Bau lembap muncul dari langit-langit apartemen Nara pukul dua lewat sebelas dini hari.
Awalnya samar.
Seperti kain basah yang lupa dijemur.
Lalu air mulai menetes dari sudut dekat lemari.
Satu tetes.
Dua tetes.
Lalu lebih cepat.
Nara berdiri di tengah kamar dengan baskom plastik di tangan, menatap plafon yang mulai menguning seperti kulit tua.
Dari grup penghuni apartemen, pesan masuk berturut-turut.
Dari penghuni 1006:
Air bocor dari atas juga. Ada yang tahu unit 1107 punya siapa?
Dari penghuni 1010:
Security udah naik.
Dari penghuni 1004:
Ini tiap bulan maintenance mahal tapi bocor terus.
Nara memakai jaket, mengambil kunci, lalu keluar.
Lorong lantai tiga belas dingin dan panjang. Lampu putih berkedip pelan di ujung dekat tangga darurat. Karpetnya basah sedikit di depan unit 1107.
Dua petugas keamanan sudah berdiri di sana bersama teknisi gedung.
“Penghuninya nggak angkat telepon?” tanya Nara.
Security yang lebih tua menggeleng. “Sudah tiga kali.”
“Orangnya ada di dalam?”
“Belum tahu.”
Kalimat itu membuat lorong mendadak terasa lebih sempit.
Beberapa penghuni lain mulai keluar dari unit masing-masing. Ada yang masih memakai piyama. Ada yang membawa handuk. Ada yang merekam sebentar sebelum ditegur teknisi.
“Jangan divideoin dulu, Bu.”
“Iya, cuma buat bukti.”
“Bukti nanti saja.”
Teknisi membuka pintu unit 1107 dengan kunci cadangan dari pengelola.
Begitu pintu terbuka, bau lembap keluar lebih dulu.
Bukan bau busuk.
Tapi bau ruangan yang terlalu lama tertutup.
Lampu dinyalakan.
Unit itu kosong dari manusia.
Namun tidak kosong dari hidup.
Ada rak sepatu berdebu. Payung hitam di sudut pintu. Kalender tahun lalu masih tergantung di dinding. Tiga paket belum dibuka menumpuk dekat meja makan. Di lantai dapur, air mengalir pelan dari selang mesin cuci yang lepas.
Teknisi langsung masuk mematikan kran.
“Cuma selang,” katanya. “Untung bukan orangnya.”
Tidak ada yang tertawa.
Seorang ibu dari unit sebelah berbisik, “Saya kira kenapa-kenapa.”
Nara berdiri di ambang pintu.
Ia tidak mengenal penghuni kamar itu.
Mungkin pernah berpapasan di lift.
Mungkin pernah berdiri bersebelahan di depan kotak surat.
Mungkin pernah saling menahan pintu tanpa menatap wajah.
Di apartemen, manusia bisa tinggal bertahun-tahun hanya sebagai nomor unit.
“Penghuninya siapa?” tanya Nara.
Security melihat catatan di ponsel. “Namanya Salma. Terakhir akses kartu kemarin sore.”
“Berarti orangnya nggak di dalam?”
“Sepertinya nggak.”
Seorang pria muda dari unit 1109 menimpali, “Dia sering pulang malam. Kerja di rumah sakit kayaknya.”
“Kenal?” tanya teknisi.
“Enggak. Cuma sering lihat pakai seragam aja.”
Jawaban itu terasa cukup untuk zaman sekarang.
Sering lihat.
Tidak kenal.
Teknisi membereskan selang. Air mulai berhenti mengalir. Namun lantai masih basah. Paket-paket di dekat meja sudah lembek di bagian bawah.
Security mengambil foto untuk laporan.
Klik.
Klik.
Klik.
Suara kamera terdengar terlalu keras di ruang asing itu.
Nara melihat meja makan kecil di dekat jendela.