Sabtu siang, Mira menyeret Nara ke pusat perbelanjaan tanpa memberi alasan yang jelas.
Dari Mira:
Lo kosong nggak?
Nara membalas:
Kenapa?
Dari Mira:
Temenin gue beli sepatu. Sebelum gue impulsive beli air fryer lagi.
Nara hampir menolak.
Tapi akhirnya tetap datang.
Mall itu penuh seperti semua orang di Jakarta tiba-tiba memutuskan untuk keluar rumah di hari yang sama. Musik dari toko pakaian bercampur dengan suara anak kecil menangis dan pengumuman diskon dari lantai bawah.
Mira berjalan cepat di depan sambil membawa tote bag hitam besar yang sudah setengah terbuka resletingnya.
“Kenapa harus Sabtu?” tanya Nara.
“Karena kalau sendiri gue bisa beli barang buat mengisi kehampaan.”
“Air fryer termasuk?”
“Jangan meremehkan kemampuan manusia menggoreng frozen food untuk mengatasi trauma.”
Nara tertawa kecil.
Mira menoleh cepat. “Nah. Gitu. Ketawa dikit.”
Mereka masuk ke toko sepatu yang terlalu terang.
Seorang pegawai langsung mendekat dengan senyum otomatis.
“Kak, lagi cari apa?”
“Kepribadian baru,” jawab Mira cepat.
Pegawai itu tertawa sopan meski jelas tidak yakin itu bercanda.
Nara duduk di bangku kecil dekat cermin sementara Mira mencoba sepatu satu per satu dengan tingkat keseriusan seperti sedang memilih jalan hidup.
“Yang ini bikin gue kelihatan punya tabungan nggak?”
“Enggak.”
“Yang ini?”
“Kelihatan punya utang.”
“Bagus berarti realistis.”
Di depan toko, orang-orang lewat terus tanpa benar-benar melihat satu sama lain.
Tas belanja.
Kopi literan.
Anak kecil tidur di stroller.
Pasangan bertengkar pelan soal makan siang.
Orang tua memotret anaknya di depan dekorasi musiman yang bahkan tidak terlalu bagus.
Mira akhirnya duduk di sebelah Nara sambil melepas sepatu ketiga belas yang ia coba.
“Capek,” katanya.
“Lo sendiri yang muter tiga lantai.”
Mira menyandarkan kepala ke cermin belakang.
“Aneh ya.”
“Apa?”
“Dulu gue pikir kalau punya uang sendiri hidup bakal lebih jelas arahnya.”
Nara melihat pantulan mereka di cermin.
Lampu toko membuat semua orang terlihat sedikit lebih sehat daripada kenyataannya.
“Terus?”
“Sekarang gue bisa beli apa aja kecil-kecil.” Mira memainkan kotak sepatu di pangkuannya. “Tapi tetap aja tiap malam rasanya kayak ada yang kurang.”
Nara tidak langsung menjawab.
Karena beberapa jenis kalimat tidak perlu ditenangkan cepat-cepat.
Ponsel Mira berbunyi.
Ia melihat layar lalu mendesah.