Hari Selasa, listrik kantor mati.
Bukan mati total. Lampu darurat tetap menyala redup di lorong, komputer sebagian masih hidup karena backup power, dan suara orang-orang mengeluh langsung memenuhi lantai bahkan sebelum jaringan benar-benar hilang.
“Wi-Fi mati?”
“Eh file gue belum ke-save!”
“Anjir, meeting jam dua.”
Kevin keluar dari ruangannya sambil membawa laptop seperti benda itu bisa menolong keadaan.
“Tenang dulu!” katanya. “Gedung lagi mengalami gangguan panel.”
Tidak ada yang benar-benar tenang.
Nara berdiri di dekat pantry bersama beberapa orang lain yang otomatis berkumpul di sana setiap ada masalah kantor, seperti manusia modern selalu butuh kopi untuk menghadapi bencana sekecil apa pun.
Mesin kopi tidak menyala.
“Itu baru tragedi,” kata copywriter junior dari tim sebelah.
Beberapa orang tertawa kecil.
Di luar jendela, hujan turun deras sejak siang. Gedung-gedung di seberang terlihat buram seperti belum selesai dirender.
Ponsel Nara bergetar.
Dari Mira:
Lo di kantor?
Nara membalas:
Iya. Kenapa?
Balasan datang cepat.
Dari Mira:
Gue ke tempat lo bentar ya.
Nara belum sempat bertanya lagi ketika lift utama berbunyi keras lalu berhenti total.
Seseorang memaki pelan.
Kevin langsung menoleh ke semua orang. “Oke, nobody panic.”
“Kalau ada yang bilang jangan panik,” gumam seseorang, “biasanya memang harus panik.”
Lampu berkedip sekali.
Lalu mati sebentar.
Dan untuk satu detik pendek, seluruh lantai benar-benar gelap.
Tidak ada suara.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada keyboard.
Tidak ada air conditioner.
Hanya hujan.
Ketika lampu darurat menyala lagi, beberapa orang langsung tertawa canggung seperti baru sadar mereka menahan napas.
“Fix gue pulang kalau begini,” kata seorang desainer.
“Pulang pakai apa? Lift mati.”
“Oh iya juga.”
Kevin mulai menelepon pengelola gedung sambil berjalan cepat ke lorong belakang.
Nara melihat sekeliling.
Aneh sekali bagaimana kantor yang biasanya sibuk mendadak terlihat seperti tempat asing ketika semua layar mati.
Orang-orang akhirnya saling bicara.
Benar-benar bicara.
Bukan lewat chat internal.
Bukan lewat thread revisi.
Bukan lewat komentar Google Docs.
Seorang account executive mulai cerita soal mantannya. Tim desain membahas konser yang gagal mereka datangi. Dua anak intern bermain suit di dekat printer.
Bahkan suara hujan terdengar lebih jelas dari biasanya.
Pintu tangga darurat terbuka tiba-tiba.
Dan Mira keluar dengan rambut setengah basah serta napas ngos-ngosan.
“Buset,” katanya sambil melihat keadaan kantor. “Kayak habis kiamat kecil.”
Nara mengernyit. “Lo ngapain ke sini?”
Mira mengangkat paper bag putih. “Nganterin charger gue yang kebawa sama lo minggu lalu.”