Setelah pemakaman Ezra, tidak ada yang langsung pulang.
Mereka berdiri di depan area parkir dengan pakaian gelap, wajah kusut, dan tangan yang tidak tahu harus diletakkan di mana. Matahari terlalu terang untuk hari berkabung. Beberapa orang memakai kacamata hitam. Beberapa lainnya sibuk mencari kendaraan online untuk kembali beraktivitas.
Mira yang pertama berkata, “Makan dulu, yuk.”
Tidak ada yang menjawab.
Lalu seseorang dari teman kantor Ezra mengangguk. “Boleh. Gue dari pagi belum makan.”
Kalimat itu seperti izin.
Dalam sepuluh menit, delapan orang yang tadinya diam di pemakaman duduk di warung makan dekat jalan raya. Tempatnya sempit, kipas anginnya berputar terlalu cepat, dan suara piring dicuci terdengar dari belakang.
Nara duduk di ujung meja panjang. Di depannya ada gelas es teh yang belum disentuh.
Mira duduk di sebelahnya, masih memakai kacamata hitam meski mereka berada di dalam ruangan. Bima duduk di seberang, membuka kancing paling atas kemejanya, lalu langsung merapikannya lagi.
“Ezra dulu suka makan di tempat begini,” kata seseorang bernama Dito.
Tidak ada yang tahu harus merespons bagaimana.
“Dia suka apa aja,” sahut Mira. “Asal murah.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Tawa itu terasa salah, tapi tidak ada yang menghentikannya.
Pelayan datang membawa menu. Semua orang mendadak sibuk memilih makanan, seolah itu keputusan penting. Ayam penyet. Soto. Nasi goreng. Mi rebus. Kopi hitam. Es jeruk.
Nara memperhatikan mereka satu per satu.
Ada yang baru menangis di makam, sekarang membandingkan harga lauk. Ada yang mengelap ingus dengan tisu, lalu bertanya apakah sambalnya pedas. Ada yang masih memegang bunga tabur dalam plastik kecil, tapi tangannya juga mengambil kerupuk.
Tidak ada yang palsu dari semua itu.
Justru karena terlalu manusia.
“Lo makan apa?” tanya Bima.
Nara melihat menu di tangannya.
“Apa aja.”
“Jangan apa aja.”
“Mi rebus.”
“Pake telur?”
Nara menatap Bima.
Bima mengangkat bahu. “Gue cuma nanya.”
“Pake.”
Bima mencatat pesanan itu di kertas kecil yang ia ambil dari pelayan.
Mira menurunkan kacamatanya sedikit. “Bim, lo sadar nggak lo lagi ngatur makan orang setelah pemakaman?”
“Biar nggak salah pesen.”
“Takut banget hidup berantakan, ya?”
Bima berhenti menulis.
Sesaat meja itu menjadi terlalu diam.
Dito pura-pura melihat ponselnya. Teman Ezra yang lain menunduk ke menu. Kipas angin terus berputar di atas kepala mereka.
Mira langsung mengangkat tangan. “Maaf. Jelek banget timing gue.”
Bima melipat kertas pesanan. “Nggak apa-apa.”
Tapi wajahnya mengatakan hal lain.
Nara melihat jari Bima mengetuk sisi meja tiga kali. Berhenti. Lalu mengetuk lagi.
Kebiasaan yang baru ia sadari hari itu.
Pelayan mengambil pesanan mereka.
Setelah itu, percakapan mulai muncul pelan-pelan. Bukan tentang Ezra pada awalnya. Tentang macet. Tentang pekerjaan. Tentang orang yang salah parkir di pemakaman. Tentang panasnya cuaca hari ini.
Lalu Dito berkata, “Kemarin gue masih kirim brief ke dia.”
Mira menoleh.
“Brief?”
“Iya. Buat revisi desain. Gue nggak tahu...” Dito berhenti sebentar. “Ya nggak tahu aja.”
“Dia bales?” tanya Nara.
“Bales.”
“Apa katanya?”
Dito membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia mengambil ponsel dari saku celana, membuka sesuatu, dan membaca pelan.
“Dia bilang, ‘Bentar ya. Lagi agak error.’”
Tidak ada yang bicara.
Suara blender dari belakang warung tiba-tiba terasa terlalu keras.
Mira menyandarkan tubuh ke kursi plastik. “Kita semua sering bilang gitu.”
“Bilang apa?” tanya Dito.