Oke. Kamu juga yaa, bawa buku bacaanmu,” kataku membalas.
“Buku apa?” tanya Anna.
“Terserah… Yang lagi kamu baca sekarang aja, An.”
“Okedeh,” Anna menjawab, setelahnya kami terdiam, belum ada yang mau menutup ruang telepon itu. Aku mendengar lembut suara keriuhan udara, merasakan debar jantung yang tak terkompromi. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Anna masih diam, belum menutup teleponnya.
“An…” kataku memanggil. Anna masih diam.
“An?”
“Eh iya… Sorry-sorry, kenapa?” tanya Anna, setelah aku menunggu beberapa detik.
“Ada lagi, nggak?” tanyaku.
“Maksudnya?”
“Ada yang mau diomongin lagi, nggak?” senyumku.
“Oh… enggak, udah itu aja,” kata Anna setengah terbata.
“Iyaudah, aku tutup, ya,” kataku.
“Hmm… iya,” balas Anna setengah rela.
Aku menutup telepon, meski ada rasa yang tertinggal, tetap saja, apa yang dilihatkan Anna barusan cukup jelas bagiku. Ketika seorang wanita tak sanggup berkata atau mengalami kebingungan ketika bersama seorang pria. Biasanya ada perasaan yang pelan-pelan telah mengendap di hatinya. Menunggu untuk diambil, karena banyak wanita masih percaya pada dalih bahwa wanita harus menunggu, tak boleh memulai lebih dulu. Dalih yang membuat banyak pria merasa mengalami kegilaan tak berujung. Ada yang nekat balas dendam, akhirnya keduanya sama-sama menunggu, tak ada yang mau bilang dulu, yang akhirnya sama sekali tak bersatu.
-----
Pagi itu ada ingatan yang diadu di pinggir jalan, aku melihat ibu-ibu yang membiacarakan acara malam tadi, sebuah ajang pencarian bakat yang tampaknya sangat narkotik di kepala mereka. Aku mendengarnya riuh, semakin lama, semakin banyak yang bergabung. Ada yang membawa sapu lidi, ada yang tak memakai alas kaki, bahkan ada yang rambutnya masih berantakkan. Aku melihat kebahagiaan yang dibagi, meski tampak sederhana. Tapi bukankah itu makna kebahagiaan diciptakan? Tak perlu sesuatu yang mewah untuk dibagi dan dinikmati bersama.
Aku belajar dari burung-burung gereja yang hinggap di kabel-kabel listrik pagi itu, sejajar—indah, dengan suara khas yang terdengar damai di telinga. Aku ingat malam tadi, kubawa ingatan itu di pagi bening yang membagi dingin. Rutinitas setiap pagi, menaiki sepeda hitam untuk berkeliling. Pagi selalu membawa suasana hangat yang tak bisa dibeli, hanya bagi orang-orang yang mampu melewati dan memulainya dari awal. Aku lebih suka fajar dari pada senja. Tak ada pretensi apapun saat aku menatapnya. Berbeda dengan senja karena sudah terlalu banyak manusia yang mencintainya, sehingga banyak opini yang diadu soal apa makna senja sebenarnya.
Waktu berlalu begitu cepat, aku tak kuasa membawa pikiranku pada perasaan-perasaan abu yang minta ditiru. Ada sesuatu yang membuatku hilang kendali, aku ingin membawakan buku yang paling kusukai, supaya saat Anna tanya aku bisa dengan mudah menjawabnya. Aku ingin membawakan beberapa buku, aku ingin mengungkapkan perasaanku lewat sebuah buku. Aku ingin ketika Anna tanya soal inti ceritanya, dia menangkap simbol-simbol yang kukirimkan. Aku percaya, Anna wanita yang cerdas, pasti mengerti apa maksud dalam hati.
“Aku udah di Starbucks, ya,” kata Anna dalam satu pesan whatsappnya.
“Oke,” balasku.
Starbucks masih belum terlalu ramai, aku datang hanya beberapa saat setelah jarum jam menunjuk tepat pukul sebelas pagi. Hari itu cuaca cerah. Dari luar aku bisa melihat seorang pria duduk di depan Anna, tampak tertawa. Aku berjalan mendekat, mulai mengenali pria itu. Seorang yang tingginya melebihiku, seorang pria yang cukup dikenal oleh guru dan para siswa di sekolah.
“Hey,” kataku menyapa Anna.
“Hai juga...” balas Anna.
“Hallo, Ram. Gimana kabar?” kataku menyalami Rama, salam antar pria.
“Sehat... Alhamdulillah,” balas Rama. Aku menatap Anna, mengernyitkan dahi—bertanya. Anna hanya tersenyum membalas. Aku tak menduga ada Rama duduk di depan Anna. Aku berlalu menuju bar, memesan minuman, sesekali melihat Anna dan Rama yang asik mengobrol. Aku memesan green matcha, persis yang dipesan Anna saat pertemuan pertama.
Aku kembali, duduk di samping Rama, sembari menunggu namaku dipanggil.
“Pada ngobrolin apa? Seru banget...” tanyaku saat duduk.
“Ini, Si Rama cerita kucingnya di rumah,” jawab Anna.
“Oh... Dari mana, Ram?” aku memegang pundak Rama—Anna menatap genggamanku.
“Ini beli buku, semalem Anna ngajakin. Lagi ada pameran,” kata Rama menatapku.
“Hmm,” aku mengangguk, semakin kencang memegang pundak Rama. Setelahnya salah seorang barista memanggil namaku. Kuambil minuman itu lalu kembali duduk.
Rama persis sepertiku, memakai hem yang ditekuk hingga menyentuh ujung siku. Hem biru bercorak itu serasi dengan blus yang dipakai Anna. Anna memakai bowler hat dan kacamata bening dengan frame berwarna hitam. Bentuknya hampir menyerupai kacamata John Lennon, hanya bagian depan framenya tak bundar sepenuhnya. Anna tetap terlihat cantik, meskipun aku melihat raut mukanya yang sedikit pucat. Aku khawatir dengan apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
“Iyaudah, aku pulang dulu, yaa,” kata Rama, menatap Anna.
“Loh langsung balik, Ram? Kok buru-buru,” tanyaku.
“Iya, ada urusan. Sorry yaa,” balas Rama, menatap Anna.
“Okedeh, hati-hati, ya,” kata Anna singkat.
“Hati-hati bro,” kataku menepuk pundak Rama.
Rama berlalu, aku melihat Anna yang fokus menatap Rama—membuka pintu hingga sosoknya ditelan bangunan. Aku berpindah, duduk di depan Anna—tempat duduk Rama sebelumnya. Menyeruput minumanku yang terasa lembut di lidah. Aku tersenyum menggoda Anna, sembari membuka tas yang kubawa.
“Kenapa sih? Bukan... Bukan dia,” pipi Anna memerah.
“Ih, memang aku bilang dia? Kepedean kamu,” aku mengambil pena dan buku catatan yang lebih besar dari yang sebelumnya kubawa.
“Jangan salah paham pokoknya,” kata Anna memohon.
“Lah, kamu kenapa sih, An?” kataku menggoda.
“Yaa, nggapapa, takutnya kamu salah paham.”
“Enggak kok. Santai aja.”
Anna menatapku yang sibuk membuka buku dan merapikan tas yang kubawa. Seperti seorang yang hendak menggoda, dagunya tertumpu pada satu tangan. Aku hanya sesekali meliriknya, berlagak tak tahu apa-apa.
“Kamu bawa buku gambar buat apa?” kata Anna memegang buku gambar yang ada di tasku.
“Salah satu barang penting buat nulis, nih.”
“Buat apa?” tanya Anna penasaran, mengambil buku gambar ukuran A3.
“Buat bikin sketsa, denah. Macem-macem lah pokoknya.”
“Owalah, aku malah baru tahu, loh.”
“Kayaknya cuma aku yang pake buku gambar buat bikin sketsa.”
“Ohiya? Lah penulis lain?”
“Nggak paham juga sih.”
Anna membuka tasnya, tas yang sama seperti yang dibawa sebelumnya. Dia mengambil satu buku dengan sampul berwarna hitam. Buku ‘Steal Like An Artist”. Karya Austin Kleon.
“Nih, aku bawain... Buat kamu,” Anna memberi sebuah buku padaku.
“Wiih, kamu baca Austin Kleon juga?”
“Iyadong, kamu?”
“Oh enggak, cuma tahu aja siapa dia,” kataku menggeleng pelan—melihat sampul buku itu.
Steal Like An Artist adalah buku yang mengemukakan kreativitas dari hasil mencuri cara orang lain. Seperti pebasket Kobe Bryant yang mencuri gerakan dari idolanya. Atau Steve Jobs yang membuat Mac hasil mencuri ide dari Xerox. Bahkan The Beatles adalah musisi yang awalnya hanya menyanyikan lagu-lagu musisi lain. Buku ini menafsirkan bahwa tak ada yang benar-benar orisinil. Semua kreasi datang dari sesuatu yang pernah ada. Kreativitas adalah soal proses, tak tumbuh begitu saja. Mencuri ide adalah awal menumbuhkannya. Steal Like An Artist adalah buku pendobrak bagi siapa saja yang ingin berkarya tapi masih tertahan.
Aku sudah membaca habis buku itu, aku mengaku belum membacanya pada Anna agar dia tak menyalahkan diri karena membawa buku yang sudah pernah kubaca. Lagipula saat aku meminjam buku, itu artinya aku harus mengembalikkannya. Yang sudah pasti menjadi kesempatanku untuk bertemu Anna kembali.
“Makasi, yaa,” senyumku menaruh buku itu ke dalam tas.
“Buat aku mana?” tanya Anna.
“Nih,” kataku memberikan buku setelah mengambilnya di dalam tas.
“Animal Farm... George Orwell,” Anna mengeja judul buku itu.
“Pernah baca nggak?”
“Bentar, kayaknya udah deh. Aku inget-inget dulu,” Anna membuka halaman demi halaman.
Anna masih membuka halaman dalam buku itu, berusaha mengingatnya. Aku telah siap memberikan buku kedua yang kubawa untuk Anna jika Animal Farm sudah pernah dibaca.
“Ini yang Snowball di gulingkan sama Napoleon itu bukan, sih?” Anna berusaha mengigat.
“Iya, bener.”
“Udah baca nih aku,” Anna mengembalikkan buku itu padaku.
“Menurutmu gimana ceritanya?” tanyaku.
“Aku sih kurang suka.”
“Kita beda berarti. Aku malah suka banget. Ini novel politik, nampar manusia lewat tokoh-tokoh hewan. Snowball, Napoleon, Boxer, Mollie. Ini tuh semacam penerapan marxisme di dunia nyata. Gambaran kotornya politik, penuh intrik dan kepentingan. Aku suka gaya Snowball memimpin. Tapi, orang-orang baik kayak Snowball justru digulingkan.”
“Tokoh favoritmu siapa?” tanya Anna.
“Hmm... Boxer!” kataku setengah tertawa.
“Ohiya Boxer! Aku juga suka tuh,” Anna ikut tertawa.
“Inget waktu dia dibawa truk jagal, nggak?” tanyaku.
“Inget! Itu sedih banget, sih.”
“Yang paling berjuang mati-matian, yang hidupnya paling sengsara,” kataku menambahi.
“Namanya juga hidup,” kata Anna setelah meminum frappucino.
Aku menatap Anna, rasanya seperti ada diantara keriuhan, jantungku bedebar lebih cepat dari biasanya. Aku ingin segera mengatakan soal perasaanku. Aku ingin segera menjadikannya sasaran tembak. Terlepas tentang aku atau dia, tapi perasaan harus segera diungkapkan sebelum jadi basi dan tak relevan lagi untuk didengar.
Beberapa kali memikirkan itu, aku seperti dihadang oleh gerbang besar yang tertutup. Seperti ada sebuah simbol yang menyuruhku untuk tetap bersabar, menunggu waktu yang tepat baru bisa bicara. Aku melihat gerbang itu masih terbuka pelan-pelan belum terbuka lebar. Aku melihat keteduhan pada sepasang mata milik Anna.
Anna memakai sepatu kets merah, persis sama yang dipakai tempo hari. Anna memakai rok panjang hitam yang ujungnya menyentuh mata kaki. Lengan blusnya dilipat hingga menyentuh ujung siku. Aku jadi tahu bahwa kesempurnaan memang ada, seorang wanita di depanku yang sedang menutupi sesuatu, raut muka itu tak pintar menutupi. Aku tergoda menanyakan hal itu.
“Kamu lagi nggak sehat, yaa?” tanyaku.
“Kok tanya gitu?”
“Nggapapa, cuma mastiin aja, mukamu pucat.”
“Masa sih?” Anna menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Nah sekarang enggak… Kelihatan cantik,” senyumku menggoda.
“Astaga, ternyata gombal,” Anna terkekeh.
Memang sedikit sulit mencairkan suasana pada setiap obrolan yang kita inginkan untuk tetap pada garis intinya. Untuk mengungkapkan perasaan yang sudah mendobrak, tak tahan untuk terus berada di dalam. Aku berusaha membuat Anna merasakan kenyamanan saat bersamaku. Rasanya lebih sulit dari yang lalu. Aku jelas menginginkan Anna, dan hari ini adalah kesempatan langka yang mungkin sulit untuk terulang kembali. Aku tak tahu harus memulai dari mana.
“Nih, An. Aku ada satu buku lagi,” kataku memberikan buku pada Anna.
“Bumi Manusia?” tanya Anna.
“Iya, Pramoedya,” senyumku.
“Aku nggak baca novel-novel klasik,” Anna mengembalikkan buku.
“Ini, kan Roman,” kataku mengambil buku dari tangan Anna.
“Sama aja… Aku baca novel yang ringan-ringan, yang nggak perlu kebanyakan mikir. Baca buku tuh merefresh otakku. Aku belum tentu baca buku itu. Tebal lagi.”
“Ohgitu… Memang kamu suka baca novelnya siapa?” tanyaku.
“Banyak! Aku paling suka Ika Natasha.”
“Kamu nggak suka banyak mikir waktu baca, tapi kamu suka novel-novelnya Ika Natasha?” tanyaku kesal.
“Iya… Kenapa?”
“Nggapapa, aku juga baca beberapa novelnya. Kamu udah baca Critical Eleven?”
“Udah… Tapi belum selesai.”
“Aku udah selesai baca.”
“Ohiya? Gimana menurutmu?” Anna antusias.
“Menurutku ini novelnya Ika yang paling kurang… Gampang aja gitu dia menciptakan tokoh-tokoh yang sempurna, hedonistic, mewah, glamour. Ika kayak berpretensi—penuh dalih. Baca Critical Eleven Nggak kayak baca buku dia yang sebelum-sebelumnya. Critical Eleven itu nggak punya estetika kata. Dia nggak menyentuh aku sebagai pembaca… Menurutku sih kurang.”