Tentang Manusia

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #22

Klinik Pukul Dua Pagi

Nara muntah di wastafel kantor pukul 23.46.

Tidak banyak.

Hanya kopi, asam lambung, dan sisa roti yang ia makan sambil berdiri di pantry sore tadi.

Ia menyalakan keran, membiarkan air mengalir beberapa detik, lalu mencuci mulutnya pelan-pelan. Di cermin toilet, wajahnya terlihat seperti orang yang terlambat menyadari tubuhnya sendiri sudah lama mengirim peringatan.

Ponselnya bergetar di saku.

Dari Kevin:

Deck udah aman. Lo balik aja.

Nara membaca pesan itu.

Lalu mengetik:

Iya.

Ia tidak menambahkan terima kasih.

Malam di luar gedung terasa basah dan lengang. Ojek online yang ia pesan berhenti di depan lobi dengan jaket hujan setengah terbuka.

“Mbak sehat?” tanya pengemudi ketika Nara naik.

“Sehat.”

Jawaban itu keluar terlalu otomatis.

Pengemudi itu tidak bertanya lagi.

Di tengah perjalanan, perut Nara melilit lagi. Ia meminta berhenti di depan klinik 24 jam yang masih menyala di deretan ruko kecil dekat jalan layang.

Lampu papan namanya berkedip pelan:

Klinik Medika Jaya 24 Jam

Huruf J pada kata Jaya hampir mati.

Di dalam, ruang tunggunya kecil dan terlalu terang.

Ada lima orang menunggu.

Seorang ibu memeluk anak demam. Seorang pria tua batuk ke saputangan. Dua pegawai restoran cepat saji duduk masih memakai seragam, satu memegang pergelangan tangannya yang dibalut kain. Di sudut, seorang perempuan muda tertidur sambil menunduk, nomor antrean terjepit di jarinya.

Nara mengambil nomor. 27.

Di layar, nomor yang dipanggil: 21.

Ia duduk di kursi plastik dekat dispenser kosong.

Televisi di atas dinding menayangkan iklan obat maag dengan suara nyaris habis. Seorang aktor tersenyum setelah minum sirup merah muda, seolah semua yang terbakar di dalam tubuh manusia bisa diselesaikan dalam tiga detik.

Nara menutup mata.

Perutnya masih nyeri.

Bukan sakit yang besar. Lebih seperti tubuh yang mengetuk pintu dari dalam setelah terlalu lama diabaikan.

Ponselnya bergetar.

Dari Mira:

Lo udah pulang?

Nara tidak langsung membalas.

Lalu mengetik:

Di klinik.

Balasan Mira datang cepat.

Dari Mira:

KENAPA?

Nara hampir tersenyum melihat huruf kapital itu.

Maag. Kayaknya.

Dari Mira:

Lo makan apa hari ini?

Nara mencoba mengingat.

Kopi.

Roti.

Kopi lagi.

Sedikit nasi kotak yang ia tinggalkan separuh.

Ia tidak membalas.

Dari Mira:

Jawaban lo lama berarti buruk.

Nara mengetik:

Jangan ceramah.

Lihat selengkapnya