Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #9

Datang Tanpa Janji

Nara tidak langsung pulang setelah dari rumah omnya.

Kereta menuju Jakarta terlalu penuh sore itu, dan entah kenapa ia belum ingin kembali ke apartemennya yang kecil dan terlalu diam setelah malam.

Jadi ketika turun di Sudirman, ia berjalan tanpa tujuan jelas bersama ratusan orang lain yang baru selesai menjalani akhir pekan masing-masing.

Langit sudah gelap setengah. Lampu gedung mulai menyala satu per satu. Di trotoar, orang-orang bergerak cepat dengan tas kerja, tote bag belanja, dan wajah Minggu malam yang sama:

setengah lelah,

setengah menolak besok Senin ada.

Ponselnya berbunyi.

Mira.

dimana

Nara membalas sambil tetap berjalan.

sudirman

Typing bubble muncul cepat.

nongkrong bentar mau gak

Nara hampir menolak.

Lalu melihat antrean panjang orang masuk stasiun.

dimana

Dua puluh menit kemudian, Nara sampai di sebuah kedai kopi kecil di belakang gedung perkantoran. Tempatnya sempit, lampunya redup, dan sebagian besar kursi sudah penuh oleh orang-orang yang membuka laptop padahal hari libur belum benar-benar selesai.

Mira melambaikan tangan dari pojok dekat jendela.

Di depannya sudah ada Bima.

“Tuh kan datang,” kata Mira sambil tersenyum kecil penuh kemenangan.

“Aku nggak bilang nggak datang.”

“Tapi muka lo bilang begitu.”

Nara duduk.

Bima mendorong satu gelas plastik ke arahnya. “Belum sempat pesen. Gue pilihin aja.”

Nara melihat label di gelas.

Es kopi tanpa gula.

“Tumben bener.”

“Gampang nebak hidup lo.”

“Kalimat itu udah dipakai hari ini.”

“Berarti akurat.”

Mira tertawa kecil sambil mengaduk minumannya yang sebenarnya sudah habis dari tadi.

Di meja sebelah, dua orang sedang latihan presentasi startup terlalu keras. Kata-kata seperti scalability, engagement, dan user retention melayang sampai meja mereka.

“Jakarta tuh lucu ya,” kata Mira. “Orang nongkrong sambil kerja. Kerja sambil burnout. Burnout sambil bikin konten self-care.”

“Lo kalau ngomong kayak lagi nge-tweet,” kata Bima.

“Makanya followers gue naik terus.”

“Berapa sekarang?”

“Udah agak turun sihh, hehe.”

“Syukurin.”

Mira melempar tisu ke arah Bima.

Nara memperhatikan mereka sambil membuka sedotan minumannya.

Ada sesuatu yang aneh beberapa hari terakhir:

ia mulai terbiasa berada di dekat orang lain lagi.

Bukan nyaman sepenuhnya.

Tapi tidak seingin dulu untuk cepat pulang.

“Lo dari rumah keluarga?” tanya Mira.

Nara mengangguk.

“Capek?”

“Lumayan.”

“Tante-tante nanya nikah?”

“Nanya.”

Lihat selengkapnya