"Kenapa senyam-senyum?" tanya Bella saat mendapati rekan kerjanya yang baru kembali ke Rumah Matahari muncul dengan muka sumringah. Terlebih kedua pipi Ferdi memerah, persis buah tomat kematangan. Pemandangan yang bukan cuma janggal tetapi juga tak pernah dia pikirkan apalagi lihat sebelumnya. "Lo kesambet?"
Yang ditanya malah bungkam, dia meraih buku menu dan langsung bergegas menemui pelanggan di depan. Membuat Bella yang sedang mengadon kue kian kebingungan. Dia menjawil tangan Randu, kawannya yang kebetulan sedang berada di dapur untuk membuat pesanan. "Bos lo kenapa?"
"Habis menang undian, kali." Jawaban Randu selalu asal, seperti biasa. Tak bisa diharapkan.
*_*
"Mbak, aku mau tanya sesuatu."
Sore itu, sebelum Bella pulang untuk pergantian sift langkahnya dihentikan oleh Ferdi. Yang kemudian memaksanya duduk berdua di salah satu meja, untuk mengobrolkan sesuatu yang serius, katanya.
"Jangan bilang kalau lo mau nembak perempuan? Gue nggak bisa lagi ngasih pertimbangan. Kemarin kan sudah gue bilang, gue nggak akan mau bantu selama lo belum menyelesaiin urusan lo sama Bianca."
"Bukan! Bukan itu!" Ferdi mengangkat kedua tangannya ke depan, sebagai peringatan sekaligus penegasan supaya Bella tak beranjak dari kursi.
Bella mengerutkan kening. "Terus?" Lalu, kembali mendudukkan bokongnya ke kursi kayu itu.
Sebelum memulai obrolan, Ferdi terlebih dahulu menegakkan tubuhnya, mengatur napas sedemikian rupa guna menghilangkan debaran hebat yang entah bagaimana hinggap di dadanya. "Jadi begini," dia menjeda kalimatnya selama beberapa detik, "temanku –"
"Teman?" Bella mengulang ucapan Ferdi, penuh selidik.
Ferdi mengangguk jengah. "Dia dijodohkan."
"Dengan?"
"Perempuan yang dia suka."
"Bagus dong. Lalu, masalahnya?"
"Perempuan itu sudah punya gandengan." Ada keraguan dari cara Ferdi membuat pengakuan, suaranya mengecil. "Menurut Mbak, temanku harus maju atau mundur?"
Bella tidak langsung menjawab, melainkan menempelkan sebelah tangannya ke dagu. Tatapannya lurus, ke tembok di belakang lawan bicaranya. Seakan-akan dia sedang berpikir keras. "Saran gue, kalau lo yakin mending coba dulu."
"Coba?"
Bella mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ini kan yang lo tunggu dari dulu? Mumpung ada lampu hijau."
"Tapi Mbak kan tahu kalau –"
"Iya. Semua orang juga tahu betapa romantisnya Bian dan pacarnya. Masalahnya, orang tua Bian nggak suka sama dia. Jadi, posisi kalian satu sama. Kalau lo mau jadi antagonis, rebut saja. Siapa tahu bisa. Kalau gagal, ya sudah. Seenggaknya dicoba. Biar lo juga lega."
*_*
Seolah didukung oleh semesta, Ferdi yang hendak pulang dikejutkan oleh suara dering asing di dalam mobil. Telinga dan matanya dengan awas memperhatikan sekeliling, dan benar saja tak lama kemudian tampaklah benda pipih berwarna mencolok di bawah kursi. Yang langsung dia kenali sebagai ponsel Bianca, selain ada nama Uti yang muncul di notifikasi panggilan, foto yang dijadikan layar kunci juga merupakan potret gadis itu dengan Mike. Diambil beberapa bulan lalu, berlatar gunung Bromo yang indah. Tidak salah lagi. Ferdi pernah melihatnya dipajang di instagram story milik Bianca.
Tak mau lancang, Ferdi memilih tak mengangkat dan malah menyimpannya.