“Hey, kamu,” satu line message masuk ke ponselku.
“Sorry, ini siapa?”
“Aku barusan baca tulisanmu yang ‘Suara (Suara) dalam kepala’. Oder was ich vergesse. I’m drowning. Such a beautiful lines... Aku pikir kamu perlu tahu aja pendapatku.”
“Owalah kamu. Thankyou, btw.”
“Iya. Aku pengen tahu maksud tulisan kamu apa.”
“Maksud? Relatif, tergantung setiap orang yang baca... Kalo yang kamu tangkep soal tulisan itu apa?”
“Emm... Apa yaa... Terlalu luas, imajinasimu liar banget.”
“Menurutmu aja, apa yang kamu tangkep... Aku pengen tahu.”
“Well, Black, Key and Soul merepresentasikan orang-orang zaman sekarang. Black, orang yang sombong. Key, orang yang menerima mentah-mentah kesombongan Black. Dan Soul, orang yang nggak suka sama sikapnya Black, tapi ternyata dia munafik. Bener nggak? Aku kurang jago masalah beginian.”
“Hampir betul kok... Jangan merendah gitu, ah. Aku menghargai semua jawaban orang-orang yang tanya ke aku apa maksudnya.”
“Hampir? Terus bagian mana yang keliru?”
“Nggak ada yang keliru. Aku nggak boleh menjudge opinimu,” balasku, menambahi emoticon senyum.
“Lalu kenapa hampir?” Aku pengen tahu apa maksud penulisnya.”
“Sebenarnya, Black, Soul & Key itu bagian dari diri kita sendiri. Itu cerita tentang seseorang yang terbelenggu sama dirinya sendiri. Nggak paham sama dirinya. Kita sebagai manusia punya banyak sifat. Ada yang udah kita tahu, ada juga yang belum kita tahu.”
“Soul adalah yang belum kita tahu? Bener nggak?”
“That’s right!”
“JIWA. Jangan sampai kita kehilangan jiwa kita sendiri. Cukup pikiran dan hati kita aja yang sempat hilang, yang sering berjalan nggak sesuai keinginan kita.”
“Okey... Black itu pikiran? Key itu hati?”
“Yes! Black is mind. Key Is heart... Pikiran kita selalu memikirkan hal-hal egois setiap harinya. Tapi kita selalu nggak sadar kalo itu egois... Soal pikiran kadang kita bingung sama pilihan yang kita tentukan sendiri.”
“Lalu tentang Key?”
“Soal hati jadi urusan kita masing-masing. Kita sendiri pun sebenarnya nggak bisa mengendalikan hati kita. Dia satu-satunya yang berjalan sendiri di dalam tubuh kita.”
“Acho... Menarik! Aku paling suka di bagian Sang Aku mendekati Soul sampai selesai.”
“Danke... Suka apanya? Bahasa? Cerita? Atau apa. Boleh kok di share kalo suka.”
“Aku suka sama gaya penulisanmu. Suka juga sama imajinasi yang tercipta... Udah aku share di twitter.”
“Oh, kamu punya twitter? Sini biar aku follow.”
“Punya... Blog juga punya.”
-----
Hampir setahun sejak telepon terakhir Anna. Aku tak lagi bisa bersua meski hanya lewat sosial media. Aku menyadari Anna adalah wanita kejam. Awalnya, Anna memblokir akun twitterku, setelahnya Instagram, Facebook, bahkan dia menghapus nomorku dari ponselnya. Suatu hari aku mencoba mengirimkan pesan. Anna menjawabnya—menanyakan siapa. Disitu aku mulai sadar, Anna mulai berdamai dengan masa lalunya. Berdamai denganku dan pelan-pelan melupakan semuanya.
Aku mulai kehilangan arah. Hanya bisa menulis untuk melupakan semuanya. Rasa sakit yang terus ada membuatku menyadari satu hal. Mungkin Anna adalah seseorang yang dikirim Tuhan untuk mengujiku. Aku terus menulis berharap Anna membacanya lalu menghubungiku sekali lagi. Harapan itu tak pernah datang. Tetap saja, aku menunggu untuk waktu yang lama. Menunggu hampir setahun—hingga hampir datang ulang tahunnya, sekali lagi.
Selama hampir setahun aku terus mencoba berdamai, membuka segala kemungkinan yang hendak masuk ke duniaku—membuka hati untuk siapapun yang mau memelihara dan menghuninya. Aku selalu gagal, sulit melupakan kenangan bersama Anna. Beberapa wanita yang mendekatiku tak satu pun berhasil membantuku melupakan Anna. Bahkan dengan berbagai cara sekalipun.
Aku benar-benar alpa soal Anna. Aku mencoba mencari tahu alamat rumahnya dari buku tahunan saat sekolah dulu. Aku tak menemukan apa-apa. Aku kesulitan memulai dari mana untuk menemukan Anna. Aku sengaja tak bertanya pada teman-temannya. Perasaan yang tumbuh di antara kami memang tak dibuat untuk diketahui banyak orang. Aku tak mau membuat Anna malu sebagai seorang wanita.
Setelah kejadian itu, aku membuat satu tokoh yang sering kutulis di blog. Banyak dari teman-temanku bertanya siapa wanita yang beruntung. Yang selalu ada di setiap tulisanku. Aku tak menyebutkan nama Anna. Aku memberikan kode nama—namanya Sophie. Beberapa dari mereka mencoba mencari tahu siapa sosok Sophie. Karena memang tak ada satu pun orang yang mengetahui bahwa sebenarnya aku mencintai Anna lebih dari yang lain.
Nama Sophie terus menghiasi tulisanku, mulai dari puisi hingga cerpen. Semakin banyak orang yang bertanya-tanya. Perasaanku semakin membekas tentang Anna. Tak ada satu pun obat yang berhasil menyembuhkannya. Sekalipun wanita yang banyak disukai para pria di sekolah dulu. Aku sempat mencoba membuka hati untuknya, mengiyakan segala ajakkannya untuk pergi keluar—sekedar nonton atau makan. Wanita itu memang lebih cantik dari Anna, tapi rasanya ada yang mengganjal. Aku terus berusaha menghilangkan perasaan itu. Aku tak mau mengecewakan seseorang yang berani masuk ke hatiku, dan dengan kesadaran penuh merelakan dirinya untuk membantuku keluar dari sakit yang terlalu lama menyekat. Tapi tetap saja, wanita itu gagal menolongku.
Sampai suatu hari, ada satu wanita yang menghubungiku karena jatuh cinta pada salah satu tulisanku berjudul, “Suara (Suara) Dalam Kepala”. Kami belum pernah bertemu lagi, hanya sesekali bersua lewat sosial media. Dia juga hobi menulis, sesekali aku membaca tulisannya untuk mengetahui seperti apa wanita ini. Karena sejatinya kita bisa mengetahui sifat manusia dari caranya menulis, dari caranya menceritakan sesuatu. Lewat tulisan semuanya terasa jujur, tak ada yang pura-pura. Karena sekalipun, memangnya untuk apa berpura-pura dalam menulis. Menulis itu soal bagaimana perasaan dan pikiran yang digerakkan.
Ada satu hal yang menghalangi kami untuk bertemu. Aku bingung, kenapa Tuhan selalu menghadapkan situasi yang tak mengenakkan untukku. Saat kami mulai dekat, sayangnya wanita itu sedang berada di tempat jauh untuk menyelesaikan kuliahnya. Jika Anna mencintai Belanda dan bercita-cita untuk bisa hidup disana. Wanita ini memilih Jerman sebagai destinasi hidup selanjutnya. Memilih bersekolah di sana setelah lulus SMA. Sama dengan Anna, wanita ini juga bercita-cita untuk hidup di luar negeri. Kecintaanya pada negeri ini telah menghilang karena orang-orang sekarat yang lebih diberi tempat.
Kami saling menghubungi lewat Whatsapp atau Line. Sesekali via skype hanya untuk saling menatap. Aku melihatnya seperti pembaruan Anna. Mengingatkanku pada Anna tapi tak membuatku kembali ke masa itu. Wanita ini selalu bisa membuatku menjadi diri sendiri, menolongku sedikit demi sedikit untuk keluar dari bayang-bayang Anna. Wanita dengan pemikiran yang terbuka. Hobi kami sama, menyukai membaca dan menulis. Kami sering memberikan rekomendasi buku yang perlu dibaca. Dia yang mencintai Eropa dan Aku yang mencintai negeri ini dari yang tak terkira.
Aku bahkan tak menyoalkan ketika wanita ini mengungkapkan sesuatu yang belum pernah dia bicarakan padaku. Bahwa dia memiliki kekasih di Jerman. Aku tak kaget sekalipun, wanita secantik dia pasti banyak pria yang datang dan mendekat. Aku justru merasa beruntung karena tak perlu susah-susah mendekatinya, justru dia yang memulai semuanya. Menganggap diriku pria paling misterius yang pernah dia temui hanya karena tulisan-tulisan yang ada di blogku. Aku memang selalu terjebak pada hubungan tak sehat. Dia yang sudah terikat dan aku yang berusaha keluar dari rasa sakit tentang Anna yang terlalu lama membekas tak bersuara.
Aku menikmati peranku sebagai orang ketiga yang berhubungan jarak jauh Jerman-Indonesia dan berbeda agama. Aku menikmati setiap kata yang dia tulis lewat setiap pesannya, menjadi haru saat bisa mendengar suaranya. Selalu senang saat bisa menatapnya meski hanya melalui video call. Wanita ini mulai berhasil membantuku melupakan kenangan tentang Anna. Aku tahu, dia hanya sebatas penasaran denganku, tak benar-benar jatuh cinta. Meskipun dia selalu bilang bahwa mencintaiku adalah hal yang paling tak bisa dihindari.
Aku berterima-kasih pada Tuhan yang dengan senang hati mengirimkanya untukku. Entah sebagai pengganti atau hanya menjadi obat. Aku selalu menunggu peran apa yang akan Tuhan berikan, menunggu setiap kejutan yang dihadirkan dalam hidupku. Tak bisa dipungkiri, meski kenangan tentang Anna sesekali datang tiba-tiba. Aku selalu bisa dengan cepat menghilangkannya, berkat wanita ini—yang membuatku hilang kendali pada hati dan pikiran.
Aku berharap, supaya kami bisa cepat bertemu. Menunggunya untuk pulang ke Indonesia. Menulis cerita bersama, persis seperti janji yang dibuat bersama. Aku tak peduli tentang hubungan dengan kekasihnya. Aku tak peduli pada perasaan bersalah yang aku yakin, pada akhirnya akan menghantui wanita ini. Bahkan bila perlu, aku akan merebutnya. Paku sudah terlanjur ditancapkan begitu dalam. Tak ada yang bisa menghalangi sekalipun kesadaran yang akan muncul tiba-tiba.
-----
Untuk kesekian kalinya, aku sulit menjelaskan perasaanku. Hari ini, hari ulang tahun Anna. Ulang tahun kedua yang kulalui tanpa hubungan yang dekat—tak terikat. Aku sudah menyiapkan puisi untuk Anna. Berharap sekali lagi Anna menghubungiku, persis seperti ulang tahunnya setahun kemarin. Meski sejak itu aku tak pernah bisa menghubungi Anna, rasanya seperti melihat lautan tanpa nelayan, tanpa ombak, tanpa senja—hanya buang-buang waktu.
Aku terus belajar melepaskan Anna, menuliskannya supaya aku bisa benar-benar mengeluarkannya dari pikiranku. Meski mungkin setengah hatiku masih bersamanya, Anna adalah masa lalu yang tak perlu diingat lagi. Tapi juga tak perlu dilupakan. Melupakan masa lalu hanya akan membuang waktumu. Bukankah ingatan dibuat hanya untuk mengingat hal-hal yang sudah berlalu? Bukan justru menghilangkannya secara paksa.
Di hari ulang tahunnya, aku menulis dua puisi khusus untuk Anna di blogku. Berharap sekali lagi Anna membacanya. Aku masih yakin bahwa Anna belum sepenuhnya lupa pada kenangan bersamaku. Setiap tulisan tentang Anna adalah usaha dari upayaku melupakan kenangan itu. Berusaha melanjutkan hidup tanpa bayang-bayangnya. Kenangan itu benar-benar merusak peranku, tak ada esensi yang jelas dari manfaat mengenangnya. Aku hanya alpa—entah harus berbuat apa. Hanya perlu diselamatkan.
“TAKUT”
Aku takut ketika malam
tak lagi bisa menemani.
Kamu hilang dan pergi tak mengabari.
Dan aku hanya bisa menyesali diri,
belum berani bilang soal rasa ini.
Aku takut ekspektasi membuatmu hilang diri,
melupakanku yang tak lagi berarti.
Mulai hari ini, aku harus sadar diri,
memilikimu bukan janji yang bisa ditepati.
Aku hanya bisa menyampaikan rasa melalui puisi ini,
Selamat menempuh umur baru,
kamu yang menguasai mimpiku.
Yang melebihi kekuatanku,
dalam debar dan doa pagiku.