Notifikasi itu muncul pukul 18.12, saat Nara sedang membeli obat flu di minimarket.
Dari grup lama:
Teman-teman, malam ini ada acara kecil buat mengenang Ezra di Koma Space. Kalau berkenan, boleh datang. Kita juga open santunan untuk keluarga yang ditinggalkan.
Di bawah pesan itu ada poster digital.
Foto Ezra dipasang hitam-putih.
Namanya ditulis dengan font tipis.
Di bawahnya ada kalimat:
Selamat jalan, manusia baik.
Nara menatap poster itu terlalu lama.
Bukan karena jelek.
Justru karena terlalu rapi.
Dari Mira:
Lo lihat grup?
Nara membalas:
Lihat.
Dari Mira:
Gue nggak tahu harus datang apa nggak.
Nara memasukkan obat flu ke kantong plastik.
Aku ke sana.
Balasan Mira datang cepat.
Dari Mira:
Serius?
Nara tidak membalas.
Koma Space ternyata sebuah kafe kecil merangkap ruang acara di lantai dua ruko. Dari luar, tempat itu terlihat seperti tempat yang hangat: lampu kuning, tanaman plastik, tulisan tangan di kaca, dan papan kecil bertuliskan tonight: remembering ezra.
Nara berhenti di depan kaca.
Poster yang sama ditempel di pintu.
Wajah Ezra ada di sana, diam, difilter menjadi lebih lembut dari yang pernah ia lihat semasa hidupnya.
Di dalam, beberapa orang sudah berkumpul. Ada yang memakai pakaian hitam. Ada yang membawa bunga. Ada yang berdiri dekat meja registrasi sambil menanyakan apakah santusan bisa lewat QR.
Mira datang lima menit kemudian dengan napas pendek dan rambut diikat asal.
“Gue hampir balik,” katanya.
“Kenapa tetap datang?”
“Karena lo.”
Mereka masuk bersama.
Ruangan itu terlalu dingin. Di sudut depan ada mikrofon berdiri, proyektor, dan layar putih kecil. Di meja dekat pintu, seseorang menaruh tisu wajah, lilin elektrik, dan kartu-kartu kosong untuk menulis pesan terakhir.
“Pesan terakhir,” gumam Mira. “Kayak kita semua sempat punya pesan pertama aja.”
Nara mengambil satu kartu.
Kosong.
Ia tidak menulis apa-apa.
Seorang laki-laki bernama Aldo, yang dulu pernah satu proyek dengan Ezra selama tiga minggu, membuka acara. Ia memakai kemeja hitam dan wajah yang seriusnya terasa dilatih di depan kaca.
“Malam ini kita berkumpul bukan untuk bersedih,” katanya ke mikrofon, “tapi untuk merayakan hidup Ezra.”
Mira berbisik, “Kalau ada yang bilang merayakan hidup, biasanya dia nggak tahu dia harus ngomong apa.”
Nara menahan napas agar tidak tertawa.
Acara dimulai dengan slideshow foto.
Ezra di rooftop.
Ezra di warung sate.
Ezra tidur di sofa kantor.
Ezra memakai helm terlalu besar.
Ezra tertawa di foto yang terlihat buram.
Beberapa orang tersenyum.
Beberapa merekam layar dengan ponsel.
Nara memperhatikan foto-foto itu berpindah satu per satu. Ada banyak Ezra di sana, tapi tidak satu pun terasa utuh.
Lalu muncul foto yang salah.