Acara kantor itu seharusnya selesai jam delapan malam.
Jam sembilan lewat dua puluh, Nara masih berdiri di belakang booth MindEase dengan name tag miring, kaki pegal, dan senyum yang sudah habis sejak satu jam lalu.
Di depan mereka, sebuah pusat perbelanjaan masih penuh orang. Musik dari panggung kecil terdengar terlalu keras. Lampu LED menampilkan slogan acara:
Your Feelings Matter.
Kevin mondar-mandir sambil menerima telepon dari klien.
“Good traffic,” katanya ke seseorang di ujung sana. “Engagement offline-nya bagus.”
Nara sedang menyusun ulang kartu afirmasi di meja ketika seorang laki-laki muda berhenti di depan booth. Usianya mungkin awal dua puluhan. Kemejanya basah keringat di bagian dada. Ia mengambil satu kartu, membaca sebentar, lalu tertawa kecil.
Kartu itu bertuliskan:
Tarik napas. Kamu aman di sini.
Laki-laki itu mengembalikan kartu ke meja.
“Aman di mall?” katanya.
Nara menatapnya.
Sebelum ia sempat menjawab, laki-laki itu mundur dua langkah, menabrak pembatas antrean, lalu jatuh.
Tidak dramatis.
Tidak seperti di film.
Tubuhnya hanya melipat pelan, lutut duluan, lalu bahu, lalu kepala hampir menyentuh lantai marmer sebelum seseorang berteriak.
“Mas!”
Dalam beberapa detik, keramaian berubah bentuk.
Orang-orang mendekat.
Lalu ragu.
Lalu mengangkat ponsel.
Seseorang berkata, “Panggil security!”
Seseorang lain berkata, “Rekam, rekam, siapa tahu butuh bukti.”
Nara sudah berlutut di samping laki-laki itu sebelum sadar ia bergerak.
“Mas,” katanya. “Dengar saya?”
Laki-laki itu bernapas cepat. Matanya terbuka, tapi tidak fokus.
Kevin berlari mendekat. “Apa? Kenapa?”
“Panggil medis,” kata Nara.
“Udah, security udah—”
“Sekarang, Kev.”
Nada suaranya membuat Kevin langsung pergi.
Beberapa orang masih berdiri terlalu dekat. Seorang ibu menarik anaknya mundur. Dua remaja merekam dari samping booth skincare.
Nara menoleh. “Tolong jangan direkam.”
Remaja itu menurunkan ponselnya sedikit. Tidak sepenuhnya.
“Tolong,” ulang Nara.
Kali ini suaranya lebih pelan.
Mungkin karena itu justru lebih terdengar.
Ponsel itu akhirnya turun.
Laki-laki muda itu menggenggam ujung taplak booth. Kuku-kukunya pendek dan kotor sedikit di pinggir. Napasnya masih terputus-putus.
“Mas, nama kamu siapa?”
Tidak ada jawaban.
“Bisa lihat saya?”
Ia menggeleng kecil.
“Aku nggak bisa,” katanya hampir tanpa suara.
Nara menelan ludah.
Di belakangnya, layar LED terus berganti slogan:
You Are Not Alone.
Lalu: