Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #11

Orang-Orang yang Menunggu di Rumah Sakit

Bima mengirim pesan pukul 21.08.

Dari Bima:

Lo masih di luar?

Nara baru turun dari bus ketika membacanya. Kakinya masih pegal, dan rambutnya berbau hujan yang tidak benar-benar deras.

Ia membalas:

Kenapa?

Balasan Bima masuk hampir seketika.

Dari Bima:

Bokap gue masuk ICU.

Nara tidak langsung bergerak.

Di halte, orang-orang berjalan melewatinya. Seorang ibu menarik tangan anaknya. Pengemudi ojek online memanggil nama pelanggan. Lampu minimarket berkedip sebentar, lalu menyala lagi.

Nara mengetik:

Rumah sakit mana?

Empat puluh menit kemudian, ia sampai di lobi rumah sakit dengan jaket yang sedikit basah dan napas yang belum stabil.

Rumah sakit pada malam hari punya cara sendiri membuat manusia mengecil. Lampunya terlalu putih. Lantainya terlalu bersih. Semua suara terdengar ditahan: roda ranjang, lift, langkah perawat, televisi kecil di ruang tunggu yang volumenya nyaris habis.

Bima berdiri di dekat vending machine.

Kemejanya sama seperti tadi pagi, tapi kini kusut di bagian lengan. Rambutnya tidak serapi biasanya. Di tangannya ada gelas kopi plastik yang belum dibuka.

“Lo datang,” katanya.

Nara mengangguk. “Iya.”

“Gue nggak minta.”

“Aku tahu.”

Bima seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu batal.

Mereka berjalan ke ruang tunggu ICU. Di sana, waktu terasa lebih lambat daripada tempat lain. Beberapa orang duduk dengan posisi yang sama terlalu lama. Ada yang tidur sambil memeluk tas. Ada yang menatap pintu kaca setiap kali perawat keluar.

Di sudut ruangan, ibu Bima duduk sendirian. Tubuhnya kecil, tapi wajahnya kaku seperti orang yang memaksa diri tidak runtuh di tempat umum. Ia memakai kerudung abu-abu dan menggenggam tasbih kecil di tangan kanan.

“Ma,” kata Bima pelan. “Ini Nara.”

Ibu Bima menatap Nara sebentar, lalu tersenyum lemah.

“Makasih sudah datang.”

Nara menunduk sedikit. “Semoga lekas membaik, Tante.”

Kalimat itu terdengar seperti kalimat yang semua orang pakai karena tidak ada kalimat lain yang cukup aman.

Ibu Bima mengangguk.

“Duduk dulu.”

Nara duduk di kursi plastik sebelah Bima. Kursinya dingin. Di depannya, dispenser air mineral berdiri dengan galon hampir kosong. Di atas meja kecil ada bungkus roti, tisu basah, botol minyak angin, dan formulir rumah sakit yang belum ditandatangani.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.

Lalu seorang perawat keluar. Kepala ibu Bima langsung terangkat.

“Keluarga Pak Harun?”

Bima berdiri lebih dulu. “Saya.”

“Bisa ikut sebentar?”

Ibu Bima ikut berdiri, tapi perawat berkata cukup satu orang dulu. Bima mengangguk, lalu berjalan mengikuti perawat ke lorong.

Nara tinggal bersama ibu Bima.

Televisi menayangkan acara komedi malam. Dua orang di layar tertawa terlalu keras, sementara tiga meter dari sana seorang perempuan menangis tanpa suara.

Ibu Bima membuka tas, mencari sesuatu, lalu berhenti.

Lihat selengkapnya