Mereka bertemu lagi hari Kamis malam di warung ramen kecil dekat kantor lama Ezra.
Bukan karena ada yang mengajak dengan sungguh-sungguh.
Awalnya hanya pesan pendek dari Mira:
Bima ulang tahun hari ini.
Lalu:
Kayaknya dia lupa.
Nara membaca pesan itu beberapa detik.
Kemudian membalas:
Jam berapa?
Warung itu sempit, hangat, dan penuh uap kaldu. Meja kayunya lengket sedikit di bagian pinggir. Lagu Jepang lama diputar terlalu pelan dari speaker dekat kasir.
Bima sudah datang duluan ketika Nara masuk.
Ia duduk membungkuk sambil melihat ponselnya tanpa benar-benar fokus membaca apa pun.
“Happy birthday,” kata Nara sambil duduk.
Bima mengangkat kepala seperti baru ingat hari itu memang miliknya.
“Oh.”
“Itu respons paling menyedihkan buat ulang tahun.”
“Lupa.”
Nara meletakkan kantong plastik kecil di meja.
“Apa ini?”
“Obat lambung.”
Bima tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.
“Romantis banget.”
“Jangan salah artikan.”
Mira datang lima menit kemudian sambil membawa payung basah dan napas pendek.
“Sorry macet.”
Ia duduk di sebelah Bima, lalu langsung melihat kantong plastik di meja.
“Lo dikasih apa?”
“Antasida.”
Mira menatap Nara datar. “Kalian memang generasi yang kehilangan kemampuan romantis.”
“Dia sakit.”
“Orang normal kasih cake.”
“Gue juga beli itu tadi,” kata Bima tiba-tiba.
“Hah?”
Bima menunjuk kulkas kecil dekat kasir. “Ada cheesecake mini di situ.”
Mira langsung tertawa keras.
“Lo beli cake buat ulang tahun sendiri?”
Bima mengangkat bahu. “Diskon.”
Pelayan datang membawa menu.
Tidak ada yang langsung membuka.
Di luar, hujan turun lagi membasahi kaca depan warung sampai lampu jalan terlihat kabur.
“Aneh ya,” kata Mira sambil melepas jam tangan. “Dulu kita sering banget nongkrong bertiga, tapi nggak pernah sadar kapan terakhir kalinya.”
“Karena waktu itu belum terasa terakhir,” jawab Bima.
Kalimat itu jatuh begitu saja di tengah meja.
Tidak dramatis.
Tapi cukup membuat mereka diam beberapa detik.
Pelayan kembali datang.
Mereka akhirnya memesan:
dua ramen pedas,
satu ramen biasa,
gyoza,
dan teh dingin yang terlalu manis.
Ketika pelayan pergi, Mira melihat Bima sebentar.
“Bokap lo gimana?”