Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #8

Rumah yang Tetap Menyimpan Suara

Sabtu pagi, ibu Nara menelepon tiga kali sebelum akhirnya diangkat.

“Nara?”

“Iya, Bu.”

“Kamu bangun jam berapa sih?”

Nara melihat jam di ponselnya.

09.17.

“Barusan.”

“Barusan dari tadi Ibu teleponin?”

Nara duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah. Tirai apartemennya belum dibuka. Udara di kamar terasa pengap karena AC mati sejak subuh.

“Kenapa, Bu?”

“Kamu lupa hari ini?”

Nara diam beberapa detik.

Lalu baru ingat.

Acara syukuran kecil rumah omnya di Bekasi.

“Oh.”

“Oh?” suara ibunya langsung naik. “Kamu jangan bilang lupa.”

“Enggak lupa.”

“Kamu lagi bohong sambil nguap.”

Nara menutup mulut cepat, terlambat.

Di ujung telepon, ibunya mendesah panjang dengan jenis lelah yang hanya dimiliki ibu-ibu yang sudah terlalu sering mengurus orang lain.

“Datang ya,” katanya lebih pelan. “Nenek juga nanya kamu.”

“Iya.”

“Jangan iya doang.”

“Aku datang.”

Ibunya diam sebentar, lalu bertanya, “Kamu sakit?”

“Enggak.”

“Suara kamu kayak orang habis putus.”

Nara hampir tertawa.

“Hanya capek kerja.”

“Hidup kamu isinya capek kerja terus.”

Kalimat itu terdengar ringan dari mulut ibunya. Seperti komentar biasa. Tapi entah kenapa tetap tinggal lebih lama di kepala Nara setelah telepon ditutup.

Satu jam kemudian, Nara sudah duduk di KRL tujuan Bekasi bersama puluhan orang lain yang juga terlihat setengah rela menjalani hari Sabtu.

Di depannya, seorang anak kecil berdiri di kursi sambil makan ciki. Dua bapak membicarakan harga rumah. Seorang perempuan tidur sambil memeluk tote bag supermarket.

Nara berdiri dekat pintu karena tidak kebagian tempat duduk.

Ponselnya bergetar.

Mira mengirim foto kucing oren di minimarket.

mirip manager gue

Nara membalas:

kasihan kucingnya

Mira langsung mengirim voice note tertawa.

Nara tidak memutarnya.

Bukan karena malas.

Ia hanya sedang tidak ingin mendengar suara siapa pun yang terlalu mengenalnya.

Kereta berhenti mendadak lebih keras di Stasiun Jatinegara. Beberapa orang oleng bersamaan lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Seorang bapak di samping Nara berkata pelan, “Nah lo.”

Tidak ke siapa-siapa.

Tidak ada yang menjawab.

Lihat selengkapnya