Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #3

Manusia dan Kebiasaan Menghilang

Nara baru sampai di depan lobi apartemen Ezra ketika Mira mengirim pesan ketiga

lo udah di bawah?

Nara membalas singkat.

udah.

Tidak sampai sepuluh detik, Mira muncul dari pintu kaca otomatis dengan rambut setengah basah dan kacamata hitam yang terlalu besar untuk pagi yang mendung. Ia membawa tote bag hitam di bahu kiri dan segelas kopi plastik di tangan kanan.

“Gue telat?” tanya Mira.

“Lima menit.”

“Berarti belum telat.”

Nara tidak menjawab.

Mereka berdiri beberapa saat di depan lobi tanpa langsung masuk. Petugas keamanan di meja depan beberapa kali melihat ke arah mereka, lalu kembali menatap layar ponselnya. Dari pengeras suara kecil di langit-langit, lagu pop lama terdengar terlalu pelan untuk dikenali.

“Bima udah naik duluan,” kata Mira. “Dia yang pegang kuncinya.”

“Kenapa dia?”

“Karena dia yang paling kelihatan bisa dipercaya.”

Mira tertawa kecil setelah mengatakan itu. Tawa yang lebih mirip kebiasaan daripada perasaan.

Nara menatap pintu lift di ujung lobi. Ada noda bekas jari di permukaan stainless-nya. Seseorang pernah menyentuhnya dengan tangan berminyak, lalu pergi begitu saja.

“Lo yakin mau naik?” tanya Mira.

Nara menoleh.

“Kenapa nanya gitu?”

Mira mengangkat bahu. “Nggak tahu. Gue aja dari tadi pengin batal.”

Pintu lift terbuka.

Seorang perempuan paruh baya keluar sambil membawa kantong sampah kecil. Ia melewati mereka tanpa melihat. Bau pewangi lantai bercampur sisa rokok samar tertinggal beberapa detik setelahnya.

Nara masuk lebih dulu.

Mira menyusul.

Lantai tujuh belas.

Angka-angka di atas pintu lift berganti pelan. Tidak ada yang bicara. Mira meminum kopinya dua kali, padahal sedotannya belum masuk benar. Nara memperhatikan kuku jempolnya sendiri yang terkelupas sedikit di bagian samping.

Ia baru sadar sejak kemarin ia menggigit kulit jarinya lagi.

Kebiasaan lama yang biasanya muncul saat ia sedang menahan sesuatu, tapi tidak tahu harus menahannya dari mana.

Di lantai dua belas, lift berhenti.

Pintu terbuka.

Tidak ada siapa-siapa.

Mira mendengus pelan. “Apartemen kayak gini suka sok horor sendiri.”

“Ini pagi.”

“Justru.”

Pintu kembali tertutup.

Nara hampir tersenyum, tapi tidak jadi.

Di depan unit 1712, Bima sudah berdiri dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya rapi, jam tangannya menyala, dan wajahnya terlihat seperti orang yang datang ke rapat penting, bukan ke apartemen teman yang baru meninggal.

Di tangannya ada kantong plastik bening berisi kunci.

“Gue baru mau telepon,” katanya.

Mira mengangkat alis. “Kenapa lo masukin kunci ke plastik gitu?”

“Dari security.”

“Ya tapi kayak barang bukti.”

Bima menatap kantong itu sebentar, seolah baru sadar. “Memang agak.”

Tidak ada yang tertawa.

Bima membuka pintu.

Unit Ezra tidak langsung menunjukkan apa-apa.

Hanya ruangan studio kecil dengan tirai setengah terbuka, meja kerja menghadap dinding, kasur yang belum dirapikan, dan piring kotor di dekat wastafel. Lampu utama mati. Cahaya pagi masuk dari sela tirai, jatuh di lantai seperti garis tipis yang gagal membuat ruangan terasa terang.

Nara berdiri di ambang pintu lebih lama dari Mira dan Bima.

Ia tidak pernah masuk ke tempat ini sebelumnya.

Aneh, pikirnya, bagaimana seseorang bisa menjadi bagian dari hidup kita tanpa pernah benar-benar menunjukkan tempat ia tidur.

“Katanya laptopnya diambil,” ujar Bima. “Sama hard disk kalau ada. Keluarganya minta dikumpulin dulu.”

Mira masuk perlahan. “Keluarganya udah tahu password?”

“Belum.”

“Terus?”

“Makanya cuma diambil. Bukan dibuka.”

Nara akhirnya melangkah masuk.

Udara di dalam ruangan terasa lembap. Bukan bau busuk. Bukan juga bau kematian seperti yang mungkin dibayangkan orang. Hanya bau ruang tertutup: pakaian kering yang terlalu lama digantung, kopi lama, debu dari pendingin udara, dan sesuatu yang tidak bisa diberi nama.

Di meja kerja, laptop Ezra masih terbuka.

Layarnya mati.

Di sampingnya ada gelas kaca berisi air yang tinggal setengah. Ada dua strip obat, satu botol kecil minyak angin, kabel charger, nota minimarket, dan buku catatan tipis warna abu-abu.

Mira langsung berhenti bicara.

Bima mengeluarkan map cokelat dari tasnya. “Kita pisahin yang penting aja.”

“Lo serius bawa map?” tanya Mira.

Lihat selengkapnya