Tentang Anna.

Zahid Paningrome
Chapter #6

Surat Untuk Anna

Ada hal yang tak aku mengerti atau mungkin belum aku ketahui. Bagaimana cara galaksi diciptakan, bagaimana cara bintang mempunyai cahayanya sendiri, kenapa matahari yang berukuran besar seperti itu masih saja ada yang melebihi ukurannya. Kenapa? Aku bertanya kenapa Albert Einsten bisa sangat terkenal, padahal dia sama sekali tak bisa menyelesaikan sekolahnya. Apa karena dia mengemukakan teori relativitas lalu menjadi terkenal? Hanya itu? Kalau memang begitu, orang-orang biasa bisa menemukan teorinya masing-masing lalu jadi terkenal. Nyatanya tidak. Tak ada orang biasa yang terkenal, melejit langsung seperti Einstein. Kenapa? Adakah jawaban yang bisa memuaskanku?

Lalu kenapa aku ditakdirkan untuk menulis? Untuk membaca? Untuk menemuimu? Untuk mencintaimu? Kenapa? Kenapa harus kamu? Aku mencintaimu yang dicintai orang lain. Meski kamu tak mencintainya benar-benar, karena kamu lebih memilih mencintai orang yang bertolak belakang denganmu. Kamu bilang itu seimbang karena alam saja butuh penyeimbang. Aku bilang itu aneh. Bukankah menjadi sama adalah impian banyak orang? Bukankah beras yang ditimbang harus sama dengan ukuran pemberatnya. 

Kenapa aku harus pergi jauh untuk menemuimu, kenapa harus mengorbankan waktu. Tempatmu bukan jarak yang dekat. Itu sangat jauh. Meskipun pada akhirnya kita bertemu untuk melepas rindu. Aku tak akan melarangmu pada apapun yang kamu lakukan. Aku hanya marah jika kamu memutuskan meninggalkanku sendiri, karena aku sudah pergi sejauh ini.

Rinduku mencair ketika kamu menemuiku. Terimakasih untuk satu hari di Starbucks, tempat yang tak pernah terpikirkan olehku, terimakasih untuk satu pelukanmu sore itu. Terimakasih karena kamu melihatku dari apa yang aku lakukan, bukan lainnya. Terimakasih untuk tangis yang kita bagi berdua, dengan tangan kita yang saling menyentuh wajah yang merona dan merindu. Aku selalu takut akan waktu yang melesat cepat ketika kita bersama. 

Aku tak ingin menyakitimu. Suatu kehormatan bagiku untuk bisa mencintaimu, duduk denganmu dalam dua waktu yang sangat lama, aku merindukan itu. Aku justru bahagia jika hatiku dipatahkan oleh wanita sepertimu. Wanita yang sejak awal menghidupkan setiap tulisanku. Wanita terakhir dari permainan ini, kisah yang aku tulis sendiri.

Hari ini, satu hati terpaksa ditutup lagi. Melihat gelap yang tak dilihat siapa-siapa. Kehancuran bagi umat manusia hanya sebatas dada. Di dalamnya tumbuh semua rasa yang bisa menggetarkan seluruh organ, nadi, darah, saraf dan merusak otak, membelah tangis dari air yang tak basah. Manusia memang tak pernah mengerti bagaimana susahnya membuka hati yang pernah terluka, bahkan berkali-kali. Jadi apa yang perlu dibuat?

Segala yang pernah terucap hanya jadi metafora yang mengambang di langit-langit malam, membangunkan angin yang lama terdiam, menggerakkan dingin yang lama panas. Semua kata hanya jadi baris tanpa makna, sepasang kekasih yang tak perlu menetap lagi tapi masih ingin menatap. Adakalanya hati dibuat untuk terus disakiti, membuatnya jadi tahan banting, bisa merasakan hal-hal kasar, namun tak bisa lagi merasakan kelembutan-kelembutan. Sendiri menjadi pilihan, karena hati sudah tak bisa lagi merasa.

Hari ini, semua peluh keringat jatuh di kening malam, keanehan yang tak biasa terjadi. Malam yang selalu menawarkan dingin, terasa panas bagi jiwa-jiwa yang kehausan dikasihi. Malam-malam tak pernah sama lagi, mengubah sepasang kekasih jadi badai perang perasaan. Antara melepas atau mengikat. Mengingat yang tak bisa teringat, mengikat yang tak terikat, melepas yang tak terlepas.

Tak ada malam singgah di matanya, mengubah semua kenangan jadi abu kematian sendiri, menyentuh inti yang sakit, merebut kembali yang diambil. Pikiranku menjadi ladang perang yang berkecamuk sendiri. Kesakitan yang abadi benar-benar terjadi, telah berapa lama seonggok hati itu tertutup dan tak diketuk. Mendiami sisi kelam yang tak terang. Terkunci oleh perasaan sendiri. Jadi, siapa yang akan mengetuk lagi pintu itu?

Anna seperti pencuri bagiku, berbicara dengan nada yang semangat namun lembut lalu pergi, meninggalkan bekas yang teramat dalam, tak bisa kutinggal barang sedetik. Aku yakin pertemuan di Starbucks bisa terjadi karena kami saling menghargai. Semua orang pasti sangat paham cara mencintai, karena rahmat itu menyertai setiap manusia dari mereka lahir. Sama dengan Anna, aku menemukan cahaya yang tidak kutemukan pada perempuan lain. Aku terlahir lagi secara emosional setelah Anna pergi, dan aku menunggu pertemuan itu datang lagi.

Lihat selengkapnya