Para penulis itu memang bisa mewakili perasaanku, tapi aku menolak jika hanya membaca karya orang lain. Aku ingin mewakili perasaanku sendiri dengan menulis sebuah novel. Aku ingin memindahkan rindu, dari pikiran ke sebuah media yang bisa dibagi ke banyak orang. Aku sudah lelah menahan rinduku sendirian. Aku ingin rindu itu tak mengganggu kehidupanku. Aku sudah mencukupkan diriku untuk terus terjebak pada masa lalu saat banyak orang sedang sibuk menulis masa depannya.
Aku tak ingin menjadi anak muda yang cuma mengerti hura-hura tanpa melihat sisi lain dari hidup. Aku ingin membuat karya yang membuat orang-orang tahu bahwa aku ada. Membuat dunia ingat bahwa ada seorang anak muda yang mendedikasikan dirinya dalam seni bercerita. Aku tak ingin banyak mengeluh seperti yang dilakukan orang-orang sekarang ini di sosial media. Aku berkarya maka aku ada. Karena apa gunanya hidup jika tanpa makna.
Mencintai Anna sudah cukup ambigu untukku. Pada akhirnya dia hanya bisa membebaniku dengan segenap rindu dan kenangan. Aku tak butuh Anna sebagai apa adanya. Aku hanya butuh Anna untuk mencintaiku. Buku ini adalah pengulangan, aku belum cukup gila untuk melupakan Anna. Tapi, aku harus berhenti memikirkan dia. Aku tidak pernah tahu halaman selanjutnya dari lembar perjalanan hidupku. Aku menunggu Tuhan memberikan kejutan pada halaman terakhir kisah ini.
Aku mengalami perasaan tak tentu dengan Si Wanita Jerman. Rasanya, aku selalu ingin mencuri senyum dari wajahnya, membawanya ke atap rumah dan membiarkan senyum itu basah oleh air hujan. Atau bahkan hanya ingin memasukkannya ke saku celanaku, biar kusimpan dan tak bisa hilang.
Perasaan cinta tumbuh dari hal-hal yang sederhana, aktivitas sederhana, dan kemungkinan yang paling sederhana. Hanya butuh keterbukaan ketika masing-masing dari kita telah mendengar atau mengatakan ungkapan cinta dari dalam hati. Membiarkan orang yang kita cinta masuk dengan leluasa tanpa sekat apa-apa. Si Wanita Jerman memberikan ruang sendiri untukku, meski aku sadar kebersamaan kita hanya akan berlangsung sesaat. Tapi, paling tidak, dia bisa membuatku untuk tak mengingat Anna.
Mungkin Anna ingin mengirimkan pesan bahwa memang seharusnya aku melupakan rasa yang dulu pernah muncul, mengendap di hati dan pikiran. Aku benar-benar tak mengerti tentang dia sekarang. Seperti seseorang yang ditinggal mati. Banyak orang bilang, “ Tak ada yang tak mungkin.” Tapi orang-orang lupa, bahwa semua hal punya pengecualian. Dan Anna adalah pengecualian dari semua kemungkinanku.
Lantas apa yang harus aku perbuat setelah ini? Persis seperti hari itu, saat pikiran diadu tapi hati tetap saling merindu. Anna adalah langit yang terbentang lapang, ada namun tak tersentuh—aku hanya bisa melihatnya. Aku tak ingin menyalahkan takdir. Aku tak ingin menjadi bagian dari orang-orang sekarat yang pada akhirnya menyalahkan takdir tuhan saat dirinya telah kalah.
Ketika melihat jendela yang terbuka, aku ingat pada aneka duka yang terbentur logika. Ada yang bilang, cinta itu retorika belaka. Tak lebih dari fisika, statistika atau bahkan matematika. Tapi bagiku, cinta itu semiotika, butuh dialektika untuk menumbuhkan romantika. Anna bilang aku tak peka, tapi siapa sangka, justru Anna yang menorehkan luka, pergi mencari suaka, meninggalkan wasangka. Aku ingin bertemu Anna dan mengatakan satu hal, “Kita sudah merdeka jika tak mendengar apa kata mereka.”
Mereka yang membuatmu menyalahkan diri sendiri atas penyakit yang menggerogoti tubuhmu. Mereka yang tak tahu malu, menghinamu tanpa ampun, mereka yang tak punya rasa atau bahkan pikiran. Mereka yang tak paham esensi dari berjuang atas nama cinta. Mereka adalah perasaanmu sendiri. Mereka menjauhkan dua hati yang saling mencintai dalam diam. Yang akhirnya dipertemukan entah oleh siapa. Barangkali tangan semesta ada di antaranya. Atau barangkali Tuhan ada dibalik kisah kita.
Hampir dua bulan setelah kejadian di rumah wanita itu, novel pertamaku sudah selesai cetak. Setelah berkutat dengan berbagai pilihan judul. Akhirnya aku memilih “Dhanurveda”, menjadi judul untuk novel pertamaku. Dhanurveda diambil dari turunan ilmu Kitab Weda yang berisi tentang ajaran bela diri. Dalam novelnya, Dhanurveda adalah sebuah kelompok yang dipimpin oleh seorang wanita yang mencari sebab pecahnya perang dunia ketiga. Dhanurveda adalah novel futurisme, aku membicarakan masa depan negara ini di novel itu. Beberapa tragedi di buku itu sudah benar-benar terjadi. Novel ini menjadi detik terakhir bagiku untuk benar-benar melupakannya.