Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #2

Riwayat Pencarian

Nara baru selesai mandi ketika listrik apartemennya sempat mati dua detik.

Tidak lama.

Hanya cukup untuk membuat ruangan gelap sesaat sebelum lampu kembali menyala.

Microwave kembali menunjukkan angka 00:00.

Ia berdiri di depan kulkas sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil yang mulai kasar karena terlalu sering dicuci. Di dalam kulkas hanya ada air dingin, dua kaleng kopi, dan saus sambal sachet dari pesanan makanan minggu lalu.

Ponselnya menyala lagi.

Empat puluh tujuh notifikasi.

Slack.

Email.

Promo makanan.

Reminder pembayaran.

Grup kantor.

Dan satu pesan baru dari Mira.

besok jadi dateng ga?

Nara membaca pesan itu tanpa membalas.

Sejak pagi tadi, orang-orang mulai membicarakan Ezra di internet dengan cara yang terasa aneh.

Ada yang mengunggah foto lama.

Ada yang menulis:

"rest easy, brother"

Ada juga yang tiba-tiba bercerita panjang tentang kesehatan mental seolah mereka mengenal Ezra lebih baik daripada orang lain.

Nara menaruh ponselnya di meja makan.

Lalu mengambilnya lagi beberapa detik kemudian.

Ia membuka Instagram Ezra sekali lagi.

Tidak ada update baru.

Tentu saja tidak ada.

Namun tetap terasa aneh melihat akun seseorang tetap hidup setelah orangnya tidak ada.

Highlight story masih tersusun rapi.

Playlist favorit.

Foto langit malam.

Potongan video kereta.

Meme absurd yang dulu sering dikirim Ezra jam dua pagi.

Nara berhenti di satu video lama.

Ezra sedang merekam hujan dari balik kaca mobil sambil tertawa kecil.

“Manusia tuh aneh ya,” suara Ezra terdengar samar dari video. “Capek hidup, tapi takut mati.”

Video itu direkam hampir setahun lalu.

Nara tidak ingat mereka sedang pergi ke mana waktu itu.

Ia menutup Instagram.

Lalu membuka aplikasi chat.

Lihat selengkapnya