Nara baru sadar pakaian kotornya sudah melewati batas wajar ketika satu kaus jatuh dari keranjang dan ia tidak yakin apakah kaus itu masih layak untuk diselamatkan.
Jadi malam itu, setelah pulang kerja, ia membawa dua kantong besar ke laundromat dekat apartemen.
Tempatnya terang, sempit, dan berbau campuran deterjen, pakaian basah, serta lantai yang baru dipel. Enam mesin cuci berderet di sisi kanan. Empat mesin pengering di sisi kiri. Di sudut ruangan, ada televisi kecil menayangkan sinetron tanpa suara.
Mesin nomor enam kosong.
Nara memasukkan pakaian satu per satu.
Kemeja kantor.
Kaus tidur.
Celana hitam.
Handuk.
Satu hoodie abu-abu yang sudah lama tidak dipakai.
Dari saku hoodie itu, sesuatu jatuh.
Kertas kecil.
Nara mengambilnya.
Struk minimarket. Tanggalnya hampir setahun lalu. Tulisannya sudah pudar, tapi masih terbaca sebagian:
kopi kaleng
roti cokelat
plester
air mineral
Di bagian belakang struk, ada tulisan tangan Ezra.
Lo bayar parkir. Gue bayar hidup lo malam ini.
Nara berdiri cukup lama di depan mesin cuci yang pintunya masih terbuka.
Bukan karena kalimat itu indah.
Justru karena sangat menggambarkan Ezra.
Bodoh.
Ringan.
Tidak penting.
Dan mungkin karena itu, terasa lebih menyakitkan daripada kalimat terakhir mana pun.
“Mesinnya dipakai, Kak?”
Nara menoleh.
Seorang perempuan muda berdiri di belakangnya sambil memegang keranjang pakaian bayi. Wajahnya terlihat letih, tapi bukan jenis letih yang minta diperhatikan. Di pinggangnya, terdapat seorang anak kecil menempel sambil menggigit ujung biskuit.
“Oh. Iya. Maaf.”
Nara cepat-cepat memasukkan sisa pakaian dan menutup pintu mesin.
Ia memasukkan koin.
Mesin nomor enam menyala sebentar.
Lalu mati.
Angka di layarnya berkedip:
E3.
Nara menekan tombol mulai lagi.
Tidak ada yang berubah.
Perempuan tadi melihat layar mesin. “Itu suka ngambek.”
“Ngambek?”
“Iya. Kalau kebanyakan beban.”
Nara menatap kantong cuciannya yang masih penuh.
Dari meja kasir kecil, penjaga laundromat mengangkat kepala. Usianya mungkin empat puluhan, memakai sandal jepit dan jaket tipis.
“Nomor enam lagi?”
Perempuan itu menjawab, “Iya, Mas.”
Penjaga itu berdiri sambil menghela napas. “Saya udah bilang juga ke bos, mesin itu sudah minta pensiun.”
Anak kecil di pinggang perempuan itu tertawa.
“Mesin bisa pensiun?” tanyanya.