Pagi berikutnya, langit Jakarta terlihat seperti logam yang sudah lama tidak digosok.
Nara duduk di lantai apartemen dengan laptop terbuka di pangkuannya. Layar menyala terang, menyinari wajahnya yang pucat. Di tab browser, akun Ezra masih terbuka — foto profil yang sama, highlight story yang belum dihapus, dan tulisan “Last active 47 days ago” yang kini terasa seperti lelucon buruk.
Ia mulai membersihkan.
Satu per satu, ia menghapus chat mereka. Bukan karena marah. Bukan karena ingin melupakan. Hanya karena ia ingin tahu apakah rasa kosong itu akan berkurang kalau tidak ada lagi bukti bahwa pernah ada seseorang yang memanggilnya “Ra” dengan nada malas-malasan.
“Nanti kabarin kalau jadi.”
Delete.
“hidup lucu juga ya”
Delete.
Voice note dua menit tiga belas detik yang tak pernah ia dengar.
Delete.