Tahun baru telah tiba. Aku masih dengan kesendirianku. Masih entah merasa apa, Si Wanita Jerman itu masih sering menghubungiku. Aku menikmati situasi ini, saat dia merasa merinduiku. Kami saling melempar canda dan perasaan yang sama-sama tak bisa memiliki. Dia berjanji akan pulang ke Indonesia setelah menikmati tahun baru di Jerman bersama kekasihnya. Aku menunggu saat-saat itu.
Novel pertamaku sudah hampir selesai. Mulai memasuki proses editing. Aku benar-benar menjadikan Anna sebagai tokoh utamanya. Saran dari Wanita Jerman itu benar-benar mencerahkanku. Aku lebih suka menyebutnya seperti itu, supaya kamu sebagai pembaca mempertanyakan siapa sebenarnya wanita ini. Aku menantangmu untuk mencari tahu, lalu kabari aku jika kamu yakin sudah menemukan orang itu. Tidak sulit—aku yakin.
Novel pertamaku kutulis sebulan sejak percakapanku dengan wanita itu. Novel tentang kehidupan pasca perang dunia ketiga. Mengisahkan seorang wanita yang membuat kelompok untuk mencari tahu penyebab perang dunia ketiga pecah. Novel itu benar-benar menghabiskan waktuku. Aku seperti menjalin hubungan yang intim dengan naskah itu. Tak ada orang yang mengetahui bahwa aku benar-benar sedang menulis sebuah novel. Sekalipun keluargaku sendiri.
Aku sengaja merahasiakannya. Aku ingin memberikan kejutan, memberi kebahagiaan yang tak akan terlupakan. Karena bagiku bahagia tidaklah sederhana. Perlu ada yang berkorban atau bahkan dikorbankan. Bahagia yang sederhana adalah membahagiakan diri sendiri dengan cara yang memang biasanya dilakukan, seperti berkumpul bersama teman-teman atau sekedar pergi nonton dan makan.
Sudah menginjak bulan keenam sejak aku mulai menulis novel pertamaku. Aku menulisnya pelan-pelan, seperti kata bapak, “Menulislah dengan hati, pelan-pelan tapi pasti. Jangan paksakan dirimu untuk menulis. Keindahan selalu datang dari dalam diri—tanpa paksaan.” Aku memegang teguh kata-kata itu. Aku menulisnya hari per hari sebanyak satu sampai lima lembar. Bahkan, sesekali aku hanya menulis satu lembar dalam satu hari.
Sejak menulis di hari pertama, aku tak pernah tahu bagaimana cerita itu akan mengalir. Bagaimana endingnya, dan bagaimana perjalanan tokohnya. Aku benar-benar memanfaatkan spontanitasku. Dengan tetap meriset apa-apa saja yang aku butuhkan sebagai pendukung. Sekaligus memancing ide keluar, menangkap bola bukan menunggu bola datang.
Aku banyak membaca buku dan menonton film yang membicarakan masa depan, sebagai salah satu cara riset dan untuk menanam ide tanpa menjiplak ceritanya. Aku hanya melihat sense of logic dari unsur garapan ceritanya, landasan berpikir dan cara kisah itu diceritakan. Aku punya waktu untuk membaca dan menulis. Dua hal itu kupisah dalam rentan waktu yang lama. Menulis di pagi hari, membaca sebelum tidur dan menonton film saat ada waktu longgar.
Tak perlu memaksa membaca habis sebuah buku jika memang tak punya banyak waktu. Baca saja pelan-pelan, beri target untuk membaca berapa halaman. Lakukan terus menerus—disiplin. Aku selalu suka membaca, menyelami pikiran penulisnya. Bagaimana kecerdasan otak membentuk sebuah imajinasi dalam bentuk kata. Tak ada kepuran-puraan di dalamnya. Seperti mempunyai kekasih paling setia di muka bumi. Buku selalu memberikanmu nyawa dan hasrat untuk mencipta—untuk menulis.
Novel pertamaku belum menemukan judul pasti hingga proses editing. Aku masih memilih dari lima pilihan judul. Mengeliminasi dua judul menjadi tiga. Lalu akan menyisakan satu yang akhirnya akan dijadikan judul untuk novelku. Aku memang terbiasa memikirkan judul di akhir. Karena pun jika judul diberikan diawal, ada ketakutan ditengah menulis pikiran jadi labil karena ingin mengubah judul yang lebih cocok. Dari pengalaman itu, aku lebih memilih mencari judul diakhir proses menulis.
Aku berharap novel pertamaku bisa membangkitkan gairah membaca orang-orang. Sesuai alasanku dibalik menulis selain Anna. Untuk membangkitkan minat baca khususnya pada anak-anak muda yang mulai pudar karena perkembangan zaman yang tak bisa di filter oleh generasi milineal. Generasi yang suka dengan hal-hal instan tanpa berporses apalagi berjuang. Menganggap hal itu buang-buang waktu yang akhirnya memilih jalan pintas. Sebuah paradigma yang salah, yang bersifat menghancurkan pelan-pelan.
-----
Seminggu setelah perayaan tahun baru, Si Wanita Jerman itu mengabariku, saat matahari baru benar-benar muncul. Dia mengirimkan sebuah pesan yang mengagetkanku. Bahwa dia sudah pulang—sudah di Indonesia. Takut itu hanya sebuah ilusi atau bahkan mimpi, aku menampar mukaku dan kesakitan sendiri. Ini bukan mimpi. Buru-buru aku menelponnya. Menunggu hingga dering ketiga lalu dia mengangkat panggilan itu.
“Gimana?”
“Kamu beneran udah di rumah?” tanyaku bangkit dari tidur.
“Beneran dong. Kenapa?”
“Aku kaget, sumpah!”
“Kan udah janji mau pulang. Mau ketemu kamu,” suaranya lembut.
“Ya Tuhan...” suaraku mengambang.
“Eh kenapa?”
“Nggak, nggapapa...” kataku melihat layar laptop—naskah terakhir yang baru selesai diedit semalaman. Aku tersenyum, terpikir ingin menunjukkan naskah itu padanya.
“Ketemuan, yuk?” wanita itu memohon.
“Ayuk... Jam berapa?” tanyaku girang.
“Kalo siangan gimana? Aku harus ke agentku dulu. Lapor kalo lagi pulang ke Indo... Takutnya meraka nyariin aku disana.”
“Okedeh. Ntar kabar-kabar lagi, yaa.”
“Bis dann.”
“Sampai ketemu juga,” kataku tersenyum—mengakhiri panggilan.
Sebelum siang, sekali lagi aku membaca naskahku. Untuk melihat adakah kata-kata yang salah atau tak terbaca dengan jelas karena typo. Jumlah halaman naskah itu mencapai 145 dalam ukuran kertas A4. Cukup untuk sebuah novel. Tak terlalu banyak dan tak terlalu sedikit. Perasaanku seperti ditumbuhi bunga-bunga. Satu kejadian yang sudah kunantikan sejak lama. Aku tetap mencoba membuka segala kemungkinan bagi diriku sendiri. Menerima siapapun yang masuk ke duniaku, meski sebenarnya tak punya maksud apa-apa. Aku suka situasi ini, saat jantungku berdebar lebih cepat. Saat hati terasa seperti diselimuti, sekali lagi.
Tak sulit untuk membaca habis naskahku, aku sangat puas, kurang dari lima jam aku bisa menyelesaikannya. Aku sangat suka dengan naskah ini. Setelahnya aku bersiap, mengabari Si Wanita Jerman bahwa aku sudah selesai dengan segala urusanku di rumah. Beberapa menit setelah mengirim pesan itu, dia menelponku, buru-buru kuangkat.
“Eh, kalo di rumahku aja bisa, nggak? Aku jaga rumah, nih. Sendirian.”
“Bisa-bisa. Tapi boleh, nggak?” tanyaku memastikan.
“Santai, aku udah bilang orang tuaku, kalo ada yang mau main ke rumah.”
“Ohgitu. Okedeh... Share Location, yaa. Aku mandi dulu.”
“Owalah, kukira udah beneran siap. Dasar!” katanya menggodaku.
“Mandiku bentar, kok,” jawabku setengah tertawa.
“Okedeh. Aku tunggu, yaa.”
Matahari pelan-pelan berada tepat di atas kepala. Setelah mandi, aku bergegas, mengecek location yang dikirimkan. Rumahnya tak terlalu jauh. Hanya butuh lima belas menit. Sayangnya, hari itu kemacetan melanda kota ini. Hingga memakan waktu sampai setengah jam untuk aku sampai di depan gerbang rumahnya. Aku mengambil ponselku, mengirimkan pesan untuknya.
“Aku di depan.”
Tak perlu menunggu lama, beberapa detik kemudian wanita itu membuka gerbang rumah. Rambutnya dibirakan terurai, dia memakai kacamata dengan frame hitam. Dia tampak feminim dengan rok midi hitam dan kaus putih bertuliskan “Coldplay”. Persis seperti cover di album terbarunya. Membuatku mengingat Anna. Aku baru pertama kali melihatnya setelah hampir lima tahun, ada perbedaan jelas dari dia yang dulu. Tampak lebih anggun dan tentunya terlihat dewasa. Dia menyilahkanku masuk.
“Parkir di dalem, aja. Biar Aman,” tawarnya—tersenyum.
“Okay,” setelah memakirkan, aku melepas helm, menaruhnya di atas jok lalu mengikutinya dari belakang.
“Permisi...” candaku setelah melewati pintu ruang tamu.
“Silakan,” balasnya tersenyum, menatapku.
“Duduk dulu, aku buatin minum,” katanya berangsur pergi.