Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #7

Orang-Orang yang Menjual Perasaan

Jam sepuluh pagi, Nara masuk kantor dengan rambut yang belum benar-benar kering.

Ia belum datang ke kantor selama dua hari, tapi mejanya tetap sama: monitor mati, sticky note menempel di sisi layar, gelas kosong, dan satu tanaman kecil yang daunnya mulai menguning. Di kursinya ada tote bag kampanye klien yang pernah dibagikan saat town hall bulan lalu.

Tulisan di tote bag itu:

You Are Seen.

Nara menatapnya sebentar sebelum menarik kursi.

“Ra, nanti jam sebelas masuk ruang meeting ya,” kata Kevin dari meja sebelah. “Client minta revisi besar.”

“Campaign yang mana?”

“MindEase.”

Aplikasi kesehatan mental itu.

Nara mengangguk.

Kevin menatapnya, lalu suaranya sedikit turun. “Lo… udah oke?”

Nara membuka laptop. “Belum tahu.”

Kevin seperti tidak siap menerima jawaban itu.

“Oh,” katanya. “Ya. Take your time.”

Lalu ia kembali ke layarnya.

Take your time, pikir Nara, sambil melihat kalender yang penuh blok warna. Semua orang mengatakan itu sampai pekerjaan membutuhkan jawaban sebelum makan siang.

Jam sebelas kurang lima, Nara masuk ruang meeting.

Ruang itu terlalu dingin. Di tengah meja ada kotak donat yang belum dibuka, tiga gelas kopi, kabel HDMI, dan spidol putih yang tutupnya hilang. Enam orang duduk mengelilingi meja. Dua orang dari tim klien muncul di layar besar.

Kevin berdiri di depan slide.

“Jadi,” katanya, “client merasa campaign kita masih kurang emosional.”

Di layar, muncul tulisan besar:

MAKE IT MORE HUMAN.

Nara duduk paling ujung.

Seorang perempuan dari pihak klien, namanya Clarissa, berbicara dari layar. Suaranya rapi, wajahnya terang oleh lampu ring light.

“Kita butuh sesuatu yang lebih raw. Lebih real. Orang sekarang relate sama vulnerability, tapi jangan terlalu dark.”

Kevin mengangguk cepat. “Yes, paham.”

“Misalnya,” lanjut Clarissa, “bukan sekadar ‘kamu tidak sendiri’, tapi pengalaman personal yang terasa dekat.”

Seseorang dari tim desain berkata, “Kayak testimonial?”

“Bisa. Tapi jangan terasa testimonial banget.”

“Jadi testimonial yang nggak testimonial?”

Clarissa tersenyum. “Exactly.”

Beberapa orang mencatat.

Nara tidak.

Ia melihat slide berikutnya.

Content Pillar: Burnout, Grief, Loneliness, Self-Worth.

Kata grief berhenti lebih lama di matanya.

Kevin menoleh ke tim. “Kita butuh anchor story. Sesuatu yang bikin orang berhenti scroll.”

“Cerita kehilangan bisa kuat,” kata Clarissa. “Tapi harus tetap hopeful.”

Tidak ada yang merasa kalimat itu aneh.

Atau mungkin semua orang merasa, tapi tidak ada yang punya tenaga untuk menunjukkannya.

Kevin membuka dokumen brief. “Kita bisa bikin carousel: ‘Hal-Hal yang Terlambat Kita Sadari Setelah Kehilangan Seseorang.’”

Salah satu copywriter junior mengangguk. “Bagus. Bisa masuk slide dua: ‘Balas pesan selagi bisa.’”

Nara mengangkat wajah.

Kevin menoleh. “Ra?”

“Jangan pakai itu.”

Ruangan diam sebentar.

Kevin tersenyum kecil, seperti mengira Nara sedang memberi masukan biasa. “Kenapa?”

“Terlalu murah.”

Kata itu keluar lebih cepat daripada yang ia rencanakan.

Copywriter junior menurunkan pulpen.

Clarissa di layar berkedip. “Murah dalam arti?”

Nara menatap slide.

“Dalam arti kita mengambil rasa bersalah orang dan menjadikannya CTA.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

AC berbunyi pelan di langit-langit. Di luar kaca ruang meeting, seseorang dari divisi finance lewat sambil membawa tumpukan berkas dan roti sobek.

Kevin berdeham. “Mungkin maksud Nara, angle-nya perlu lebih subtle.”

“Bukan subtle,” kata Nara.

Ia sendiri sedikit kaget karena masih melanjutkan.

Lihat selengkapnya