Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #18

Kembali ke Rutinitas

Pagi itu, Nara kembali ke kantor seperti orang yang memasuki mimpi buruk yang sudah sangat familiar.

Lift naik ke lantai delapan dengan suara dengung yang sama seperti biasanya. Bau kopi instan dan parfum murah menyambutnya di koridor. Beberapa rekan kerja tersenyum sekilas — senyum yang terlatih, senyum yang bilang, “Kami tahu kamu kehilangan teman, tapi kami juga punya deadline.”

Mejanya masih sama. Monitor mati. Sticky note kuning masih menempel miring. Tanaman kecil di sudut meja sudah lebih kuning dari terakhir ia lihat.

Kevin muncul di samping mejanya sebelum Nara sempat duduk.

“Ra, welcome back,” katanya dengan nada hati-hati yang terlalu kentara. “Lo… oke?”

Nara mengangguk sekali. “Oke kok.”

Kevin sepertinya ingin mengatakan sesuatu yang lebih dalam, tapi akhirnya hanya menepuk bahu Nara pelan — gerakan yang canggung, seperti menyentuh sesuatu yang mudah pecah.

“Meeting MindEase jam sepuluh. Lo ikut ya.”

Nara tidak menjawab. Ia hanya membuka laptopnya.

Sepanjang pagi, ia merasa seperti hantu yang sedang berpura-pura menjadi manusia. Orang-orang berbicara di sekitarnya — tentang KPI, tentang client yang rewel, tentang campaign baru yang harus “lebih human”. Kata-kata itu melayang di udara seperti asap rokok yang tidak ada yang mengaku merokok.

Di meeting room yang terlalu dingin, Clarissa dari pihak klien muncul di layar besar dengan senyum profesionalnya.

“Kita perlu lebih banyak konten tentang resilience,” katanya. “Orang sekarang suka cerita yang menginspirasi setelah mereka jatuh.”

Nara menatap slide di depannya.

Lihat selengkapnya