Nara berdiri di depan pintu apartemennya selama hampir satu menit penuh sebelum memasukkan kunci.
Di dalam, udara terasa pengap dan asing, seolah ruangan itu sudah tidak mengenali pemiliknya. Lampu dapur masih menyala kekuningan seperti yang ia tinggalkan pagi tadi. Gelas kopi instan bekas masih berada di meja lipat yang goyah. Cucian yang sudah kering sejak kemarin pagi masih tergantung di balkon kecil.
Ia meletakkan kantong pakaian dari laundry di lantai, lalu duduk di tepi ranjang tanpa melepas sepatu.
Jam menunjukkan 00.47.
Biasanya pada jam ini ia sudah mematikan lampu dan berusaha tidur sambil mendengarkan suara kota dari jendela yang bocor. Malam ini, tubuhnya justru terasa terlalu hidup. Jantungnya berdetak terlalu jelas. Pikirannya terlalu rapi.
Ia berdiri, membuka lemari pakaian, dan mulai merapikan baju yang sudah rapi. Lalu membuka laci meja, mengeluarkan semua kabel charger yang kusut, dan mencoba melilitkannya dengan rapi. Setelah itu ia membersihkan meja dapur dengan kain lap yang sudah kotor. Lalu membersihkan kamar mandi. Lalu mengelap lantai apartemen yang sebenarnya tidak terlalu kotor.
Semakin ia membersihkan, semakin ia merasa kotor.
Pukul 02.15, ia duduk di lantai tengah ruangan dengan tangan penuh debu dan keringat dingin di punggung. Apartemennya sekarang terlihat lebih bersih daripada biasanya, tapi rasanya semakin asing.
Ponselnya bergetar di ranjang.
Dari Mira:
Lo udah tidur?
Nara menatap pesan itu lama sebelum membalas.