Hujan turun setengah jam setelah Mira menurunkan Nara di depan stasiun MRT.
Tidak deras.
Tapi cukup untuk membuat orang-orang berlari kecil sambil melindungi tas dan ponsel mereka.
“Lo yakin nggak ikut gue aja?” tanya Mira dari balik jendela mobil yang terbuka sedikit.
Nara mengangguk. “Dekat.”
“Lo dari tadi bilang dekat.”
“Memang.”
Mira menatapnya beberapa detik, seperti ingin memastikan sesuatu, lalu menghela napas.
“Oke. Kabarin kalau udah sampai.”
Mobilnya pergi pelan bersama deretan kendaraan lain yang lampu remnya menyala merah di jalan basah.
Nara berdiri sebentar di bawah atap halte. Orang-orang di sekitarnya sibuk dengan hidup masing-masing. Seorang bapak memeras ujung jaketnya. Dua anak kuliahan tertawa melihat video di satu ponsel. Seorang perempuan memaki pelan karena ojek online-nya membatalkan pesanan.
Ponsel Nara bergetar.
Bima.
“Lo belum pulang?” tanya Bima begitu telepon diangkat.
“Belum.”
“Masih sama Mira?”
“Enggak.”
“Di mana?”
“Stasiun.”
Sunyi sebentar.
Lalu Bima berkata, “Gue lewat situ.”
Sepuluh menit kemudian, sedan abu-abu milik Bima berhenti di depan halte. Wipernya bergerak pelan menghapus air hujan dari kaca depan.
Nara masuk tanpa banyak bicara.
Interior mobil itu dingin dan terlalu rapi. Tidak ada gantungan lucu. Tidak ada botol kosong. Tidak ada kabel charger kusut seperti di mobil kebanyakan orang.
Hanya aroma kopi dan pewangi mobil yang samar.
Bima menurunkan volume radio.
“Macet?” tanya Nara.
“Sedikit.”
Mereka berhenti di lampu merah.
Di luar, hujan membuat kota terlihat seperti layar dengan brightness terlalu rendah.
Bima melirik sekilas. “Lo makan tadi?”
“Iya.”
“Beneran?”
Nara menoleh. “Kenapa semua orang hari ini nanya gue makan apa belum?”
“Karena muka lo kayak orang yang hidup dari kopi.”
“Itu menghina nggak sih?”
“Observasi.”
Lampu hijau menyala.
Mobil bergerak lagi.
Untuk beberapa menit, mereka hanya mendengar suara wiper dan GPS perempuan dari dashboard yang sesekali berkata:
“Belok kiri lima ratus meter lagi.”
Nara memperhatikan tangan Bima di setir.
Rapi.
Stabil.
Tapi jari telunjuknya terus mengetuk pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
“Lo capek?” tanya Nara tiba-tiba.