Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #1

Orang-Orang yang Tetap Masuk Kerja Setelah Ada yang Mati

Jam delapan lewat dua belas menit pagi, Nara sedang menatap wajah-wajah kecil di layar laptopnya ketika seseorang mulai membicarakan angka.

“Engagement minggu ini turun hampir sembilan persen,” kata Kevin dari divisi media. “Kita perlu sesuatu yang lebih personal. Orang sekarang suka konten yang terasa dekat.”

Nara tidak benar-benar mendengarkan.

Ia duduk di lantai apartemennya dengan punggung bersandar pada sisi ranjang. Laptop terbuka di atas meja lipat kecil yang sudah mulai goyang sebelah. Di sampingnya ada gelas kopi instan yang tinggal separuh dan charger ponsel yang melilit seperti kabel earphone kusut di dasar tas.

Suara meeting terus berjalan.

Tentang algoritma.

Tentang audiens.

Tentang durasi perhatian manusia yang katanya sekarang semakin pendek.

Nara membuka tab lain.

Email.

Lalu Slack.

Lalu Twitter.

Lalu kembali ke Google Meet.

Di layar, seseorang sedang menjelaskan strategi campaign Ramadan untuk sebuah aplikasi kesehatan mental. Semua orang mengangguk seolah hidup mereka sendiri baik-baik saja.

“Nara?”

Ia sedikit tersentak.

“Menurut lo copy-nya terlalu formal gak?”

Beberapa wajah di layar menunggu jawabannya.

Nara menegakkan badan sedikit. “Mungkin jangan terlalu terdengar kayak brand. Orang sekarang capek kalau semuanya terasa dijual.”

“Exactly,” sahut Kevin cepat. “Harus lebih human.”

Lebih human.

Kalimat itu menggantung sebentar di kepala Nara sebelum menghilang bersama suara notifikasi ponselnya.

Layar ponselnya menyala.

Satu pesan masuk.

Dari Mira.

Ra, Ezra meninggal

Jempol Nara berhenti di atas touchpad.

Meeting masih berjalan.

Seseorang tertawa kecil di layar karena koneksi internetnya terlambat beberapa detik. Ada yang meminta file dipresentasikan ulang. Ada suara motor lewat dari mikrofon peserta lain yang lupa dimatikan.

Nara membaca pesan itu sekali lagi.

Ra, Ezra meninggal.

Ia menunggu perasaan tertentu datang.

Kaget.

Sedih.

Tidak percaya.

Tapi yang muncul justru sesuatu yang lebih aneh:

kosong kecil yang sulit dijelaskan.

“Nara? You there?”

“Iya,” jawabnya cepat.

Lihat selengkapnya